Virus Corona

Rencana Karantina Wilayah DKI, Syafrin Liputo Sebut Semua Kendaraan Dilarang Melintas Kecuali Ini

Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Claudia Noventa
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo dalam saluran YouTube metrotvnews, Senin (30/3/2020).

TRIBUNWOW.COM - Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo mengungkap wacana karantina wilayah yang bakal dilakukan di Ibu Kota.

Dilansir TribunWow.com, Syafrin Liputo menyebut jika karantina wilayah dilakukan maka pihaknya akan melarang kendaraan pribadi dan umum melintas di wilayah DKI Jakarta.

Yang boleh melintas menurutnya hanyalah mobil logistik yang akan menyuplai kebutuhan pokok warga DKI Jakarta.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo dalam tayangan YouTube metrotvnews, Senin (30/3/2020). (YouTube metrotvnews)

Ambil Tindakan Pencegahan Virus Corona, KAI Batalkan 28 Rute Perjalanan, Air Asia Tutup Penerbangan

Banyak Dokter yang Meninggal karena Corona, Ari Fahrial Anggap Social Distancing Tak Efektif

Pernyataan itu disampaikan Syafrin Liputo melalui tayangan YouTube metrotvnews, Senin (30/3/2020).

"Otomatis dengan kajian kami tadi bahwa untuk kendaraan pribadi, roda dua, roda empat itu dilarang," ucap Syafrin.

"Yang boleh itu hanya angkutan logistik karena memang ini terkait dengan kebutuhan masyarakat yang ada di dalam wilayah."

Meskipun begitu, Syafrin menegaskan segala kebijakan transportasi di DKI Jakarta tak akan berubah, sesuai dengan masa darurat yang disampaikan Gubernur Anies Baswedan.

"Untuk kebijakan transportasi di dalam Jakarta sebagaimana kita ketahui setelah ditetapkan Pak Gubernur bahwa masa tanggap darurat diperpanjang sampai tanggal 19 April (2020)," jelas Syafrin.

Tak hanya dari pembatasan jumlah armada, jam operasionalnya pun tak akan berubah hingga diberlakukan kebijakan yang baru.

"Maka kebijakan transprotasi Jakarta menyesuaikan, pembatasan waktu operasional angkutan umum Jakarta juga sama tetap menjadi jam 06.00 sampai dengan jam 20.00 WIB," imbuhnya.

Tak hanya itu, kebijakan ditiadakannya ganjil genap di sejumlah wilayah DKI Jakarta juga akan tetap berlangsung hingga waktu yang belum ditentukan.

Raja Thailand Asingkan Diri dengan 20 Selir di Hotel saat Virus Corona Serang Ribuan Warganya

Syafrin menjelaskan, hingga kini belum ada sanksi yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk pelanggar kebijakan tersebut.

"Baik itu MRT, LRT, TransJakarta dan juga ada layanan kereta api bandara, begitu juga untuk kebijakan ganjil genap selama masa tanggap darurat ini juga kami tiadakan," ucap Syafrin.

"Baik, sampai saat ini untuk sanksi tidak kita lakukan."

Ia mengklaim, pemerintah menginginkan warganya sadar untuk menjaga diri dari paparan Virus Corona.

Terkait hal itu, Syafrin lantas menyinggung soal imbauan jaga jarak dan tinggal di dalam rumah yang disampaikan oleh pemerintah.

"Perlu dipahami bahwa untuk penanganan Corona ini adalah kita harapkan ada kesadaran masyarakat," kata Syafrin.

"Karena virus ini pola penyebarannya adalah dengan adanya kedekatan satu dengan lain orang."

Hal itu lah yang menurutnya mendasari kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang tak memberikan sanksi pada para pelanggar imbauan.

Sebab, menurutnya menjada diri dari Virus Corona menjadi tanggung jawab semua masyarakat.

"Ini yang kita harapkan bisa dilakukan sehingga ada tanggungjawab pribadi dari masing-masing warga kita untuk menjaga ini sehingga bisa melakukan upaya bersama memutus mata rantai penyebaran Corona," tukasnya.

Update Kasus Virus Corona di Kabupaten Bogor: 2 Orang Dinyatakan Sembuh, ODP Capai 483 Orang

Simak video berikut ini menit ke-12.37:

Banyak Pasien 'Dilempar-lempar'

Di sisi lain, sebelumnya Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Prof Ari Fahrial Syam blak-blakan menyoroti jumlah dokter yang tewas akibat tertular Virus Corona. 

Dilansir TribunWow.com, Ari Fahrial bahkan mengaku hampir setiap hari mendengar ada rekan seprofesinya yang tewas saat melaksanakan tugas merawan pasien yang positif Virus Corona.

Ia lantas menyinggung tingkat kematian akibat Virus Corona di Indonesia yang sudah mencapai lebih dari 8 persen.

• Kondisi Terkini Suspect Corona di Solo yang Sempat Rewang Tetangga, Kini Dinyatakan Sembuh

Pernyataan tersebut disampaikan Ari Fahrian melalui sambungan telepon dalam kanal YouTube Talk Show tvOne, Sabtu (28/3/2020).

"Kita memang menghadapai situasi pandemik global Covid-19 yang mana angka psikologis jumlah kasusnya di Indonesia sudah menembus angka 1.000," ucap Ari.

"Jumlah yang meninggal juga di atas 100, angka kematian kita di atas 8 persen."

Tak hanya itu, Ari mengaku setiap hari mendengar kabar kematian tenaga medis saat menangani pasien Virus Corona.

Ia menyatakan adanya peluang tenaga medis tertular Virus Corona dari pasien yang tengah ditangani.

"Dan ini terjadi karena transmisi lokal, jadi tertularnya antar orang. Kami setiap hari mendengar ada dokter yang meninggal," kata Ari.

"Jadi dokter dan petugas kesehatan yang berhadapan langsung dengan pasien itu juga bisa tertular langsung dari pasien."

Melihat penanganan Virus Corona, Ari menyebut Indonesia kini dalam kondisi yang mencemaskan.

• Ini Daftar Kota dan Wilayah Indonesia yang Umumkan Local Lockdown Cegah Virus Corona Covid-19

Khususnya, di wilayah DKI Jakarta yang memiliki tingkat kematian tertinggi akibat Virus Corona.

"Jadi ini kondisi yang memang mencemaskan, khususnya untuk Jakarta," ujar Ari.

Menurut Ari, bahkan ada pasien yang terpaksa dipindahkan ke sejumlah rumah sakit karena keterbatasan fasilitas.

Akibatnya, banyak pasien yang dinyatakan tewas sebelum mendapat penanganan maksimal.

"Kita bisa lihat bahwa ada juga cerita-cerita di mana ada pasien karena memang ruang-ruang rawat di rumah sakit rujukan udah penuh," kata dia.

"Akhirnya pasien dilempar-lempar, akhirnya sampai di rumah sakit rujukan juga sudah terlambat."

"Jadi hasil evaluasi dari teman-teman mengenai angka kematian ini adalah terlambatnya pasien datang ke rumah sakit,' sambungnya.

Melihat kondisi tersebut, Ari lantas menilai imbauan Jokowi soal social distancing tak efektif untuk menekan penularan Virus Corona.

"Jadi imbauan Pak Presiden sudah disampaikan 10 hari yang lalu, tampaknya ya tidak efektif," tukasnya. (TribunWow.com/Jayanti Tri Utami)