Virus Corona

Virus Corona Diprediksi akan Berakhir di Bulan Mei, Ini Penjelasan dari Ahli

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Warga Wuhan mencari pertolongan medis untuk mengantisipasi wabah Virus Corona, Minggu (26/1/2020)

TRIBUNWOW.COM - Virus Corona masih jadi momok yang menakutkan bagi warga negara China, juga dunia.

Virus mematikan yang belum ada obatnya tersebut terbukti menjadi wabah yang merenggut ratusan korban jiwa.

Namun penelitian terbaru dari para ahli menyebutkan, Virus yang disinyalir muncul pertama kali di Wuhan, China tersebut akan hilang pada Mei 2020.

"Kasus-kasus infeksi virus corona mungkin turun tajam pada bulan Mei 2020, ketika suhu di China memanas," kata Dr Jyoti Somani dan Profesor Paul Tambyah, dilansir dari CNA, Kamis (6/2/2020).

Dalam penjelasannya menyebutkan bahwa pola musiman pneumonia Virus Corona baru mungkin mirip dengan infeksi influenza dan SARS.

Dengan demikian kasus-kasus dapat turun tajam pada bulan Mei, ketika suhu di China memanas, sehingga dapat dikatakan penyebarannya tergantung dengan iklim.

Pengamat Intelejen Soleman Ponto Ungkap Bahaya Jika Eks ISIS Pulang: Kalau Virus Corona Bisa Dicek

Di negara-negara dengan iklim sedang seperti China dan Amerika Serikat, musim flu biasanya dimulai pada bulan Desember dengan puncaknya pada bulan Januari atau Februari, setelah itu kasus berkurang.

SARS menghilang di musim panas utara tahun 2003 dan tidak muncul lagi secara signifikan sejak itu.

Faktor manusia juga dapat berkontribusi terhadap penyebaran influenza selama musim dingin karena lebih banyak waktu dapat dihabiskan di dalam ruangan, mungkin dalam hubungan yang lebih dekat dengan orang lain.

Studi yang dilakukan bertahun-tahun lalu menunjukkan bahwa virus corona "biasa" (yang merupakan salah satu penyebab flu biasa) dapat bertahan di permukaan 30 kali lebih lama di tempat-tempat dengan suhu 6 derajat Celcius.

Namun tak bertahan lama jika berada di tempat-tempat yang suhunya 20 derajat Celcius dan tingkat kelembaban tinggi.

VIDEO Rekaman Tersembunyi RS di Wuhan, Perekam Saksikan Mayat karena Virus Corona sebelum Ditangkap

Baru-baru ini, para ilmuwan dari Universitas Hong Kong (HKU) termasuk Profesor Malik Peiris dan Profesor Seto Wing Hong menunjukkan bahwa suhu rendah dan kelembaban relatif yang rendah memungkinkan virus SARS bertahan lebih lama daripada suhu dan kelembaban tinggi.

Tim HKU berpendapat bahwa ini mungkin alasan mengapa negara-negara Asia Tenggara yang hangat dan lembab tidak memiliki wabah SARS, tidak seperti Hong Kong dan Singapura.

Jadi, seperti halnya dengan influenza, 2019-nCoV dapat melambat ketika matahari mulai bersinar lebih banyak dan cuaca menghangat di negara-negara beriklim sedang dan subtropis.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati) 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Para Ahli Prediksi Virus Corona akan Hilang pada Mei 2020 karena Musim Panas, Ini Penjelasannya".