TRIBUNWOW.COM - Pengamat Politik Rocky Gerung menilai ada begitu banyak kebohongan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dilansir TribunWow.com, Rocky Gerung menilai kebohongan pemerintahan Jokowi bahkan sudah terjadi sejak Pemilu 2019 lalu.
Selama menjabat sebagai presiden, Jokowi disebutnya banyak dikenadalikan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.
Hal itu disampaikan melalui tayangan Rocky Gerung Official, Senin (3/2/2020).
• Yakin Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Bakal Gagal, Rocky Gerung: Lebih Baik Pindahkan Presiden
• Ungkit Pemindahan Ibu Kota, Rocky Gerung Ungkap Cara Jokowi Raih Dukungan, Singgung Banjir Jakarta
Menurut Rocky, keadilan tak pernah ditegakkan di era Jokowi.
Bahkan, ia menyebut keadilan itu hanya ditegakkan jika ada instruksi dari penguasa.
"Itu yang terjadi selama pemerintahan Pak Jokowi," kata Rocky.
"Bahwa justice itu, keadilan itu bukan konsepsi etis lagi tapi instruksi kekuasaan."
Lantas, Rocky pun menyebut kepercayaan publik pada pemerintahan Jokowi sudah hilang.
Hal itu merupakan dampak dari tidak adanya keadilan dan banyaknya kebohongan yang terjadi di era pemerintahan mantan wali kota Solo itu.
"Jadi kalau terjadi hal semacam itu orang mau cari keadilan tapi menunggu perintah politik itu tanda pertama bahwa ada yang decaying di dalam kekuasaan," ujarnya.
"Ada yang membusuk di situ karena orang bukan sekedar kehilangan trust tapi menganggap bahwa terlalu banyak kekurangan, terlalu banyak kebohongan."
Lebih lanjut, Rocky pun menyinggung soal Pemilu 2019 lalu.
• Sebut Kemungkinan Jokowi Pecat Yasonna Laoly, Rocky Gerung Nilai Ucapan Menkumham Layaknya Dagelan
Menurutnya, kebohongan pemerintahan Jokowi sudah tampak dari hasil Pemilu.
"Dan orang akan kaitkan dengan kebohongan awal yaitu perolehan suara waktu pemilu kan," kata dia.
"Jadi semua itu akan berpulminasi pada delegitimasi, sialnya kan begitu kan, itu enggak bisa dicegah. "
Terkait hal itu, Rocky secara terang-terangan menyebut pemerintahan Jokowi sudah 'keropos'.
"Karena enggak ada cara lain untuk mengatakan bahwa kekuasaan memang sudah keropos," tegas Rocky.
Lebih lanjut, Rocky menyinggung soal pemindahan ibu kota ke Pulau Kalimantan.
Menurutnya, dibandingkan ibu kota, Jokowi lebih layak untuk dipindahkan.
Hal itu berkaitan dengan banyaknya pihak-pihak yang mengendalikan presiden.
"Jadi ini saatnya bukan memindahkan ibu kota tapi memindahkan kepala negara ke tempat yang mungkin sebagai suaka politik sebentar supaya dia bisa ambil jarak dengan kelompok koalisinya," ujar Rocky.
"Mudah-mudahan dia bisa balik, presiden bisa tahu bahwa dia sebetulnya dikendalikan oleh berbagai macam kepentingan."
Hal itu lah yang menurut Rocky menyebabkan Jokowi tak mampu meyakinkan publik, apapun kebijakan yang diambil.
"Sehingga dia enggak punya kemampuan untuk mengucapkan sesuatu yang membuat publik percaya bahwa dia kepala negara," tutup Rocky.
Simak video berikut ini menit ke-9.06:
Jokowi Manfaatkan Momentum Banjir
Pada kesempatan itu, sebelumnya Rocky Gerung mengungkit kembali keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memindahkan ibu kota ke Pulau Kalimantan.
Dilansir TribunWow.com, Rocky Gerung menyebut keputusan memindahkan ibu kota itu tak akan menyurutkan banjir di Jakarta.
Rocky Gerung menyebut Jokowi bahkan memanfaatkan momentum banjir di Jakarta untuk membuat publik setuju soal pemindahan ibu kota.
• Rocky Gerung Sebut Konspirasi Kekuasaan dalam Kasus Harun Masiku, Singgung Jokowi hingga Menkumham
Karena itu, menurutnya ada indikasi pemindahan ibu kota itu akan gagal dilakukan.
"Setelah seluruh janjinya gagal maka dia akan tinggalkan janji legacy dia yaitu ibu kota," ucap Rocky.
"Jadi gairahnya berlebih gitu, nanti pas dipindah itu seolah-olah Firdaus ada di situ."
Menurut Rocky, masalah dana bisa menjadi kendala dalam pemindahan ibu kota ke Pulau Kalimantan.
"Padahal kita tahu bahwa soal pindah ibu kota gagasannya bisa sangat mulia," ucapnya.
"Tapi problem-nya kan anggaran."
Bahkan, ia menyebut kendala tersebut bisa membatalkan pemindahan ibu kota yang kini masih dalam proses pengerjaan itu batal dilakukan.
"Saya sebut dengan kalimat seluruh arogansi ide dari presiden, seluruh bayangan besar presiden itu," ujar Rocky.
"Atau sebut saja seluruh ambisi politik dia untuk pindahin ibu kota akan dibatalkan oleh APBN."
Terkait hal itu, Rocky pun menyinggung soal investasi yang diberikan United Emirat Arab (UEA) ke Indonesia.
Menurut Rocky, investasi tersebut hanyalah basa-basi belaka.
"Kan itu masalahnya kan, tapi dia bisa bilang 'Bisa pakai skema yang lain'," ujar dia.
"Ya tentu aja semua orang akan iyain itu, 'Oke akan kita bantu mou' dan segala macam."
Lebih lanjut, Rocky pun menyinggung nama Menteri Keuangan Sri Mulyani.
• Sayangkan Jokowi Tak Pecat dan Malah Maafkan Yasonna Laoly, Rocky Gerung: Berbahaya
Ia menyebut pernyataan Sri Mulyani membuktikan kurangnya dana yang dimiliki pemerintah untuk memindahkan ibu kota.
"Tapi Sri Mulyani bilang itu paling enggak 20 persen masih pakai APBN," ucap Rocky.
"Sekarang problem-nya dari mana dapatnya?"
Lebih lanjut, Rocky menilai Jokowi memanfaatkan momentum banjir untuk memperoleh kepercayaan publik soal pemindahan ibu kota.
"Jadi pencitraan itu dimaksimalkan presiden dan presiden selalu mencari momentum untuk menghipnotis publik supaya percaya," ucapnya.
"Termasuk momentum banjir ini nih."
(TribunWow.com)