TRIBUNWOW.COM - Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid memberikan imbauannya untuk Kepala Badan Keamanan Laut (Kabakamla), Achmad Taufiqoerrochman.
Dilansir TribunWow.com, Meutya Hafid sempat mengajukan protes saat Achmad Taufiqoerrochman menjelaskan soal konflik di perairan Natuna.
Meutya Hafid merasa apa yang disampaikan Achmad Taufiqoerrochman tak seharusnya disampaikan ke hadapan publik.
Hal itu disampaikan saat keduanya menjadi bintang tamu dalam tayangan Mata Najwa, Rabu (8/1/2020).
• Mahfud MD Ungkap 2 Tugas yang Diberikan Jokowi Selesaikan Polemik Natuna: 470 Kapal Siap Berangkat
• Nelayan Cerita Pernah Diusir Kapal China dengan Cara Dipepet: Itu Natuna Utara, Kok Saya Diusir?
Mulanya, Taufiqoerrochman mengaku Bakamla sudah berusaha menghalau kapal China yang memasuki perairan Natuna.
Diketahui, China mengklaim kepemilikan perairan Natuna dan mengambil sumber daya alam dari wilayah tersebut.
"Jadi sejak November saya sudah menggalang kekuatan di sana (Natuna)," ujar Taufiqoerrochman.
"Karena saya sudah memperkirakan akan ada pergerakan dari utara karena musim dingin."
Taufiqoerrochman menjelaskan, pada Desember 2019 lalu, Bakamla bahkan telah berhasil mengusir kapal China yang memasuki wilayah Natuna tanpa izin.
"10 Desember 2019 saya sudah mendapatkan informasi," kata Taufiqoerrochman.
"Maka 19 Desember 2019 kita cegat di sana, (kapal China) itu sudah mulai keluar mereka karena tahu kita ada di sana."
Ia menambahkan, kapal China yang berhasil diusir Bakamla itu justru kembali lagi ke perairan Natuna.
Taufiqoerrochman menduga, justru pemerintah China yang memerintahkan kapal-kapal tersebut melewati dan mengambil ikan tanpa izin.
"Tapi kira-kira, saya juaga pernah di lapangan seperti itu, dia (kapal China) laporan 'Saya ketemu coast guard Indonesia'," ucap Taufiqoerrochman.
"Terus perintahnya apa? 24 Desember 2019 dia kembali lagi (ke Natuna)," imbuhnya.
Menurut Taufiqoerrochman, hal itulah yang membuat kapal China tetap bertahan di perairan Natuna meskipun sudah dihalau berkali-kali.
"Kira-kira kan 'Lanjutkan', di situlah dia (kapal China) akan bertahan di situ (Natuna)," ucapnya.
"Kita juga bertahan di situ (Natuna)."
• Nelayan Pantura Cerita Bentrok Fisik dengan Kapal Asing di Natuna, Lempar Botol hingga Bakar-bakaran
Mendengar penjelasan Taufiqoerrochman, Meutya Hafid langsung angkat bicara.
Meutya Hafid bahkan memprotes pernyataan Taufiqoerrochman itu.
"Ini Kepala Bakamla kan? Kan tugasnya bukan menjelaskan versi Tiongkok nine dash line itu apa," ujar Meutya.
"Saya protes sebagai mitra Ketua Komisi 1 (DPR RI)."
Meutya menganggap, Bakamla bertugas untuk menjaga keamanan laut di Indonesia.
Bukan justru membeberkan pengertian nine dash line yang menjadi dasar China mengklaim perairan Natuna.
"Kita tidak perlu, terutama Bakamla, kalau yang diplomasi mungkin Bu Menlu (Menteri Luar Negeri) perlu tahu, sejarahnya kenapa sih ada nine dash line, anggota DPR itu perlu tahu," ucap Meutya.
"Tapi Kepala Bakamla lakukan tugas sesuai Perpres (Peraturan Presiden) karena mereka ini masih di bawah Perpres ya."
Meutya menjelaskan, selain mengamankan wilayah laut, Bakamla juga memiliki tugas lain.
"Yang mengatakan tugas mereka memang melakukan pengamanan ya," ujar Meutya.
"Bahkan bisa sejauh kewenanannya melakukan pengejaran seketika, memberhentikan, memeriksa, menangkap, membawa dan menyerahkan kapal ke instansi yang berwenang."
Lantas, Meutya pun mengungkapkan pengalamannya yang pernah disandera di Irak saat dirinya masih menjadi seorang jurnalis.
"Bapak jangan khawatir, saya produk dari diplomasi, saya enggak akan selamat kalau diplomasi kita saat saya disandera di Irak itu gegabah," kata dia.
"Jadi saya tahu persis diplomasi itu tidak boleh gegabah. Jadi saya tahu persis tidak boleh lemah."
Lebih lanjut, Meutya pun memberikan imbauannya pada Taufiqoerrochman.
"Jadi jangan keluar dari mulut Bakamla yang mengeluarkan dari versi Tiongkok," imbaunya.
"Bapak menjelaskan dari versi pengamanan saja."
Simak video berikut ini menit 5.18:
Hanya Dibekali Keris
Sebelumnya, presenter Najwa Shihab heran mendengar penjelasan dari Kepala Badan Keamanan Laut (Kabakamla), Laksamana Madya Achmad Taufiqoerrochman.
Keheranan Najwa Shihab itu muncul setelah Achmad Taufiqoerrochman mengaku tak ada satu pun senjata yang ada di kapal Bakamla.
Bahkan, kapal Bakamla hanya diberi senjata pertahanan berupa keris.
Ia menyinggung ukuran kapal China yang lebih besar dibandingkan dengan milik Bakamla.
"Kapalnya jauh lebih besar dibanding kapal Bakamla ya pak?," tanya Najwa Shihab.
"Relatif sama, saya (kapal Bakamla) 110, dia (kapal China) 145," jawab Taufiqoerrochman.
• Pengamat Militer Soroti Kehadiran Jokowi di Natuna: Seolah Tak Punya Lagi Orang yang Dikirim ke Sana
Lantas, Najwa Shihab pun menanyakan peralatan yang ada di kapal Bakamla.
"Peralatan senjatanya?," tanya Najwa Shihab.
Namun, jawaban Taufiqoerrochman justru membuat Najwa Shihab terkejut.
Taufiqoerrochman menyebut kapal Bakamla yang dibekali senjata keris.
"Kita pakai keris," jawab Taufiqoerrochman.
"Keris?," sahut Najwa Shihab terkejut.
Taufiqoerrochman menambahkan, keberadaan keris sebagai senjata Bakamla itu sesuai dengan Peraturan Menteri Pertahanan (Permenhan).
• Dilirik China, Natuna Ternyata Simpan Cadangan Gas Raksasa yang Bisa Buat Singapura Gelap Gulita
"Jadi di Permenhan kita itu sebelum diizinkan, tapi saya sudah menghadap Pak Prabowo, Beliau langsung 'Belikan yang besar'," ujar Taufiqoerrochman.
"Dan sekarang lagi proses. Jadi kemarin belum ada (senjata), baru disetujui sekarang."
Najwa Shihab pun kembali mengulangi pertanyaannya.
"Jadi sampai detik ini kapal-kapal di Bakamla tidak ada senjatanya satu pun? Hanya keris?," tanya Najwa Shihab.
"Iya, keris," jawab Taufiqoerrochman.
"Ya gimana mau mepet pak kalau mepet kalau cuma bawa keris," sahut Najwa Shihab.
Mendengar pernyataan Najwa Shihab penonton pun terbahak.
(TribunWow.com/Jayanti Tri Utami)