Kanal

Ragukan Komitmen KPK, Marwan Batubara Ungkit Rekam Jejak Ahok, Terkena 12 Kasus Dugaan Korupsi

Direktur IRESS Marwan Batubara dalam acara Indonesia Lawyers Club - YouTube tvOneNews

TRIBUNWOW.COM - Nama Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok pernah disebut-sebut terlibat dalam berbagai kasus dugaan korupsi, salah satunya adalah kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras.

Tak ada pengusutan lebih lanjut terhadap kasus dugaan korupsi Ahok, membuat Direktur IRESS Marwan Batubara meragukan komitmen Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengusut Ahok.

Dikutip TribunWow.com dari tayangan langsung Indonesia Lawyers Club, Selasa (26/11/2019), mulanya Marwan Batubara menjelaskan bahwa Ahok terkena dua belas kasus dugaan korupsi.

 

Hukuman Ahok Telah Selesai, MUI Imbau Kegiatan Reuni 212 Tak Dilaksanakan Tahun Ini: Gak Penting

"Kemudian yang kedua, Pak Ahok ini menyandang hampir sebelas atau dua belas kasus dugaan korupsi," jelas Marwan Batubara.

"Dan ini pernah kami laporkan dengan teman-teman LSM ke KPK, kira-kira bulan Juli 2017," tambahnya.

Marwan Batubara mengatakan banyak bukti yang dapat menjerat Ahok ke pengadilan.

"Dan sebetulnya kasus-kasus itu, sudah cukup banyak bukti-bukti permulaan yang kalau menurut aturan bahwa ini layak diporses di pengadilan sebetulnya memang layak," ujar Marwan Batubara.

Ia kemudian mencontohkan salah satu kasus besar yang menjerat Ahok, yaitu kasus Rumah Sakit Sumber Waras.

"Misalnya salah satu itu kalau kita lihat, kita ikuti, dan ini cukup banyak diberitakakan, itu tentang kasus Rumah Sakit Sumber Waras," tutur Marwan Batubara.

"Sampai-sampai ada statement (pernyataan) dari penjual lahan itu bagaimana bahwa dia sebetulnya hanya menerima Rp 355 miliar dari yang tercantum dalam akta jual beli itu, Rp 755 miliar."

"Nah Rp 400 miliarnya kemana, tapi yang jelas ini menjadi tanggung jawab Ahok, bukan orang lain," imbuhnya.

Kemudian kasus lainnya yang dicontohkan oleh Marwan Batubara adalah kasus reklamasi.

Pada kasus tersebut terdapat aliran dana dari pengembang kepada Ahok.

"Lalu ada juga kasus reklamasi, sidang-sidang terhadap orang yang akhirnya divonis sekian tahun apakah itu Mohamad Sanusi sebagai Anggota DPRD atau Arisman Wijaya dari Podmoro, itu banyak sekali menyebut tentang adanya penerimaan uang dari pengembang kepada Ahok," ujar Marwan Batubara.

Marwan Batubara kemudian meragukan komitmen KPK untuk mengusut kasus-kasus dugaan korupsi yang menyangkut nama Ahok.

Karena dalam kasus-kasus tersebut, sebetulnya sudah banyak bukti yang ditemukan dan cukup untuk membawa Ahok ke pengadilan.

Berdasarkan rekam jejak Ahok yang sering dikaitkan dengan kasus-kasus korupsi, Marwan Batubara enggan mengakui Ahok sebagai orang yang bersih dan berintegritas untuk menjabat sebagai petinggi BUMN.

"Nah ini mestinya bisa dilanjutkan oleh KPK untuk diproses lebih lanjut di persidangan artinya secara resmi," kata Marwan Batubara.

"Mestinya kalau berminat atau comitted (berkomitmen) untuk menegakkan hukum dan keadilan, ini suatu hal yang sangat layak untuk diteruskan tapi ternyata tidak."

"Tapi intinya yang ingin saya katakan bahwa dari sekian banyak kasus itu, sebetulnya Ahok ini sudah sangat layak untuk diproses di pengadilan sehingga tidak benar juga kalau dianggap misalnya orang ini adalah orang yang bersih."

"Apalagi kalau disebut-sebut salah satu putra terbaik bangsa Indonesia atau bisa menjadi pendobrak," tambahnya.

Said Didu Beri Peringatan Ahok jika Lakukan Saran Ferdinand Hutahaean: Dilakukan, Dia Masuk Penjara

Arya Sinulingga Jelaskan Mengapa Ahok Ditempatkan di Posisi Komisaris Utama Pertamina

Basuki Tjahaja Purnama Alias Ahok resmi menjadi Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina.

Menjadi narasumber di acara Sapa Indonesia Malam Kompas TV pada Senin (25/11/2019), Arya Sinulingga mengungkap mengapa Ahok didapuk menjadi Komut bukan Direktur Utama (Dirut).

Mulanya, Arya Sinulingga menjelaskan bahwa Pertamina merupakan perusahaan terbesar di Indonesia.

 

• Ahok Disuruh Turunkan Impor Pertamina, Arya Sinulingga: Nanti Ada yang Marah kalau Betul Ada Mafia

Sehingga, Pertamina membutuhkan orang-orang yang paling baik untuk mengelola perusahaan di bidang energi itu.

"Kita yang pasti mencari komposisi pengurus untuk Pertamina karena ini adalah BUMN strategis tidak hanya dari sisi keuntungan bagi negara karena kita tahu bahwa Pertamina adalah perusahaan yang terbesar juga di Indonesia."

"Atau BUMN terbesar di Indonesia sehingga kami mencari pengurus-pengurus yang terbaik saat ini gitu," terang Arya.

Namun, Arya menjelaskan bahwa orang-orang di Pertamina kini masih bekerja dengan baik.

"Baik untuk Komisarisnya dan Direksinya, bahwa kita melihat beberapa saat ini memang Pertamina kita lihat setelah kita evaluasi berada dalam track yang masih benar," ujarnya.

Akibatnya, Pertamina saat ini lebih banyak membutuhkan Komisaris dibanding Direktur.

"Sehingga yang kami tambahkan di Direktur Keuangannya itu diambil dari Telkomsel gitu yah, itu pun sebenarnya karena Pak Pahala kita pindahkan ke BTN yang memang membutuhkan seorang Direktur Utama gitu," ucap Arya.

"Sementara yang banyak kita utak atik adalah di Komisarisnya," imbuhnya.

Lantas Arya menjelaskan mengapa Pertamina kini lebih banyak mencari komisaris.

Pasalnya, Menteri BUMN Erick Thohir disebutkan tengah mencari pengawas-pengawas.

"Kenapa di Komisarisnya, sama seperti yang kami sampaikan selalu sama saat ini adalah bahwa komisaris kita perkuat."

"Pak Erick Thohir sebagai Menteri BUMN selalu mengatakan mereka pengawas-pengawas di BUMN yang kita berikan kewenangan dari pemegang saham yaitu pemerintah adalah milik negara melalui Menteri BUMN itu menyerahkannya kepada Komisaris untuk melakukan pengawasan," terang Arya panjang lebar.

• Baru Sehari Menjabat di Pertamina, Candaan Ahok Malah Dikhawatirkan M Qodari: Bisa Jadi Bom Waktu

Namun, Ahok tak hanya satu-satunya yang direkrut sebagai Komisaris.

Adapula polisi bintang tiga untuk menjabat sebagai Komisaris.

"Tidak hanya Pak Ahok yang kita tempatkan di Pertamina, ada juga seorang polisi dengan bintang tiga, ini adalah tujuan kami supaya pengawasan di Pertamina betul-betul efektif," lanjutnya.

Lihat videonya mulai menit ke-7:15:

(TribunWow.com Anung Malik/Mariah Gipty)

Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
Sumber: TribunWow.com
.

Berita Populer