TRIBUNWOW.COM - Momen lucu terjadi antara Aktivis HAM Haris Azhar dan Staf Khusus Presiden, Ali Mochtar Ngabalin.
Haris Azhar sempat menggoda Ali Mochtar Ngabalin saat keduanya menjadi bintang tamu di acara Indonesia Lawyers Club pada Selasa (1/10/2019).
Dilansir oleh TribunWow.com, Haris Azhar mulanya mengatakan bahwa berdasarkan survei lembaga KedaiKOPI, kini mahasiswa lebih populer ketimbang presiden.
"Saya juga bisa rilis surveinya KedaiKOPI hari ini, lembaga survei. Surveinya KedaiKOPI mahasiswa lebih populis hari ini dibandingkan presiden," ujar Haris Azhar dikutip dari channel YouTube Indonesia Lawyers Club pada Rabu (2/10/2019).
Namun, survei itu bisa saja berubah dengan penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu) KPK oleh presiden.
Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) didesak oleh banyak pihak khususnya mahasiswa untuk mengeluarkan Perppu KPK yang dianggap sebagai penyelamat KPK yang dilemahkan akibat adanya RUU KPK.
"Tetapi coba nanti kalau presiden merespons tujuh tuntutan mahasiswa dengan caranya, dengan prosesnya, dengan tujuan akhirnya kalau itu sampai terjadi mungkin popularitas presiden naik juga," kata Haris Azhar.
• Mantan Penasehat KPK Setuju Ada Kelemahan di KPK dan Salahkan Jokowi, Karni Ilyas Beri Pembelaan
Menurut Haris Azhar, survey itu selalu bergerak layaknya tarian.
"Jadi ini cuma dancing saja siapa yang naik siapa yang turun, siapa yang ke kiri siapa yang ke kanan. Jadi itu semua proses itu demokrasi," lanjut Haris Azhar.
Haris Azhar yakin bahwa semua orang memiliki niat baik sejatinya,
"Kalau kita memutuskan, memutlakkan bahwa presiden mutlak niatnya baik Insya Allah niat semua baik. Pak Ali (Ngabalin) juga orangnya baik.
Mendengar Haris Azhar berbicara, Ali Ngabalin langsung siap dengan mengangkat mikrofonnya
Namun, Haris Azhar langsung meminta agar Ali Ngabalin mengurungkan niatnya itu.
• Soal RKUHP dan UU KPK Disebut Tak Sepenuhnya Mewakili Rakyat, Fahri Hamzah: Hati-hati Provokasi
"Enggak usah pegang mic santai saja," ujar Haris Azhar diikuti tawa hadirin.
Sedangkan, Ali Ngabalin sempat terlihat menyunggingkan senyumnya.
"Nggak ada yang perlu direspons," kata Haris Azhar tertawa.
Namun, Ali Ngabalin tampak ingin membalas pernyataan Haris Azhar.
"Saya harus jawab ini supaya Bang Haris bisa dengar," kata Ali Ngabalin.
Namun, Karni Ilyas meminta agar Ali Ngabalin berhenti untuk mendebat Haris Azhar.
"Ya sudah cukup-cukup," himbau Karni Ilyas.
Lantas, Haris Azhar menenangkan bahwa demo-demo mahasiswa bukan untuk menurunkan Jokowi.
• Fahri Hamzah di ILC Beri Saran untuk Jokowi Berantas Korupsi: Saya Usul, Lupakan Ngomong KPK
Sehingga, Jokowi tetap akan dilantik pada 20 Oktober nanti.
"Saya mau bilang hilangkan yang tidak penting-penting, presiden tidak akan diturunkan. InsyaAllah dia dilantik tanggal 20," lanjut Haris Azhar.
Lihat videonya menit ke 12:11:
Mahfud MD Tegaskan Desakan Keluarkan Perppu KPK Tak ada Hubungannya dengan Pilihan Politik Pilpres
Pakar Tata Hukum Negara, Mahfud MD menegaskan bahwa orang-orang yang demo menolak Revisi Undang-Undang KPK bukan berarti tidak menyukai Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Mahfud MD mengatakan, demo penolakan RUU KPK itu menyangkut aspirasi bukan pilihan politik.
Dilansir TribunWow.com, Mahfud MD mengatakan orang-orang yang mendatangi presiden untuk menolak RUU KPK bukan berarti adalah orang-orang yang tidak memilih Jokowi dalam pemilihan presiden 2019.
"Dan jangan dikira orang yang datang ke presiden itu bukan orang yang tidak memilih presiden," tegas Mahfud MD dikutip dari channel YouTube Indonesia Lawyers Club.
"Justru mereka mengatakan 'kami memilih bapak, kami datang ke sini'. Mereka ini mengatakan," imbuhnya.
Sehingga, Mahfud MD menilai keliru bahwa demo berniat untuk menumbangkan Jokowi.
"Jadi keliru kalau ada orang mengatakan itu katanya, kami yang memilih presiden sekian persen lo."
"Yang dateng ini ya yang milih. Yang mahasiswa juga bilang saya milih," katanya.
• Mahfud MD Bongkar Suasana Rapat dengan Jokowi saat Bahas Perppu KPK: Tertawa-tawa Semuanya
Ia lantas membeberkan banyak orang yang memilih Jokowi.
Termasuk mayoritas Universitas Gadjah Mada yang memilih Jokowi sebagai Presiden RI 2019-2024.
"Kampus UGM yang rame itu pemilihnya Pak Jokowi. Guru-guru besar itu Pak Jokowi semua. Dia pemilih Pak Jokowi," jelas Mantan Menter Hukum dan HAM ini.
Sehingga, Mahfud MD menilai demo menolak RUU KPK berkaitan dengan aspirasi bukan ketidaksukaan pada Jokowi.
"Jadi ini bukan soal orang milih atau tidak milih, ini soal aspirasi," jelasnya.
Bahkan, Mahfud MD mengatakan pakar tata hukum negara yang turut hadir di ILC, Zaenal Mochtar juga memilih Jokowi pada Pilpres 2019
"Zaenal saya kira Jokowi, ini Jokowi juga," kata Mahfud MD.
• Blak-blakan, Masinton Pasaribu Sebut Alasan DPR RI Suara Bulat soal UU KPK: Selalu seperti Itu
Mendengar itu, Zaenal Mochtar tampak mengangguk.
"Tetapi punya usul berbeda inilah demokrasi," lanjut Mahfud MD.
Lihat videonya mulai menit ke-12:57:
(TribunWow/Mariah Gipty)