TRIBUNWOW.COM - Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Haris Azhar menuturkan detik-detik kericuhan aksi demonstrasi mahasiswa di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat.
Dilansir TribunWow.com, hal itu diungkapkan Haris saat menjadi narasumber dalam program 'Mata Najwa', yang diunggah channel YouTube Najwa Shihab, Rabu (25/9/2019).
Mulanya Haris menuturkan bahwa ada lembaga yang menelisik di bidang tindak penyelewengan anarkistik.
• Polisi Temukan Batu dan Bensin Milik Demonstran di Mobil Ambulans, Begini Kronologinya
"Ini begini, kita punya protap (Prosedur Ketetapan) dari kepolisian. Protap tentang tindakan penyelewengan anarkistik," ujar Haris.
"Ketika semprotan air pertama keluar kira-kira kemarin jam 5 kurang, saya beberapa menit setelah ketemu Mbak Vitri, ini saya lihat sendiri."
"Di protap itu ada eskalasi, dia mengambil pembelajaran dan saya kira protapnya cukup okelah, dia mengambil pembelajaran dari standar internasional. Tentang penanggulangan demonstrasi," jelasnya tentang protap.
Dirinya mengatakan saat itu semprotan yang diturunkan kepada aparat untuk mahasiswa tidak dalam rangka merespons ricuh.
"Dan di situ saya tidak melihat bahwa semprotan air itu dalam rangka untuk merespons satu tindakan yang di luar kontrol," katanya.
"Jadi untuk apa?," tanya Najwa Shihab.
Haris pun berkelakar bisa saja ada perintah kepolisian untu memandikan mahasiswa yang turun aksi.
"Saya juga enggak ngerti, mungkin ada informasi dalam polisi, mahasiswa perlu mandi atau apa saya enggak paham, jadi disemprot," paparnya.
• Kala Moeldoko Panggil Ketua BEM UGM dengan Sebutan Bos saat Bahas Aksi Mahasiswa di Mata Najwa
Kemudian ia menyebut, semprotan yang dilakukan aparat tersebut justru yang memberikan kericuhan.
"Nah tetapi menurut saya itu justru titik mulai, yang mahasiswa marah dan naik ke atap mobil polisi dan merusak mobil brimob. Jadi bukan karena mahasiswa merusak mobil," ungkapnya.
"Saya terima 100 masukan dari Pak Moeldoko bacaan normatifnya tadi secara psikologi," ujar Haris Azhar menanggapi statement Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko.
"Tetapi situasi di lapangan tidak menunjukkan hal tersebut."
Ia mempertanyakan untuk apa para demonstran di lakukan sweeping.
"Ini orang disweeping apa ya? Kalau disweeping di lapangan berarti OTT kalau kata KPK. Melakukan tindak pidana, atau mencegah," kata Haris.
"Mereka itu lagi di Benhil, di rumah makan, saya dapat videonya. Sweeping. Apakah makan sudah di larang pada jam tersebut di republik ini? Saya juga enggak ngerti Pak Moeldoko," paparnya.
• Di Mata Najwa, Fahri Hamzah Anggap KPK Gagal Laksanakan Tugas, Haris Azhar Beri Balasan Ini
Lihat videonya dari menit ke 6.58:
Sebelumnya, Moeldoko diberi pertanyaan oleh Ketua BEM UGM, Atiatul Muqtadir alias Fatur.
"Dan tadi Pak Moeldoko menyampaikan, demo bukan haram, oke demo bukan haram," kata Fatur.
"Tapi kok temen-temen kita sedang ditahanin kepolisian, bahkan ada yang makan di suatu restoran kena sweeping (razia) gitu, katanya enggak haram?," singgung Fatur.
Moeldoko menjelaskan hal tersebut terjadi lantaran sisi psikologis dari aparat keamanan.
Alasan tersebut ia dapat saat masih menjabat sebagai Kolonel dan Mayor.
"Begini ada persoalan-persoalan yang harus kita pahami bersama ini yah. Saya sepuluh tahun tidur di jalanan waktu saya Kapten dan Kolonel, Mayor sama Kolonel lah, sehingga sangat paham melihat situasi psikologi," papar Moeldoko.
Moeldoko menjelaskan, sisi psikologis dari aparat keamanan berpengaruh besar pada perlakuan mereka terhadap demonstran.
Biasanya itu terjadi lantaran tensi petugas yang awalnya normal bisa meningkat jika demo tak kunjung selesai.
"Situasi psikologi baik itu pelaku demo maupun pelaku aparat. Situasi awalnya fresh, begitu kena matahari mulai lapar, mulai haus terus dan seterusnya, tuntutannya belum ada keputusan maka tensi meningkat," katanya.
Moeldoko mengatakan, tensi yang meningkat menjadi faktor ada oknum aparat keamanan melakukan tidak terkontrol.
"Tensi meningkat menyebabkan uncontrol (tidak terselamatkan) sehingga pada jam-jam terntentu, titik kulminikasi itulah mulai terjadi, situasi yang enggak bagus," ucap dia.
• Di Mata Najwa, Fahri Hamzah Anggap KPK Gagal Laksanakan Tugas, Haris Azhar Beri Balasan Ini
Itu pula yang terjadi pada aparat kepolisian.
Jenderal TNI asal Kediri, Jawa Timur ini mengatakan bahwa polisi juga manusia.
"Sama juga begitu, aparat seperti itu, aparat juga manusia bung bukan dewa, dia juga punya titik kulminikasi," jelas Moeldoko.
Sehingga, Moeldoko meminta agar masyarakat bisa memahami.
"Pada titik kulminasi itulah maka terjadi Ini yang harus dipahami," terang dia.
(TribunWo.com/ Roifah Dzatu Azmah/ Mariah Gipty)