TRIBUNWOW.COM - Presenter Karni Ilyas potong ucapan Ketua Bidang Agraria dan Tata Ruang Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dilansir TribunWow.com, hal ini terjadi dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC), yang diungah dalam saluran YouTube Indonesia Lawyers Club, Selasa (17/9/2019).
Mulanya, Eddy menuturkan keprihatinanya bahwa karhutla membuat dampak buruk kepada penduduk.
• Di ILC, Fadli Zon Sindir Jokowi yang Marah-marah soal Karhutla tapi Tak Ada Hasil: Weak Leadership
"Pertama kami turut prihatin terjadinya kebakaran yang menyebabkan terpaparnya kabut asap untuk penduduk dan juga sebenarnya karyawan perkebunan pun ikut terpapar juga," ujar Eddy.
Ia kemudian menyampaikan data kepemilikan industri perkebunan kelapa sawit.
"Saya akan menyampaikan berapa luas lahan kelapa sawit di Indonesia, luas sampai 2018 menurut data Kementerian Pertanian adalah 14,3 juta," paparnya,
"Kemudian terdiri dari pekebunan besar swasta 7,8 juta atau 55 persen, perkebunan nasional milik BUMN 643 ribu hektare dan milik rakyat 41 persen."
"Dan juga diketahui di sini adalah jumlah penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya dalam industri sawit, baik infarm maupun outfarm adalah 17 juta jiwa, ini bukan hal kecil," sebut Eddy.
"Kami sampaikan jumlah anggota GAPKI saat ini adalah 725 perusahaan dengan luas lahan 4,2 juta hektare, artinya dari perusahaan besar baru 50 persen yang menjadi anggota GAPKI," ujarnya.
• 3 Ironi Karhutla Versi Fadli Zon di ILC, Sindir Gugatan Warga ke Jokowi hingga Blokade POF di Eropa
Kemudian ia menuturkan kebakaran hutan terjadi tak hanya di Indonesia saja.
"Kebakaran lahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, kita lihat berulang juga di Amerika, di Australia bahkan sekarang kejadian kebakaran juga terjadi di Amazon, Brazil," katanya.
Eddy mengatakan bahwa ada kemungkinan pula negara yang memiliki teknologi lebih bisa mengalami kebakaran hutan.
"Nah kita bisa melihat bahwa di negara yang teknologinya lebih baik, bahwa peralatannya lebih canggih, itu masih terjadinya (kebakaran) berulang," ujar Eddy yang dipotong Karni Ilyas.
Karni Ilyas menyanggah bahwa yang terjadi di luar negeri karena faktor alam.
"Tapi di sana kan tidak disengaja Pak, artinya kebakarannya karena musim kemarau atau musim panas yang tinggi sekali," ungkap Karni Ilyas.
Eddy lantas membenarkan, namun menegaskan bukan hanya faktor manusia kebakaran bisa terjadi.
"Artinya bahwa di sini bukan hanya ulah faktor manusia tapi juga faktor alam maksud saya penekanannya," jawab Eddy.
Kembali, Karni Ilyas menyebutkan bahwa kebakaran hutan di Indonesia disengaja oleh manusia.
"Di situ lebih faktor alam, di situ lebih faktor manusia Pak, 88 persen (penyebab) manusia katanya itu," potong kembali Karni Ilyas.
Eddy kembali menyebutkan sejumlah data dari Global Forest Watch mengenai pelaku dari kebakaran hutan.
• Tinjau Karhutla Riau, Begini Wujud Sepatu Jokowi, Wiranto, dan Menteri Lain saat di Dalam Helikopter
"Oke, kemudian kami sampaikan data yang kami kutip dari Global Forest Watch, data ini dari Januari 2019 sampai September 2019, data di seluruh Indonesia di dalam konsesi sawit itu 11 persen, dan di luar konsesi 68 persen," ujarnya.
"Di Riau untuk data di dalam konsesi 19 persen di luar konsesi 51 persen. Kemudian di Jambi, dalam konsesi 19 persen, dan di luar konsesi 53 persen."
"Di Kalimantan dalam konsesi itu 2 persen dan di luar konsesi 71 persen," tambahnya.
Ia kemudian menyinggung temuan Kapolri Tito Karnavian mengenai lahan yang terbakar bukan lahan perkebunan kelapa sawit.
"Kalau kita lihat beberapa hari yang lalu, Pak Kapolri memantau dari udara dan beliau sampaikan di statement beliau. Beliau heran," ungkap Eddy.
"'Kenapa justru yang ada tanamannya hutan industri tidak terjadi kebakaran'. Kalau kebakaran pun hanya di pinggir saja."
"Dan ini sebenarnya nyambung dengan data, bahwa yang dikelola minim terjadi kebakaran," ungkapnya kembali dipotong Karni Ilyas.
"Yang mau dikelola baru dibakar Pak," celetuk Karni Ilyas.
"Oke nanti kita sampaikan," papar Eddy.
Lihat videonya dari menit ke 1.00:
Pelaku Kebakaran Hutan dan Lahan
Dikutip TribunWow.com dari Kompas.com, Selasa (17/9/2019), 5 perusahaan dan 218 orang yang ditetapkan sebagai tersangka karhutla di Sumatera dan Riau.
Dengan rincian 47 orang telah ditetapkan tersangka dalam karhutla di Riau.
Selanjutnya, untuk daerah Sumsel ada satu perusahaan (PT Sumber Sawit Sejahtera [SSS]) dan 27 tersangka individu.
Kemudian sebanyak 14 tersangka terkait karhutla di Jambi dan 4 tersangka di Kalimantan Selatan.
Untuk daerah Kalimantan Tengah, polda setempat menetapkan 65 orang dan PT Palmindo Gemilang Kencana (PGK) sebagai tersangka.
Dan yang terakhir 61 tersangka dan dua korporasi ( PT SISU dan PT SAP) menjadi tersangka di Kalimantan Barat.
(TribunWow.com/ Roifah Dzatu Azmah)