Rusuh di Papua

Tolak Kerusuhan di Papua, Bupati Asmat: Kita Ini Orang Punya Budaya, Etika Komunikasi Bisa Dilakukan

Editor: Claudia Noventa
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Bupati Asmat Elisa Kambu didampingi perwakilan TNI, Polri, dan dinas setempat melakukan video conference dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di lapangan Polres Asmat, Papua, Sabtu (31/8/2019).

TRIBUNWOW.COM – Bupati Asmat Elisa Kambu memastikan kondisi Kabupaten Asmat jauh dari kata kerusuhan.

Di saat beberapa titik di Papua dan Papua Barat memanas dengan aksi unjung rasa yang berakhir anarkistis, Asmat masih hidup dalam ketenangan, tanpa gejolak.

Elisa mengatakan, wilayah yang dia pimpin tak akan terusik dengan hingar bingar di luar.

Jika ada masalah, bukan cara kekerasan yang mereka pilih.

Sebut Kasus Rasisme Sudah Ditangani Pemerintah, Gubernur Papua: Tidak Ada Lagi yang Demo-demo

“Kita ini orang punya budaya. Perbedaan pendapat hal yang wajar. Tapi bukan di Jalan,” kata Elisa, saat ditemui di halaman Polres Asmat, Sabtu (31/8/2019).

“Bagusnya datang, duduk satu meja, selesaikan secara adat. Begitu cara Asmat mengatasi masalah,” lanjut dia.

Terkait tindakan rasisme yang dilakukan aparat dan aktivis di Surabaya terhadap mahasiswa Papua di sana, diakui Elisa, membuat warga Asmat geram.

Bagaimana tidak, saudara mereka didiskriminasi dengan perkataan yang tidak pantas.

Namun, kata Elisa, kemarahan yang ditunjukkan dengan aksi demo di Manokwari, Jayapura, dan Timika beberapa waktu lalu, tak menular ke warganya.

Fadli Zon Nilai Ada yang Salah dari Strategi Pendekatan Jokowi ke Rakyat Papua, Sarankan Hal Ini

Begitu mendengar adanya aksi berujung anarkistis itu, segenap pejabat Asmat langsung berkumpul untuk mengambil sikap.

Mereka berupaya meredam dengan menyebarkan pesan damai agar warga Asmat tak tersulut provokasi.

“Kita sepakat, bermusyawarah, bermufakat, maka etika komunikasi bisa dilakukan. Kalau yang terjadi di Papua kemarin akumulasi dari masalah yang lalu,” kata Elisa.

Bupati Asmat Elisa Kambu saat ditemui di Polres Asmat, Papua, Sabtu (31/8/2019). (KOMPAS.COM/AMBARANIE NADIA KEMALA MOVANITA)

Elisa menambahkan, masyarakat Asmat sepakat bahwa tak boleh ada kerusuhan yang terjadi di sekitar mereka.

Asmat merupakan daerah yang hanya ditopang panggung kayu.

Jika ada pergerakan sedikitpun yang mempengaruhi posisi bangunan, merusak jalanan, maka yang kena imbas bisa meluas.

Aktivitas ekonomi juga akan lumpuh.

“Dampaknya akan luas daripada kalau di daratan. Oleh karena itu, di Asmat sepakat tidak boleh ada yang kayak begitu,” kata Elisa.

Sosok Syamsul Arifin, Tersangka Kasus Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua, Kini Ditahan dan Minta Maaf

Terkait kerusuhan di Papua dan Papua Barat, Elisa menekankan bahwa sesama anak bangsa harus saling menghargai.

Diskriminasi, kata dia, tidak boleh dipelihara di republik ini.

Apalagi, Indonesia dikenal sebagai negeri dengan budaya yang kaya dan beragam.

“Tidak boleh ada upaya untuk menyeragamkan. Yang ada adalah keberagaman,” kata Elisa.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Bupati Asmat: Kami Selesaikan Masalah Secara Adat, Bukan di Jalan

WOW TODAY: