TRIBUNWOW.COM - Jubir TKN Joko Widodo ( Jokowi)-Ma'ruf Amin, Irma Suryani Chaniago, memberikan sejumlah sanggahan pada Pakar Komunikasi Politik, Effendi Gazali.
Hal tersebut diungkapkan saat hadi di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang di tvOne, Selasa (4/12/2018).
Seperti yang dikutip TribunWow.com, awalnya Effendi memberikan pernyataannya terkait elektabilitas kedua capres pasca aksi reuni akbar 212 yang digelar di Monas, Jakarta, pada Minggu (2/12/2018).
Namun, belum selesai Effendi memaparkan pendapatnya, Irma Suryani pun langsung memberikan interupsi.
Irma berpendapat bahwa apa yang disampaikan Effendi seakan menyudutkan satu pihak dan terkesan provokatif.
Irma juga mempertanyakan peran Effendi dalam penyampaian penjelasan tersebut.
• 4 Statement Aa Gym di ILC Bahas Reuni 212, Usul Undang Ahok hingga Singgung Pilpres 2019
"Saya ingin mempertanyakan sesuatu kepada Bang Effendi Gazali, Anda berdiri di sini duduk di sini, untuk memberikan pencerahan kepada bangsa ini, atau bicara dari sisi sebelah, atau mau bicara sebagai orang yang berada di tengah" jelas Irma.
"Karena dari tadi, saya dengar, yang disampaikan itu justru provokatif menurut saya, terus terang saja, saya enggak sama sekali khawatir dengan 212, bahkan kami santai-santai saja," lanjutnya.
Irma kemudian menjelaskan jika seharusnya, sebagai pengamat pollitik, Effendi Gazali harus menyampaikan hal yang jujur.
"Tapi, sebagai pengamat harusnya Anda bicara jujur, Anda bicara jangan berat sebelah, Anda jangan mengarahkan opini kepada masyarakat, ini nggak baik juga Bang," jelas Irma.
"Itu menurut saya harus didudukkan dulu di sini sehingga apa yang keluar dari pencerahan yang Anda sampaikan untuk rakyat Indonesia ini, memang betul-betul ingin mempersatukan, bukan malah ingin memprovokasi," pungkas Irma.
Tak hanya itu, saat mendapatkan kesempatan berpendapat terkait tema, Irma pun langsung "menyerang" Effendi Gazali.
Ia kembali memaparkan alasan mengapa ia menginterupsi pernyataan Effendi.
"Saya ingin sampaikan begini, tadi bang Effendi Gazali menurut saya, sebagai pakar politik terlalu tendensius menyampaikan ulasannya."
"Dan tadi saya interupsi ucapannya, untuk kembali ke tengah, supaya Indonesia betul-betul bisa tercerahkan dari forum ini," jelas Irma.
Setelahnya, Irma pun memberikan pemaparannya sesuai tema.
Irma mengaku jika pihak petahana tidak merasa grogi ataupun takut pada reuni akbar 212.
• Sindir Boni Hargens di ILC, Fadli Zon: Baru Satu Poin Saja Sudah Gelagapan
Namun, ia kembali menyinggung Effendi.
"Kami di pemerintah tidak merasa grogi," ucapnya.
"Seperti yang pak Effendi sampaikan tadi, ada ketakutan atau apa itu, enggak tuh. Bahkan Pak Presiden terus bekerja. Santai. kerja, kerja, kerja," ujar Irma.
Mendengar namanya kembali disebut, Effendi Gazali pun langsung memberikan sanggahan.
Effendi menjelaskan, tak sekalipun ia bilang bahwa Jokowi gugup atas terlaksananya Reuni Akbar 212.
"Saya tidak bilang Pak Jokowi gugup lho," sanggahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Mendengar pernyataannya disanggah, Irma pun hanya memandang Effendi sejenak dan memberikan isyarat dengan tanggannya agar Effendi berhenti bicara.
"Jadi enggak ada ya yang merasa gugup," Irma melanjutkan ucapannya.
"Karena apa? Karena sejak awal rencana reuni ini diadakan, kita semua sudah tahu kok apa rencananya, siapa yang akan merencanakan, siapa yang melaksanakan, dan siapa yang akan hadir. Kita sudah tau," imbuhnya.
Menurut Irma, pihaknya santai saja karena ia menganggap tidak ada hal yang baru dalam Reuni Akbar 212 kemarin.
Namun, Irma memaparkan, yang menjadi poin penting pada hari ini adalah tujuan peserta Reuni Akbar 212 datang ke acara tersebut.
"Yang menjadi poin hari ini adalah yang datang di reuni 212, tidak semuanya punya tujuan yang sama," paparnya.
"Kenapa? Karena dulu musuhnya satu, kalo sekarang kan Jokowi bukan musuh rakyat, bukan musuh islam juga," tambahnya.
• Diundang di ILC, Adian Napitupulu Mengaku Bingung: Apa Hubungannya Elektabilitas dan Reuni 212?
Sebelumnya, Effendi Gazali yang ditunjuk membuka diskusi "Pasca Reuni 212: Menakar Elektabilitas Capres 2019" menyampaikan tiga poit terkait pelaksanaan aksi Reuni Akbar 212 di Monas, Jakarta.
Pertama, Effendi membahas soal lembaga survey yang melakukan survey terkait elektabilitas kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Ia menanyakan terkait sumber dana lembaga survey, dan dalam rangka apa sebuah lembaga survei mengadakan survei elektabilitas.
"Siapa sih sebetulnya yang bayar lembaga-lembaga survey itu, dan menyampaikan hasilnya dalam rangka apa, itu sangat penting" papar Effendi.
Effendi menuturkan, selama ini lembaga yang melakukan survey menggunakan dana pribadi untuk mendapatkan hasil survey terkait elektabilitas kedua pasangan calon.
"Anda kalau mengekspos elektabilitas pasangan capres, selalu bilang dibayar dari dana sendiri, betul kan? Pertanyaan saya, sudah berapa kali anda mengeluarkan dan dibayar dari dana sendiri? Dengan jumlah berapa?," jelas Effendi.
Poin kedua, Effendi mengungkapkan jika ada semacam kekhawatiran terkait elektabilitas sehingga ada media yang seolah-olah ingin menyembunyikan acara 212, dan tidak mempublikasikannya.
"Coba tanyakan, apakah ada acara sebesar ini? Barangkali yang terbesar di dunia, ada nggak yang mengajarkan media boleh blok dan menutup hak informasi publik dan seakan akan itu tidak terjadi," terang Effendi disambut tepuk tangan penonton.
"Harusnya Anda tetap melakukan peliputan, tapi Anda menyatakan kebijakan editorial atau misal mengundang ahli tertentu untuk melakukan analisis kritis," tambahnya.
Yang terakhir, Effendi menyampaikan jika aksi tersebut berakhir pada pengukuran elektabilitas dari kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Lalu ia menanyakan apa dampak dari naik atau turunnya elektabilitas tersebut pasca aksi 212 yang digelar.
• Fadli Zon dan Irma Suryani Berdebat Sengit di ILC, Aa Gym sampai Berdiri: Malu, Malu, Malu
"Nah, setiap pertanyaan elektabilitas pasti muncul di belakangnya kalau dia naik mengapa, kalau dia turun mengapa? itu jauh lebih penting," jelas Effendi.
Effendi lantas menjelaskan jika Reuni 212 tahun ini menarik, karena acara tersebut tidak menjelaskan apa maksud dan tujuan massa datang kesana.
Effendi membandingkan dengan tujuan aksi yang pertama digelar pada 2016, yang mana para peserta melakukan aksi karena ada penistaan agama.
"Namun saya tidak melihat pintu masuk yang luar biasa, mengapa orang datang pada aksi kemarin, semua jawaban yang diberikan mengatakan jika islam itu indah islam itu damai" terangnya.
Effendi lantas mengungkapkan satu hal penting yakni ketidakadilan.
"Saya menemukan kata ketidakadilan, jadi itu diungkapkan, tapi ketidakadilan seperti apa, itu harus diliat dari beberapa sisi" terangnya.
(*)