TRIBUNWOW.COM - Jaksa Dodi Junaidi menjadi salah satu korban Lion Air PK-LPQ yang jatuh di Tanjung Karawang, Senin (29/10/2018).
Pesawat itu berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, sekitar pukul 06.10 WIB.
Sedianya, pesawat mendarat di Bandara Pangkal Pinang pukul 07.20 WIB.
Namun, pesawat tersebut hilang kontak pukul 06.33 WIB.
Pesawat tersebut disebutkan membawa 181 penumpang, terdiri dari 178 penumpang dewasa, satu penumpang anak-anak dan dua bayi.
Kini satu per satu jenazah penumpang telah teridentifikasi.
Diantara jenazah tersebut ternyata ada jaksa Dodi Junaidi yang turut menjadi penumpang Lion Air PK-LPQ.
Berikut sederet fakta jaksa Dodi Junaidi yang menjadi korban Lion Air PK-LPQ dirangkum TribunJakarta.com:
• Keluarga Korban Nilai Manajemen Lion Air Tidak Punya Empati hingga Minta Rusdi Kirana Berdiri
1. Disemayamkan di Kejaksaan Agung
Tim evakuasi pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP, berhasil mengidentifikasi jasad korban Kepala Seksie Pidana Khusus (Kasie Pidsus) Kejaksaan Negeri Pangkalpinang, Dodi Junaidi.
Dodi Junaidi menjadi korban jatuhnya pesawat tipe Boing 737 Max 8 itu saat hendak masuk tugas.
Berdasarkan keterangan adik Dodi, Verawati Sidik, jasad yang ditemukan, sedang disemayamkan terlebih dahulu di kantor Kejaksaan Agung (Kejagung).
Setelah disemayamkan di Kejagung, jenazah akan dibawa ke rumah duka di Jalan Haji Sidup, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel), pada sekira pukul 08.00 WIB, Senin (5/11/2018).
Setelah itu, keluarga akan menyolatkannya di Masjid Al-Ikhlas dan megebumikannya di Taman Pemakaman Umum (TPU) dekat rumah duka.
Vera dan keluarga merasa lega atas temuan jasad kakaknya itu. Meskipun ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, namun keluarga tidak lagi gamang menanti nasib Jaksa Dodi.
"Ya sedih juga ternyata benar ditemukan sudah tidak ada, tapi setidaknya keluarga tidak menggantung seperti kemarin belum ditemukan," ujar Vera saat ditemui TribunJakarta.com.
2. Desak rekaman black box dibuka
Mantan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Kalimantan Timur, Muhamad Sidik, yang merupakan ayah dari Kasie Pidsus Kejari Pangkal Pinang, Dodi Junaedi, satu di antara 189 korban pesawat jatuh itu, meminta agar imformasi dalam black box bisa diungkap secara transparan kepada publik.
Dirinya tidak memikirkan pihak mana yang bersalah atas kecelakaan tersebut, namun baginya informasi yang transparan disampaikan ke publik, penting bagi jasa penerbangan di Indonesia ke depannya.
"Ya kalaupun memang itu kejadiannya bukan kesalahan manajemen, enggak masalah, yang penting transparansi buat penumpang, buat pengguna jasa penerbangan," ujar Sidik.
• 7 Fakta Terbaru Jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610, 14 Jenazah Terindentifikasi
Terlebih sebelum pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan secara resmi penyebab jatuhnya pesawat, wacana spekulasi tentang penyebab insiden tersebut yang menyoal sejumlah faktor, sudah ramai menyebar.
"Iya kita mau tau itu kenapa, apa lagi kita lihat berita itu pesawat baru, apa lagi ada beredar yang pesawat ada trouble sebelumnya, segala macam. Namun untuk kejelasannya kita ketahui dari black box itu yang pastinya. Mungkin keterangan dari situ bisa 100% bisa kita percaya," katanya.
3. Kerap bolak balik Jakarta
Dodi Junaidi ternyata baru saja ditugaskan sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus di Kejaksaan Negeri Pangkal Pinang selama tujuh bulan.
Sebelumnya, Dodi Junaidi bertugas di Kejaksaan Negeri Bengkulu.
Ayahanda Dodi Junaidi mengatakan, sang anak biasanya dua pekan sekali ke Jakarta untuk menemui istri dan anaknya yang bertempat tinggal di Kawasan Ciputat Timur.
"Enggak selalu setiap weekend (ke Jakarta) tapi biasanya dua minggu sekali. Dia meninggalkan tiga anak, anak pertama kelas 1 SMP, anak kedua kelas 6 SD, dan anak terakhir kelas 2 SD," tegasnya.
4. Kajari Tangsel ungkap sosok Dodi Junaidi
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tangerang Selatan (Tangsel), Bima Suprayoga mengungkapkan sosok jaksa Dodi Junaidi dimatanya.
Hal tersebut disampaikannya ketika mendatagi rumah duka Dodi Junaidi.
"Dan kepergian beliau ke Pangkalpinang itu dalam rangka menjalankan tugas. Senin pagi adalah awal dari kegiatan," papar Bima.
Selain itu, Bima mengatakan jika Jaksa Dodi sempat bertugas di berbagai wilayah seperti, Lampung, Bengkulu dan terakhir di Kejari tipe A Pangkalpinang.
"Ini tentu perjuangan almarhum yang sangat luar biasa," ucapnya.
Catatan karier Jaksa Dodi yang kerap dipercaya di berbagai wilayah, disebut Bima sebagai bentuk profesionalitas yang diakui oleh pihak kejaksaan.
• Kepala Basarnas M Syaugi Menangis di Depan Keluarga Korban Lion Air JT 610: Saya Tidak Menyerah
"Almarhum dikenal sebagai sosok yang baik. Sosok jaksa yang pejuang, tidak pernah mengeluh. Karena dari track record perjalanan karir almarhum yang pindah-pindah itu menunjukkan bahwa almarhum adalah jaksa yang mumpuni dan profesional menurut saya," tegasnya.
5. Demi mengejar upacara sumpah pemuda
Ayahanda Dodi Junaidi lebih lanjut memaparkan jika sang anak mengambil penerbangan pertama demi mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda.
"Pada saat kejadian itu, dia mencari pesawat yang paling pertama ke Pangkal Pinang karena mengejar upacara sumpah pemuda di kantornya," katanya. (*)