Utang Negara Rp 409 T Jatuh Tempo di Tahun 2019, Mardani Ali Sera: Ini Mengkhawatirkan

Penulis: Wahyu Ardianti
Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mardani Ali Sera

TRIBUNWOW.COM- Politisi PKS Mardani Ali Sera menanggapi utang pemerintah sebesar 409 Triliun rupiah yang jatuh tempo pada thaun 2019.

hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitter @MardaniAliSera pada Kamis (23/8/2018).

Dalam cuitan tersebut, Mardani berharap agar menteri perekonomian dan menteri keuangan bisa segera menyelesaikan defisit utang yang jatuh tempo.

Mardani menilai bahwa hal tersebut sangat mengkhawatirkan, terlebih jika utang tersebut menyalahkan masa lalu.

Gempa di Lombok NTB, Fadjroel Rachman: Pemerintah Telah Mencairkan Dana Sebesar Rp 985,8 M

"Dalam lampu pengatur lalulintas, warna kuning itu cepat sekali menuju merah. Semoga Menko & Menkeu bisa cepat selesaikan defisit, termasuk hutang yg jatuh tempo. Ini sangat mengkhawatirkan, apalagi menyalahkan masa lalu, pdhal dia menteri jg di masa lalu," tulisnya.

Sementara itu, Sri Mulyani mengaku bahwa pembayaran utang tahun 2019 cukup berat karena utang negara cukup besar.

"Tahun depan berat, banyak utang di masa lalu yang jatuh tempo cukup tinggi di 2019," ujar dia dalam acara konfrensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2018) yang dikutip dari Kompas.com.

Sri Mulyani mengungkapkan, utang negara yang jatuh tempo pada tahun 2019 mendatang mencapai Rp 409 triliun.

Meski terbilang cukup besar, Sri Mulyani menegaskan bahwa pengelolaan utang negara saat ini semakin baik.

Amien Rais Sebut Tak Ada Diskriminasi atas Apa Pun, Teddy Gusnaidi: Enggak Percaya Dia Ngomong Gini

Hal tersebut bisa dilihat dari dua indikator yang menunjukkan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni defisit APBN dan tingkat keseimbangan primer.

Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa defisif APBN terus pengalami penurunan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada tahun 2015, defisit APBN sempat menyentuh angka 2,59 persen dari GDP senilai Rp 298,5 triliun.

Refly Harun: Kalau Semua Jadi Timses dan Saling Menjatuhkan, Siapa yang Menjaga Kewarasan Publik?

Angka ini perlahan turun pada 2016 sebesar 2,49 persen, dan kembali turun pada 2017 menjadi 2,15 persen.

Target defisit APBN pada 2018 pun turun menjadi 2,12 persen.

Jokowi Minta TNI/Polri Sosialisasi Capaian Pemerintah, Ferdinand: Tak Percaya Diri Hadapi Pilpres

"Kelihatan bahwa trennya yang mendekati nol dari yang tadinya pernah mencapai 2,59 persen yang terdalam di tahun 2015, itu dikarenakan tahun itu harga komoditas jatuh sehingga counter fiskal hingga defisit," ujar Sri Mulyani.

Sementara itu, pada RAPBN 2019 ini, defisit akan diperkirakan di 1,8 persen terhadap GDP. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan defisit paling kecil yang pernah terjadi di 2012 yaitu 1,86 persen dari PDB. "Hanya untuk menggambarkan betapa kerennya berubah sama sekali," ujarnya. (TribunWow.com/Woro Seto)