Rupiah 14 Ribu, Andi Arief Analisis Kepemimpinan Jokowi dengan Soeharto hingga Presiden Filipina

Penulis: Woro Seto
Editor: Woro Seto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Andi Arief dan Jokowi

TRIBUNWOW.COM - Politisi Demokrat, Andi Arief membandingkan kasus pelemahan rupiah yang saat ini mencapai 14 ribu dengan zaman Era Presiden Soeharto hingga Presiden Filipina.

Dilansir TribunWow.com, melalui akun Twitter @AndiArief__  yang ia tuliskan pada Minggu (27/5/2018).

Diketahui, padahari Sabtu (26/5/2018) rupiah menguat 0,05% ke level Rp 14.125 per dollar Amerika Serikat (AS) yang dilansir dari Kontan.id.

Dalam sepekan, penguatan rupiah mencapai 0,21%.

Adapun kurs tengah rupiah di Bank Indonesia hari ini ditutup di level Rp 14.166 per dollar AS.

Angka ini menguat 0,27% bila dibandingkan perdagangan hari sebelumnya, namun melemah 0,41% dalam sepekan terakhir.

Analis Global Kapital Investama Nizar Hilmi mengatakan, rupiah sempat melemah ke level Rp 14.200 per dollar AS akibat akumulasi sentimen eksternal dan internal.

Ali Ngabalin Jadi Jubir Istana, Denny Siregar: Jangan Kaget Kalau Fahri Hamzah Tiba-tiba Bergabung

Dalam hal ini, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS dan tren kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu pelemahan rupiah dari luar negeri.

Di sisi lain, defisitnya neraca dagang hingga keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik juga memperburuk posisi rupiah.

Untungnya, tekanan terhadap rupiah mulai mereda selepas notulensi rapat FOMC dibuka Rabu (23/5/2018) lalu.

Lantaran adanya banyak hari libur di pekan depan, rupiah diperkirakan akan bergerak pada rentang Rp 14.00- Rp 14.130 per dollar AS.

Menanggapi nilai rupiah yang mencapai 14 ribu, Andi Arief membeberkan jika rakyat harus diberi kejelasan serius oleh presiden.

Kemudian, Andi Arief mengatakan jika kemunduran Presiden Soeharto dari jabatannya, karena jalan ekonomi yang ditempuhnya memuncak.

Sindir Rocky Gerung, Rustam Ibrahim: Menyombongkan Intelektualitas, Seolah Pemikirannya Sempurna

Inilah cuitan Andi Arief selengkapnya:

"Rupiah terus tergelincir. Sudah saatnya Rakyat diberi penjelasan serius oleh Presiden. Kenapa terjadi, dampaknya apa dan apa yg akan dilakukan dan sampai kapan ini akan terjadi tanpa atau dengan solusi. Ambil resiko abaikan elektabilitas dan kepuasan.

Soeharto itu mundur bukan hanya karena semata tekanan rakyat yang memuncak, tetapi juga karena merasa jalan ekonomi yang ditempuhnya menjadi sebab ketimbang obat sehingga dia kehilangan legitimasi, memaksa melanjutkan dengan yang bukan keyakinannya sama dg membuang waktu.

Cuitan Andi Arief (twitter)

Apakah Rakyat bisa salah titipkan harapan? Sekali2 bisa terjadi seperti di filipina selepas Ramos, rakyat jatuh hati pada populisme Estrada yang akan jadi pahlawan baru. Elit politik filipina cepat bereaksi dg bersatu mencegah kerusakan yg dalam di tengah rakyat maaih hanyut.

Elit politik terdidik dan berpengalaman yang biasanya punya alat penciuman yang tajam terhadap bahaya menempuh jalan yang salah. Jangan berharap rakyat lebih dahulu tahu. Elite politik jangan diam. Pers atau media massa akan kembali normal kalau makin banyak yang bicara.

Ada yang tanya contoh populisme yang menipu. Salah satu contohnya Tangisan di malam pengambilan keputusan apakah BBM akan dinaikkan di waktu2 lalu. Itu contoh kecil yang bisa menjawab banyak hal," tulisnya.

Cuitan Andi Arief (twitter)

Tanggapan Ruhut Sitompul saat Jokowi Ucapkan Terimakasih untuk SBY Jadi Sorotan