TRIBUNWOW.COM - Baru-baru ini Ombudsman Republik Indonesia (ORI) merilis hasil investigasi tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia.
Dari hasil investigasi tersebut, terungkap fakta bahwa data TKA yang dimiliki pemerintah dengan temuan lapangan sangat jauh berbeda.
Menurut pemerintah, TKA yang bekerja di Indonesia adalah tenaga ahli dan profesional.
Namun hasil temuan dari Ombudsman, nyatanya di lapangan mayoritas TKA bekerja sebagai buruh kasar.
Hal ini tentu menimbulkan reaksi dari hampir seluruh kalangan.
Mulai dari masyarakat biasa, seniman, hingga para pejabat dan politikus.
Sebut saja Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Politikus PKS Mardani Ali Sera, seniman Ratna Sarumpaet, dan masih banyak lagi.
Tak ketinggalan, Partai Gerindra pun turut menyampaikan pendapatnya.
Hal ini dimulai dari seorang netizen bernama Catur Arisanto (@arisanto_catur) yang menanggapi berita tentang usulan pembentukan pansus TKA.
Netizen tersebut tampak berdebat dengan netizen lain soal TKA.
Kemudian, Partai Gerindra pun mengatakan bahwa Prabowo Subianto punya pendapat berbeda.
Bung, mungkin banyak pemimpin yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia tidak bisa bersaing dengan bangsa lain, itu alasan mereka mengizinkan Tenaga Kerja Asing masuk ke Indonesia. Tapi, Pak @prabowo mempunyai pendapat yang berbeda.
Pak @prabowo berpendapat; Handal tidak handal rakyat kita, lemah atau kuat rakyat kita, kalau rakyat kita lemah harus dibikin kuat, kalau rakyat kita kurang pintar harus dibikin pintar, kalau rakyat kita kurang mampu harus dibantu menjadi mampu.
Bukan kita menyerah, bukan kita menyalahkan rakyat kita sendiri, bukan kita membiarkan rakyat kita untuk menjadi kacung bangsa lain.
Akun resmi Partai Gerindra (@Gerindra) pun turut memposting sebuah foto berita dengan headline 'Sopir Lokal Dibayar Rp 5 Juta, Sopir Asing Dibayar Rp 15 Juta'.
Partai Gerindra juga menekankan kembali temuan Ombudsman tentang TKA dari Tiongkok yang mayoritas bekerja sebagai buruh kasar.
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menemukan banyak Tenaga Kerja Asing (TKA), khususnya yang berasal dari China masuk ke Indonesia setiap hari. Sebagian besar TKI asal China itu bekerja sebagai buruh kasar. Sekali lagi buruh kasar.
Tenaga Kerja Asing khususnya dari Tiongkok arusnya deras, setiap hari masuk ke negara Indonesia.
Tenaga Kerja Asing yang bekerja sebagai buruh kasar salah satunya banyak ditemukan di Morowali, Sulawesi Tengah. Bahkan sopir angkutan barang kebanyakan berasal dari luar negeri.
Untuk anda ketahui dan renungi, sekitar 200 sopir angkutan barang di perusahaan di Morowali itu adalah Tenaga Kerja Asing.
Partai Gerindra juga menyoroti soal ketimpangan data yang dimiliki pemerintah dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Berdasarkan data resmi Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah TKA tahun lalu mencapai 126 ribu orang atau meningkat 69,85 persen dibandingkan akhir 2016 sebanyak 74.813 orang.
Padahal jumlah Tenaga Kerja Asing yang ada di lapangan masih lebih banyak lagi dari data yang diberikan oleh Kementerian Tenaga Kerja.
Di Papua saja, di Monokwari tahun 2017 di salah satu pabrik semen hampir 100 persen diisi oleh tenaga kerja asing. Datanya jauh berbeda di Pemerintah.
Pernah ditemukan setidaknya 500 orang asing yang menggunakan visa turis untuk bekerja di Indonesia. Perusahaan yang bersangkutan, juga tidak memberikan sanksi kepada orang-orang asing itu.
Kenapa tidak ada penindakan terhadap pelanggaran penggunaan visa itu? Terkesan seperti ada pembiaran. (TribunWow.com/Maria Novena Cahyaning Tyas)