Kabar Terbaru Gunung Agung, 7 Hal Ini yang Terjadi!

Editor: Dhika Intan Nurrofi Atmaja
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Gunung Agung mengeluarkan kepulan asap setinggi kurang lebih 3000 meter terlihat di Desa Kubu, Karangasem, Bali, Selasa (28/11).

TRIBUNWOW.COM - Sepanjang Sabtu (2/12) kegempaan Gunung Agung terpantau relatif menurun, namun aktivitas vulkanik masih tinggi.

Hal ini ditandai masih terekamnya gempa vulkanik dalam maupun vulkanik dangkal.

Pula, gempa-gempa frekuensi rendah dan juga gempa tremor menerus.

Demikian dijelaskan Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, Sabtu (2/12) di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Rendang, Karangasem. 

Terkait aktivitas terkini Gunung Agung, berikut fakta-fakta yang berhasil dihimpun dari PVMBG sepanjang hari ini.

1. Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi

"Dari kemarin sampai saat ini kondisi Gunung Agung aktivitas vulkanik masih tinggi. Masih terekam gempa vulkanik dalam dan dangkal.

Juga gempa low frekuensi dan juga gempa tremor menerus. Kalau dilihat, artinya masih ada tekanan di dalam perut gunung Agung. Ini masih kami perlu antisipasi kedepan akan seperti apa," jelas Devy.

Selain itu, diungkapkan Devy, terjadinya gempa terasa dengan amplitudo 3,5 skala ricther.

Gara-gara Bau Kaos Kaki Pria Ini Ditahan Polisi, Begini Kisahnya

Atas hal tersebut, Devy menjelaskan terjadinya gempa harus diwaspadai karena berkaitan dengan aktivitas Gunung Agung.

"Kemarin ada gempa terasa dengan amplitudo 3,5 skala ricther. Ini harus diwaspadai karena, gempa ini bisa berkaitan dengan aktivitas Gunung Agung," ujarnya.

 2. 8 kali gempa vulkanik dan dua kali hembusan terjadi sepanjang hari

Terkait dengan pengamatan aktivitas Gunung Agung periode enam jam dari pukul 00.00 Wita-06.00 Wita dipaparkan Devy, terpantau delapan kali gempa vulkanik, dua kali hembusan.

"Ini relatif tinggi aktivitasnya. Sehingga status masih level IV Awas," jelasnya.

Gunung Agung keluarkan kepulan asap setinggi kurang lebih 3000 meter terlihat di Desa Kubu, Karangasem, Bali, Selasa (28/11). (Tribun Bali/Rizal Fanany)

3. Lava terpantau oleh satelit di dalam kawah

Sementara untuk lava dari pantauan satelit, dijelaskan Devy, diestimasi bahwa sudah terdapat lava di dalam kawah Gunung Agung.

Disebutkannya, kawah Gunung Agung sendiri kedalamannya sekitar 200 meter.

 "Jadi visualisasi lava yang ada di dalam kawah tidak terlihat kalau dari bawah. Dari bawah ini kan kelihatannya tenang.

Tapi yang di atas sudah ada lava yang mengisi sekitar sepertiga volume kawah secara keseluruhan. Jika dikonversi sekitar 20 juta meter kubik," terang Devy.

 4. PVMBG akan terbangkan drone

Dengan masih tingginya aktivitas Gunung Agung, pihak PVMBG berencana akan menerbangkan pesawat tidak berawak (drone).

Namun dikatakan Devy, masih akan memperbaiki kondisi drone pasca berhasil diterbangkan beberapa waktu lalu.

"Kami masih memperbaiki kondisi drone yang sukses mengambil gas. Ini masih kami rencanakan, mudah-mudahan minggu depan," ujarnya.

Lebih lanjut diterbangkannya drone kata Devy, untuk mengambil visual Gunung Agung secara keseluruhan.

"Kami berusaha mengambil semuanya. Mengambil visual, gas. Tapi kalaupun hanya mengambil visual itu sangat bermanfaat untuk memonitoring kondisi lava di permukaan," ucapnya.

 5. Fenomena guratan berwarna coklat di lereng gunung

Ditanya, informasi teramatinya garis berwarna coklat di lereng gunung. Devy menerangkan, guratan-guratan berwarna abu yang terlihat dari puncak sampai ke bawah adalah material abu yang terbawa oleh hujan.

Alasan Demian Aditya Masih Bungkam Soal Kecelakaan yang Terjadi pada Edison Wardhana

"Kita lihat ada semacam guratan-guratan berwarna abu dari puncak sampai ke bawah, itulah material abu yang terbawa oleh hujan. Kalau sebelumnya kan tidak ada. Sementara pemantauan dari tim kami di lapangan, abu melanda wilayah puncak. Jatuhan abu ini sudah melanda wilayah puncak," terangnya.

Gunung Agung (Tribun Bali)

 6. Dampak abu vulkanik

Kembali ditanya, apakah jatuhan abu vulkanik itu berdampak pada tanaman. Pihaknya menegaskan, material abu yang jatuh memang berdampak merusak tanaman, bahkan bisa menghanguskan, jika dalam jarak yang relatif lebih dekat ke kawah.

"Jadi dampak langsung dari abu ini, berupa rusaknya lahan, kalau misalnya terkumpul dalam satu aliran sungai, terbawa oleh hujan dan menjadi lahar hujan. Kalau misalnya jauh bisa menganggu manusia. Sehingga masyarakat harus mempersiapkan diri dengan masker dan alat penutup mata. Karena partikel abu vulkanik bersifat korosif dan juga iritasi untuk mata, kulit dan juga sistem pernafasan," himbaunya.

Selain tanaman, apakah berdampak pada tanah, dan seperti apa dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Kembali dijelaskan Devy, jika melihat jangka pendek, banyak bencana. Artinya tanaman rusak, lahan tidak bisa lagi digunakan.

Tapi kalau melihat jangka panjang, ini adalah satu investasi kedepannya akan menjadi tanah yang subur dan masyarakat akan mendapat manfaatnya.

Letusan Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, terus membesar, Minggu (26/11/2017). (Kompas.com/Robinson Gamar)

"Artinya kalau proses erupsi ini sudah selesai, tidak ada lagi hujan abu. Abu akan terbawa oleh hujan, terserap tanah. Abu ini adalah mineral yang datang dari perut bumi. Mineral yang datang dari perut bumi ini mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk menentukan vertilitas dari tanah. Kedepannya ini akan menjadi tanah yang subur," jelas Devy.

 7. Pasca erupsi terkait recovery tanah pertanian

Ditanya kira-kira berapa lama proses recovery tanah menjadi subur, pasca erupsi. Pihaknya menyatakan tergantung besarnya eksplosif erupsi.

Ingat Jenazah Wanita Warga Depok Digerogoti 11 Anjing? Ternyata Ini Ras-rasnya, Bukan Anjing Buas

"Tergantung juga seberapa eksplosif erupsinya. Bisa jadi singkat dalam waktu misalnya beberapa bulan atau tahun. Misalnya efek kerusakan yang terlalu besar, recoverynya lebih lama. Jadi sangat tergantung seberapa besar efek dari eksplosifitas erupsi itu. Material vulkanik ini adalah material yang membawa kesuburan tanah. Jadi abu yang dikeluarkan ini, salah satunya adalah mineral yang baik untuk keseburan tanah," urainya. (*)

Berita ini telah dipublikasikan Tribun Bali dengan judul 7 Aktivitas Vulkanik Terkini Gunung Agung, PVMBG Ungkap Fenomena Guratan Berwarna Coklat Ini