TRIBUNWOW.COM - Kesedihan terus menyelimuti warga Suriah, terutama mereka yang ditinggalkan keluarga dan sahabat.
Cerita pilu datang dari seorang ayah dengan dua anak kembar bernama Abdul Hamid Youssed, ia mengatakan serangan kimia yang terjadi pada Selasa, (4/4/2017) menyerang ketika ia sedang tidur.
Saat dirinya terbangun, ia merasa kesulitan bernapas.
Kaget melihat serangan kimia tersebut, pria yang akrab disapa Youssef itu langsung bergegas bangun dari kamar tidurnya and memeriksa keadaan sang buah hati.
Mendapati anak kembarnya dalam keadan hidup, ia meminta sang istri untuk tetap tinggal di rumah.
Youssef bergegas keluar untuk menengok keadaan orang tuanya namun yang ia temui sungguh mengejutkan.
Orang-orang berlarian dengan sempoyongan kemudia terjatuh dijalanan.
Youssef dan keluarga besarnya tinggal dibagian utara Khan Sheikhoun, sebuah kota di Suriah, Provinsi Idlib.
Pada hari Selasa, serangan udara menyerang sebuah wilayah dekat dengan toko kue lokal bertubi-tubi, bahkan lokasi penyerangan tersebut hanya berjarak beberapa meter dari rumah Youssef.
Ternyata, itu bukanlah serangan biasa--Presiden Suriah Bashar al-Assad dituduh menggunakan senjata kimia dan menyerang daerah pemberontak ketika semua masyarakat sedang tertidur.
Keji, sesaat setelah Youssef sampai di kediaman orangtuanya, ia menemukan kedua saudara lelakinya tewas.
Merasa khawatir, ia bergegas kembali ke rumah untuk mengecek keadaan istri dan anaknya.
Namun yang dilihatnya bukan senyum sang istri dan kedua anak kembarnya.
" Ada busa yang keluar dari mulut mereka, istri dan anak-anakku kejang-kejang. Mereka semua terjatuh ke lantai," ungkapnya kepada wartawan CNN sehari setelah kejadian.
"Anak-anakku, Ahmad dan Alya, istriku.... mereka semua mati syahid" lanjutnya.
"Seluruh keluarga ku telah meninggal dunia"ujarnya.
Istri Youssef dan kedua anak kembarnya adalah korban dari serangan kimia paling mematikan dalam setahun di negara ini.
Investigasi dilakukan untuk mencaritahu siapa dalang dibalik peristiwa yang mengakibatkan 70 orang meninggal dunia tersebut.
Menurut para aktivis, anggota militer Suriah telah menolak untuk mengunakan senjata kimia dan menyalahkan para pemberontak atas pembantaian yang terjadi.
Youssef mengatakan, ia terjatuh lalu terbangun beberapa jam kemudian di rumah sakit untuk sebuah kenyataan yang menyakitkan- hampir semua keluarga besarnya tewas.
Sebanyak 25 orang keluarganya meninggal pada hari itu di Khan Sheikhoun.
"Saudara lelakiku, anak mereka, sepupu mereka... sekitar 25 orang anggota keluargaku tewas" ungkapnya.
Menurut laporan media lokal, pada saat penyerangan (4/4/2017) setidaknya ada 19 anggota keluarga Youssef terbunuh.
Istri dan kedua anak kembarnya termasuk dalam daftar korban meninggal dunia.
Sehari selang kejadian tersebut, Rabu (5/4/2017) orang-orang di bagian utara Suriah berkumpul untuk menguburkan jasad korban.
Sebuah foto menunjukan Youssef sedang merangkul kedua anaknya yang telah tewas dengan balutan selimut putih, menjadi viral di media sosial.
Foto lain memperlihatkan Youssef sedang duduk di pemakaman memegang mayat kedua anaknya.
Rekaman video lain, ia yang bersimpuh di pemakaman sang buah hati dan menangis.
"Aku menangis, namun ini adalah airmata bahagia." katanya yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan bahwa saat ini anak-anaknya telah bersama Tuhan, dan itu lebih baik daripada harus tinggal di Suriah.
"Anak-anakku bukanlah bocah pertama yang tewas" tambahnya dengan meneteskan air mata.
TribunWow.com/Lolita Valda Claudia