Breaking News:

Perang Israel Vs Hamas

Kesaksian Miris Tenaga Medis RS Al-Shifa: Dikepung Israel & Dengarkan Isak Tangis Anak Palestina

Cerita mencekam dari tenaga medis RS Al-Shifa saat pengepungan yang dilakukan oleh tentara Israel.

Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
Aljazeera.com
Jawdat Sami al-Madhoun saat menceritakan kisah mencekamnya ketika tentara Israel mengepung RS Al-Shifa di Kota Gaza. 

TRIBUNWOW.COM - Tenaga medis berusia 26 tahun dari RS Al-Shifa, Jawdat Sami al-Madhoun menjelaskan kronologi mencekam saat dirinya berhasil meninggalkan rumah sakit yang sudah terkepung oleh pasukan Israel, IDF.

Dilansir TribunWow.com dari Aljazeera.com, Jawdat Sami al-Madhoun menyatakan dirinya berhasil lari dari RS Al-Shifa yang pada saat itu sudah dikepung oleh pasukan Israel.

Pria yang berstatus sebagai asisten dokter itu berhasil pergi meninggalkan RS Al-Shifa di Kota Gaza dan berjalan sejauh 16 km (10 mil ke Deir el-Balah.

Sebagai informasi, Jawdat merupakan sukarelawan di unit gawat darurat Al-Shifa yang sudah membantu menangani korban sejak 25 hari sebelumnya.

Baca juga: Serang Gaza Selatan, Israel Sebar Selebaran Pamflet Agar Warga Palestina Ngungsi

Saat melakukan tugasnya, Jawdat bersama staf lainnya mencoba untuk membantu memulihkan korban cedera sebaik mungkin.

Bahkan seringkali tanpa obat-obatan dan perbekalan paling mendasar.

“Kami tidak dapat membantu yang terluka,” katanya kepada Al Jazeera pada hari Senin, sambil memalingkan wajahnya saat suaranya pecah.

Ia juga kerap melihat para korban sekarat tanpa bisa melakukan pertolongan apapun untuk menyelamatkannya.

Terkadang, para tenaga medis hanya bisa menyaksikan korban sekarat hingga tewas dihadapan mereka.

 “Mereka sekarat! Kami tidak bisa berbuat apa pun untuk menyelamatkan mereka. Kami hanya akan menyaksikan mereka mati.

Paling mengenaskan tentu adanya ratusan jenazah di halaman rumah sakit RS Al-Shifa yang tidak bisa dikuburkan.

“Ada ratusan jenazah di halaman rumah sakit. Kami bahkan tidak bisa menguburkannya.”

Jawdat Sami al-Madhoun 22
Jawdat Sami al-Madhoun, tenaga medis di RS Al-Shifa yang beberkan kesaksian mencekamnya saat rumah sakit Indonesia itu dikepung tentara Israel.

Baca juga: Spanyol Serukan Sanksi dan Desak Negara Lain Cabut Relasi ke Israel: Akhiri Genosida Warga Palestina

RS Al-Shifa Tak Bisa Bantu Orang Sakit dan Isak Tangis Anak Palestina

RS Al-Shifa telah dikepung oleh para pasukan Israel sejak Jumat (10/11/2023) malam.

Tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk atau keluar kompleks rumah sakit tertua dan terbesar di Gaza itu.

Pada Rabu lalu, pasukan Israel mengklaim telah menggerebek adanya pusat komando pejuang Hamas di dalam RS.

Namun, klaim yang dilakukan Israel hingga saat ini belum juga dapat dibuktikan.

Imbas pengepungan itu, RS Al-Shifa kehilangan pasokan listrik sejak Sabtu lalu.

Bahkan, segala aktivitas dihentikan karena peralatan medis yang tak bisa difungsikan karena tak adanya pasokan listrik.

Hal itu membuat inkubator berisi 39 bayi prematur juga berhenti.

Sejak itu, total sudah ada tujuh bayi meninggal dunia.

Jumlah korban terus bertambah karena rumah sakit masih belum bisa beroperasi atau ditutup.

Lebih lanjut, setidaknya sudah 179 mayat yang sudah dikuburkan di halaman rumah sakit.

Di sisi lain, Jawdat kembali bersaksi terkait kejinya penembak jitu Israel yang bakal menargetkan siapa pun yang bergerak.

Jawdat Sami al-Madhoun 453
Jawdat Sami al-Madhoun saat menceritakan kisah mencekamnya ketika tentara Israel mengepung RS Al-Shifa di Kota Gaza.

Baca juga: Fakta Viral Oknum Satpam di Bekasi Larang Pengendara Pasang Bendera Palestina, Kini Dinonaktifkan

Ia juga menceritakan kesaksiannya setelah mendengarkan nasib pilu gadis berusia 13 tahun yang ditinggal kedua orang tua dan saudara laki-lakinya.

Bahkan, dirinya putus asa dan menginginkan untuk turut meninggal saja menyusul orang tua dan saudara laki-lakinya.

“Saya adalah seorang sukarelawan,” katanya.

 “Saya akan menerima orang-orang, melakukan triase pada beberapa kasus, dan membalut siapa pun yang dapat saya bantu. Saya bukan perawat terlatih, tapi saya mempelajarinya selama sekitar satu setengah tahun, jadi saya ingin melakukan sesuatu, apa saja, untuk membantu.

“Suatu hari, empat gadis kecil yang cantik datang, yang tertua berusia sekitar 13 tahun, hanya satu dari mereka yang terluka… mereka datang bersama keluarga mereka yang telah meninggal, ayah, ibu, saudara laki-laki, kami melakukan apa yang harus kami lakukan dan menguburkan mereka. ,” Jawdat berhenti lagi, menundukkan kepala dan terisak.

“Gadis kecil yang terluka itu menatapku dan berkata: 'Tolong, Paman, biarkan aku mati bersama mereka. Saya tidak tahu bagaimana saya akan hidup tanpa orang tua dan saudara laki-laki saya," jelas Jawdat.

Pada hari lainnya, ia juga pernah mendengarkan cerita menyesakkan dari anak laki-laki berusia 12 tahun yang terluka parah seusai serangan membabi buta dilakukan Israel dan menewaskan keluarganya.

“Di hari lain, kami menerima seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, yang terluka parah akibat serangan yang menewaskan keluarganya. Setiap kali dia melihatku, dia akan berkata: 'Bisakah kamu menyembuhkanku atau membiarkanku [mati] bersama mereka?'

“Saya tidak tahu dari mana kami mendapat tenaga untuk melakukan pekerjaan ini. Tuhan pasti memberi kita semua kekuatan untuk terus maju. Para dokter bekerja dengan panik. Mereka rela bekerja selama tiga, empat hari berturut-turut tanpa tidur, melakukan apa pun asalkan bisa menyelamatkan satu anak lagi, satu orang lagi," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menceritakan bagaimana dirinya harus merasakan kehilangan teman dekatnya yang tewas dibunuh oleh tentara Israel.

“Saya punya teman, Islam al-Munshid; Saya terkejut menemukan dia di ruang tunggu suatu hari, terluka parah. Ternyata dia terluka dalam serangan Israel di gerbang al-Shifa sehari sebelumnya, dan saya belum pernah melihatnya di tengah-tengah semua luka yang terjadi. Saya bertanya kepada dokter bagaimana keadaannya, dan mereka berkata : 'Otaknya mati, tapi tubuhnya masih bernapas. Doakan dia beristirahat dengan tenang.'

“Tiga hari, 72 jam, saya akan pergi dan memeriksanya setiap jam untuk melihat apakah dia masih bernapas atau tidak hingga akhirnya dia meninggal.

“Tidak ada yang bisa kami lakukan. Seandainya kami punya peralatan sedikit pun, mungkin kami bisa membantunya, tapi kami tidak punya apa-apa, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tengkoraknya patah di dua tempat, dan dia memerlukan operasi segera untuk menyelamatkan nyawanya, tapi kami tidak bisa," pungkasnya.

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

Baca Berita Terkait

 

 

Tags:
PalestinaIsraelPerang Israel Vs HamasHamas
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved