Pilpres 2024
Pakar Sebut Teguran Sekjen PDIP Ditujukan ke Ganjar: Hanya Dia yang Ingin Jadi Capres atau Cawapres
Pakar nilai teguran Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto ditujukan pada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menanggapi teguran Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto terhadap kadernya.
Dilansir TribunWow.com, Ujang Komarudin menilai larangan yang diungkap Hasto Krisyanto tersebut ditujukan pada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Adapun yang disampaikan Hasto Kristiyanto tersebut adalah larangan pada kepala daerah yang kerap berkunjung ke ibu kota.
Baca juga: Kalahkan Ridwan Kamil hingga Khofifah, Ganjar Wakili Jateng Terima Green Leadership KLHK 2021
Seperti dilaporkan Tribunnews.com, Ujang Komarudin yang merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, mengungkapkan spekulasi berdasar kader PDIP yang digadang masuk Pilpres 2024.
Selain Ketua DPR RI Puan Maharani, Ganjar Pranowo adalah satu-satunya sosok yang memiliki elektabilitas menjadi bakal calon Presiden.
"Ya kelihatannya larangan itu ya berlaku spesifik kepada Ganjar walaupun memang larangan tersebut untuk semua kader yah."
"Tapi kelihatannya di PDIP itu kan yang punya keinginan untuk mencapreskan diri itu kan ya Ganjar dengan Puan," terang Ujang, Jumat (22/7/2022).
Namun larangan Hasto tersebut tak dinilai janggal, lantaran pada 2020, PDIP juga menyatakan larangan bagi kepala daerah untuk bicara soal pencapresan.
"Tetapi saya melihat PDIP Konsisten dari dulu yah. Dari tahun 2020 lah kalau enggak salah, itu PDIP membuat surat kepada seluruh kadernya larangan untuk berbicara terkait dengan pencapresan," beber Ujang.
Larangan kampanye yang disampaikan Hasto kali ini dianggap lebih spesifik untuk melarang perorangan yang tertuju pada Ganjar.
"Ya saya sih melihatnya ini arahnya kepada Ganjar karena hanya Ganjar yang punya keinginan untuk bisa menjadi capres atau cawapres lah kira-kira seperti itu," kata Ujang.
Ia pun meminta semua pihak menghormati keputusan partai yang diyakini sudah memiliki mekanisme tersendiri.
"Bagaimanapun pihak luar tidak bisa cawe-cawe atau ikut campur terkait dengan keputusan itu karena bagaimanapun PDIP pasti punya mekanisme, punya cara terkait dengan persoalan pencapresan. Nah arah kelihatan keputusan tersebut kelihatannya tertuju pada Ganjar. Saya melihatnya seperti itu."

Baca juga: Ganjar dan Puan Bersaing? Para Ahli Ungkap Alasan Bungkamnya Megawati soal Bakal Capres PDIP
Sebelumnya, dalam konferensi pers secara daring, Kamis (21/7/2022), Hasto mengaku pernah menegur kepala daerah dari kader PDIP.
Teguran itu dikeluarkan lantaran kepala daerah yang dimaksud sering berkunjung ke DKI Jakarta.
Padahal, untuk melakukan kunjungan, kader partai harus mendapat surat penugasan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) atau undangan resmi dari kepala daerah.
Menurut Hasto, mekanisme tersebut ditetapkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang menginstruksikan soft campaign pada seluruh kadernya.
"Batasan yang diberikan PDI Perjuangan adalah bagi kepala daerah yang akan menjalankan tugasnya tentu saja skala prioritas harus ditempatkan di wilayah yang dipimpinnya, kita tidak ingin seorang kepala daerah tidak mengakar dan tidak membangun legasi di wilayahnya," kata Hasto.
"Kami pernah mengkritik dengan memberikan teguran tertulis kepada kepala daerah yang terlalu sering ke Jakarta. Karena ketika menjadi kepala daerah ya tugasnya membangun kemajuan daerahnya. Jadi setiap kader partai harus konsentrasi dengan tugas di wilayahnya."
Baca juga: Saat Ganjar Ledek Gibran dalam Pertemuan di Solo, Bandingkan dengan Jokowi: Bapaknya Sering Nyanyi
Megawati soal Bakal Capres PDIP: Kalian yang Membuat Manuver, Keluar!
Sebelumnya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri buka suara mengenai bakal calon presiden yang hendak diusung partainya.
Ia pun memperingatkan pada seluruh anggota partai yang dinilai mempertanyakan kewenangannya.
Hal ini disinggung Megawati setelah sebelumnya partai Nasdem mengusulkan nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi bakal capres yang akan diusung.

Baca juga: Momen Kejutan Ultah Jokowi saat Rakernas II PDIP, Beri Tumpeng ke Megawati dan Diiringi Nyanyian KD
Dilansir TribunWow.com dari kanal YouTube Tribunnews, Selasa (21/6/2022) pernyataan tersebut diungkapkan Megawati saat berpidato di acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDIP.
Megawati saat itu menyoroti kepatuhan dan kedisiplinan para kader terhadap perintah partai.
Ia kemudian mengatakan ada sejumlah pihak yang mempertanyakan mengapa partainya belum menentukan calon presiden untuk Pemilu 2024.
"Banyak yang selalu mau memutar balikkan, mau menggoreng-goreng, 'Mengapa PDI diam saja? Tidak pernah mau mencalonkan seseorang," ujar Megawati.
Dengan tegas, Megawati terang-terangan meminta mereka yang tidak mematuhi instruksinya untuk keluar dari partai tersebut.
"Kalian, siapa yang membuat manuver, keluar," seru Megawati dengan lantang.
"Tidak ada di dalam PDI Perjuangan yang namanya main dua kaki, main tiga kaki melakukan manuver."
Sembari mengacungkan jari telunjuk, Megawati mengingatkan bahwa hanya dialah yang memiliki kuasa untuk menunjuk capres dari PDIP.
"Karena saya diberi oleh kalian sebuah hak yang namanya hak prerogatif. Hanya ketua umum yang menentukan siapa yang akan menjadi calon presiden dari PDI Perjuangan."
Kembali, Megawati mendesak agar mereka yang tak mematuhi keputusan partai untuk mengundurkan diri.
Kalau tidak, ia akan turun langsung dan memecat kader tersebut.
"Ingat loh, lebih baik keluar deh, daripada saya pecati lho kamu," ancam Megawati.
"Biar saja ini terbuka, semua orang biar tahu, inilah organisasi dari sebuah partai yang namanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang mengikuti aturan partainya dan solid bersama dengan rakyat," pungkasnya.(TribunWow.com/Via)
Sebagian artikel ini diolah dari Tribunnews.com dengan judul "Kader PDIP Dilarang Keluar Kota, Pengamat: Tertuju pada Ganjar Pranowo", dan "Hasto Cerita Pernah Beri Teguran Tertulis kepada Kepala Daerah PDIP karena Sering ke Jakarta"