Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Menhan Ukraina Tanggapi Isu Militernya Jual Senjata Bantuan Barat: Kita Perlu Bertahan Hidup

Ukraina akhirnya memberikan tanggapan soal rumor pihaknya jual senjata bantuan dari Barat.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
AFP / Sergei SUPINSKY
Bantuan senjata anti tank javelin tipe FGM-148 yang dikirimkan AS untuk tentara Ukraina. Terbaru, Ukraina beri bantahan soal isu penjualan senjata bantuan Barat, Jumat (15/7/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Menteri Pertahanan Ukraina Oleksii Reznikov telah membantah kemungkinan penyelundupan senjata yang dikirim oleh Barat.

Dilansir TribunWow.com, ia menegaskan bahwa Ukraina membutuhkan senjata tersebut untuk melawan agresi bersenjata Rusia.

Sehingga, tak ada alasan bagi pihaknya untuk menjual senjata kiriman tersebut.

Baca juga: 3 Kolonel Rusia Tewas dalam Sehari, Diduga Jadi Korban Senjata Bantuan Barat untuk Ukraina

Seperti dilaporkan Ukrinform, Jumat (15/7/2022), pernyataan ini dibuat oleh Reznikov dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.

“Kita perlu bertahan hidup. Kami tidak punya alasan untuk menyelundupkan senjata dari Ukraina,” kata Reznikov.

Dalam kata-katanya, beberapa sekutu barat mengirim perwakilan militer ke Ukraina untuk mengawasi penyaluran senjata yang mereka sumbangkan.

Reznikov pun mengundang negara yang lain untuk mengikuti cara tersebut demi memastika bantuan mereka digunakan secara efektif.

Menurut Reznikov, Ukraina menggunakan perangkat lunak NATO, yang diperoleh pada 2019, untuk memantau tujuan dan penggunaan senjata yang disediakan oleh barat, yang dapat diakses oleh sekutu NATO.

Namun, ia memiliki jumlah lisensi dan pengguna terlatih yang terbatas, yang kini coba ditingkatkan oleh Ukraina.

“Kami harus bergerak maju dengan cepat. Kami memahami itu,” kata Reznikov.

Menteri Luar Negeri Ukraina Oleksii Reznikov mengumumkan kedatangan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) dari AS, Kamis (23/6/2022).
Menteri Luar Negeri Ukraina Oleksii Reznikov mengumumkan kedatangan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) dari AS, Kamis (23/6/2022). (Twitter @oleksiireznikov)

Baca juga: Militer Ukraina Disebut Jual Senjata Bantuan Barat Bekerja Sama dengan Kelompok Kriminal

Ia menambahkan bahwa sistem yang saat ini hanya dikelola secara terpusat, akan diperluas ke tingkat brigade dan mungkin ke batalyon.

Ukraina juga mengembangkan dua sistem pelacakan lain untuk bekerja secara paralel dengan perangkat lunak NATO.

Reznikov menekankan tidak ada kemungkinan sistem senjata berat, seperti howitzer 155mm atau sistem roket yang dipasok AS akan dicuri.

Pasalnya peralatan tersebut semuanya memiliki pelacak GPS, dan satelit militer barat juga dapat mengawasi peralatan besar.

Senada dengan hal tersebut, sebelumnya penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Mykhaylo Podolyak menyebut isu penjualan senjata itu hanya propaganda.

Mengatakan melalui akun Twitter pribadinya, ia menegaskan bahwa semua senjata yang diterima oleh Ukraina telah secara hati-hati diperhitungkan kemudian dikirim ke garis depan.

“Semua rumor lainnya adalah propaganda dangkal yang bertujuan untuk mengganggu pasokan,” cuit Podolyak.

Baca juga: Nyatakan Rusia Negara Teroris, Ukraina Kecam Serangan ke Vinnytsia yang Ikut Tewaskan 3 Anak-anak

Bantuan Senjata ke Ukraina Diduga Dijual di Darknet

Sejak berkonflik melawan Rusia, Ukraina kerap mendapat bantuan senjata khususnya dari negara-negara barat, mulai dari Amerika Serikat (AS), Prancis, hingga Inggris.

Sebuah investigasi yang dilakukan oleh media asal Rusia RT, beberapa senjata kiriman negara barat untuk Ukraina ditemukan dijual bebas di darknet.

Dikutip TribunWow.com dari kompas.com, darknet diketahui merupakan sisi gelap internet yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.

Sebuah investigasi yang dilakukan oleh media asal Rusia RT, beberapa senjata kiriman negara barat untuk Ukraina ditemukan dijual bebas di darknet.
Sebuah investigasi yang dilakukan oleh media asal Rusia RT, beberapa senjata kiriman negara barat untuk Ukraina ditemukan dijual bebas di darknet. (rt.com)

Baca juga: AS Ikut Konflik Ukraina-Rusia, Biden Panen Kritik Disindir Trump hingga Diminta Fokus Urus Utang

Konten yang ada di darknet diketahui berhubungan dengan tindak kriminal, mulai dari layanan transaksi narkoba, peretasan, pencucian uang, pornografi anak, hingga menyewa pembunuh bayaran.

Berdasarkan penelusuran tim investigatif rt.com, ditemukan senjata kiriman Inggris berupa misil anti-tank.

Senjata anti-tank ini dihargai 15 ribu dollar atau setara Rp 200 juta.

Sebagai informasi, harga misil anti-tank buatan Inggris tersebut dijual secara resmi dengan harga Rp 400 juta.

Selain senjata buatan Inggris, ditemukan juga drone hantu buatan AS yang dijual seharga puluhan juta rupiah.

Tim investigatif rt menjelaskan, pihaknya tidak menjalankan transaksi hingga memeroleh barang tersebut sehingga masih ada kemungkinan penjual di darknet tersebut hanyalah penipu.

Baca juga: Alasan Putin Terima Sejumlah Pimpinan Negara Pakai Meja Panjang, Berbeda saat Bertemu dengan Jokowi

Namun tim investigatif rt turut menemukan adanya tambahan jasa penyelundupan senjata dari Ukraina ke Polandia.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa para penyelundup senjata telah memiliki koneksi dengan para penjaga perbatasan Polandia-Ukraina.

Pada bulan Juni 2022, Kepala Polisi Internasional, Jurgen Stock telah memperingatkan akan potensi senjata bantuan negara barat dijual secara bebas di pasar gelap.

"Kelompok kriminal mencoba memanfaatkan situasi kacau dan ketersediaan senjata, bahkan (senjata) yang digunakan oleh pasukan militer, termasuk senjata berat," kata Stock.

Stock mengatakan, jual beli senjata ini tidak hanya terbatas kepada negara tetangga, namun ada kemungkinan di jual antar benua. (TribunWow.com/Via/Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaVladimir PutinUkrainaVolodymyr Zelensky
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved