Konflik Rusia Vs Ukraina
Isi Pelajaran Perang Ukraina di Sekolah Rusia, Diduga untuk Doktrin Anak soal Pembenaran Invasi
Departemen pendidikan Rusia dilaporkan telah memasukkan materi Perang Ukraina dalam kurikulumnya.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Departemen pendidikan Rusia dilaporkan telah memasukkan materi Perang Ukraina dalam kurikulumnya.
Propaganda seputar isu-isu tersebut akan diajarkan ke anak-anak mulai sekolah dasar hingga SMA.
Selain itu, pemerintah mendorong upaya indoktrinasi bela negara dengan memberi materi mengenai kebangsaan.

Baca juga: Gagal Bujuk Bos Kantor Berita Ukraina, Rusia Rilis Koran Tiruan Berisi Propaganda
Baca juga: Sebut Putin Berbohong, Arnold Schwarzenegger Ungkap Propaganda Rusia terhadap Perang Ukraina
Dilansir TribunWow.com dari The Guardian, Sabtu (23/4/2022), Menteri Pendidikan Sergey Kravtsov mengatakan pihaknya telah mulai mengembangkan pelajaran tentang tujuan 'operasi khusus'.
Ditekankan bahwa alasan Rusia menyerang Ukraina adalah untuk membantu rakyat, menggalakkan denazifikasi, dan demiliterisasi Donbas.
Adapun tujuan materi khusus itu diajarkan di sekolah adalah untuk melawan badai disinformasi palsu tentang Rusia.
Pelajaran-pelajaran itu secara kondisional disebut ‘Percakapan tentang topik-topik penting’.
"Kami tidak akan pernah membiarkan (sejarah ditulis dengan catatan) bahwa kami memperlakukan negara lain, negara persaudaraan kami, Ukraina dan Belarus, dengan buruk," tutur Kravtsov.
"Kami akan melakukan segalanya dengan kekuatan kami sehingga memori sejarah tetap terjaga."
"Dan mulai 1 September, selain itu, akan ada pengibaran bendera nasional di awal minggu sekolah, menampillkan lagu kebangsaan," katanya.
Bocoran manual untuk kuliah khusus tahun ini telah menunjukkan bahwa guru Rusia diberitahu untuk mengajari siswa bahwa Rusia tidak menginvasi Ukraina.
Alih-alih, Rusia disebut mempraktikkan pertahanan diri terhadap ancaman yang diciptakan dan mencegah bencana yang bahkan lebih besar daripada hari ini.
Dalam pelajaran terpisah tentang 'sanksi anti-Rusia', para guru diminta untuk bertanya kepada siswa apakah sanksi itu adil, apakah sanksi itu justru akan memperkuat ekonomi Rusia, dan siapa yang akan dirugikan.
"Guru bersama siswa menyimpulkan bahwa kebijakan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir ditujukan untuk meningkatkan perlindungan produsen dalam negeri, memastikan keberlanjutannya dalam menghadapi krisis eksternal," bunyi intruksi dalam dokumen tersebut.
Denis Lanshchikov, seorang guru sejarah di sebuah sekolah swasta di Moskow mengatakan buku pedoman pelajaran, atau metodichki baru itu, sejauh ini tidak wajib digunakan.