Konflik Rusia Vs Ukraina
Sosok 2 Master Perang Putin, Ahli Militer dan Konspirasi yang Pimpin Invasi Rusia ke Ukraina
Sejak invasi Ukraina dimulai, dua orang kepercayaan Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi tokoh sentral dalam pelaksanaan agresi tersebut.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Sejak invasi Ukraina dimulai, dua orang kepercayaan Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi tokoh sentral dalam pelaksanaan agresi tersebut.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Valery Gerasimov, menjadi sosok yang memegang peranan penting.
Keduanya menjadi perwajahan perang yang digunakan sebagai alat pemenuhan ambisi Vladimir Putin untuk menguasai Ukraina.
Baca juga: Putin 3 Kali Gagal Lakukan Upaya Pembunuhan Zelensky, Tempatkan Pasukan Bayangan Rusia di Ukraina
Baca juga: Presiden Ukraina Zelensky Vs Presiden Rusia Putin, Mantan Komedian dan Eks KGB, Siapa Lebih Unggul?
Dikutip TribunWow.com dari kanal berita France24, Minggu (6/3/2022), keduanya memiliki kedekatan khusus dengan Putin.
Di mata Putin, mereka adalah arsitek suksesnya kampanye pencaplokan Krimea pada 2014, strategi militer Rusia di Suriah serta dukungan bagi pemberontak pro-Rusia di wilayah Donbas.
Duo ini juga dianggap sebagai salah satu pengikut Putin yang paling setia.
Tidak mengherankan jika Kremlin memutuskan untuk menempatkan Shoigu dan Gerasimov dalam sorotan.
Keduanya menduduki jabatan masing-masing pada tahun 2012, yang uniknya, ditunjuk hanya berselang beberapa hari.
Dikatakan bahwa Shoigu akan tetap menjabat selama Gerasimov tetap menjadi kepala staf dan sebaliknya
Namun, dua orang yang berada di garis depan pelaksanaan wasiat presiden Rusia di Ukraina ini, rupanya memiliki latar belakang dan profil yang sangat berbeda.
Sementara Shoigu ahli dalam hal politik dan konspirasi, Gerasimov lebih mahir dalam bidang kemiliteran.
Sergei Shoigu
Shoigu adalah anggota dari lingkaran kekuasaan pertama yang memiliki banyak pengaruh di bawah Boris Yeltsin pada akhir 1990-an .
Aparatchik berusia 66 tahun itu memulai karir politiknya di akhir era Soviet, dengan menjadi menteri pertahanan pada tahun 2012.
Shoigu disebut kurang memiliki pengalaman militer maupun pengetahuan dinas rahasia.
Namun, Shoigu disebut memiliki kemampuan adaptasi yang baik, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan pejabat tinggi Rusia yang dengan mudah berganti.
Dia terutama mengepalai partai Rusia Bersatu, dan memiliki peran memperkuat cengkeraman Putin pada permainan politik Rusia.
Menurut The Guardian, Shoigu digambarkan bertanggung jawab atas modernisasi besar-besaran tentara Rusia.
Selain itu, sebagai menteri pertahanan, Shoigu juga mengawasi dinas intelijen militer Rusia atau GRU yang ditakuti.
Ia diduga kuat menjadi dalang dalam meningkatnya operasi pembunuhan di Eropa pada 2010-an.
Termasuk percobaan pembunuhan dengan racun pada mantan agen ganda Sergei Skripal di Salisbury pada 2018.
Valery Gerasimov
Valery Gerasimov telah dianggap sebagai legenda dalam bidang kemiliteran Rusia.
Ia lahir pada tahun 1955 di Kazan, salah satu kota terpadat di Rusia.
Gerasimov tergabung dalam divisi lapis baja Tentara Merah yang bertugas saat Uni Soviet masih menjadi kesatuan.
Kemudian, ia menjadi satu dari antara komandan tentara Kaukasus Utara selama perang Chechnya kedua (1999-2009).
Gerasimov, yang digambarkan oleh Shoigu sebagai pria militer dari ujung kepala sampai ujung kaki, memimpin operasi di Ukraina pada 2014, di Suriah, dan sekarang, sekali lagi, di Ukraina.
Dia dikatakan sebagai penemu perang hibrida Rusia, yang menggabungkan penggunaan senjata konvensional dengan metode non-militer, seperti disinformasi atau serangan siber.
Baca juga: Sosok Andrei Sukhovetsky, Jenderal Top Rusia yang Tewas di Tangan Penembak Jitu Ukraina
Baca juga: Invasi Rusia ke Ukraina Hari Kesembilan, Berikut Sepak Terjang Pasukan Putin dalam Upaya Kuasai Kiev
Jenderal Tinggi Rusia Terbunuh Dalam Perang Ukraina
Satu Jenderal top Rusia, yaitu Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky dikabarkan tewas dalam peperangan di Ukraina pada Jumat (4/3/2022).
Andrei Sukhovetsky, dilaporkan tewas karena ditembak oleh penembak jitu atau sniper Ukraina dalam pertempuran memperebutkan Bandara Hostomel.
Adapun, lokasi Bandara Hostomel yang jaraknya 30 mil atau sekitar 48 km di luar ibu kota Ukraina.
Mayjen Sukhovetsky, merupakan jenderal dengan pangkat tertinggi yang tewas di Ukraina sejak Putin mengumumkan operasi militer terhadap Ukraina.
Dilansir dari Hitch.com, kabar itu pertama kali disampaikan oleh media pendukung Kremlin, Pravda.
Pravda, menulis bahwa pejabat tinggi militer tewas dalam pertempuran.
Meskipun tak dijelaskan secara detai, dan tak ada konfirmasi dari Kementerian Pertahanan Rusia,
Namun, Sergey Chipilev, yang dikenal merupakan kerabat korban menyatakan duka citanya kepada Sukhovetsky.
Selain itu, Kremlin juga mengonfirmasi bahwa ada 498 tentara Rusia telah kehilangan nyawa mereka dalam konflik dan lebih dari 1.500 terluka.
Di sisi lain, Ukraina mengklaim korban tewas Rusia sebenarnya hampir 20 kali lebih tinggi, dengan sekitar 9 ribu tentara tewas dalam aksi.
Sedangkan, di pihak Ukraina ada sekitar 2 ribu warga sipil tewas selama delapan hari.
Korban tewas rata-rata diakibatkan oleh penembakan dan serangan udara dari pihak Rusia..
Sedikitnya 33 orang tewas kemarin dalam serangan udara di Chernihiv, utara ibu kota.
Sukhovetsky bukanlah sosok jenderal yang berperang di belakang meja.
Selain tampil di medan perang di Ukraina, Sukhovetsky juga diketahui merupakan veteran perang Suriah.
Dia, ditugaskan sebagai perwira pada tahun 1995, memimpin Divisi Lintas Udara Pengawal ke-7.
Berdasarkan sebuah sumber, diketahui bahwa Sukhovetsky dikenal karena memimpin misi di wilayah musuh-musuh Rusia. (Tribunwow.com/Via/Afzal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/pejabat-rusia-kepercayaan-putin-valery-gerasimov-dan-sergei-shoigu-pimpin-invasi-ke-ukraina.jpg)