Terkini Daerah
Terdampak Waduk, Warga Ponorogo Ramai-ramai Pindahkan Makam yang Ada sejak Zaman Belanda
Warga memilih memindahkan makam karena takut makam leluhurnya akan tenggelam, terdampak oleh Waduk Bendo yang baru saja diresmikan.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Sejumlah warga di Desa Ngadirojo, Sooko, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, berbondong-bondong membongkar makam milik leluhurnya untuk dipindahkan ke tempat yang baru.
Warga memilih memindahkan makam karena takut makam leluhurnya akan tenggelam, terdampak oleh Waduk Bendo yang baru saja diresmikan.
"Karena takut tenggelam, (airnya) sudah mendekati pemakaman ini," kata warga setempat bernama Bonari. dalam Youtube Kompas TV, Selasa (30/11/2021).
Baca juga: Dapat Bisikan Gaib, Pria Ini Gali Makam Istri yang Meninggal 25 Hari Lalu, Sudah 2 Kali Dilakukan
Baca juga: Kesaksian Penggali Kubur yang Makamkan Jenazah Vanessa Angel dan Bibi, Jam 3 Dini Hari Gali Makam
Kini, warga di sana pun berharap mendapat kompensasi dari pihak pemerintah untuk bisa memindahkan makam leluhur mereka.
Selama ini, warga yang memindahkan makamnya hanya menggunakan alat seadanya dengan biaya sendiri.
"Harapan saya ke depan minta ganti lahan untuk masa depan anak saya yang masih di dunia," ujarnya.
Waduk Bendo sendiri baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada bulan September lalu.
Dengan adanya waduk itu, diharapkan bisa mengairi pertanian dan mencegah banjir.
Kepala Desa Ngadirojo, Pamijo mengaku mendekatnya air ke dekat pemakaman membuat pemerintah desa terkejut.
Pasalnya, air diperkirakan baru akan mendekati area pemakaman setelah lebih dari satu tahun.
Baca juga: Pertama Kali Bantu Proses Autopsi, Penggali Kubur Cerita Tak Bisa Makan 3 Hari seusai Bongkar Makam
"Dari pemerintah desa terkejut, dari pihak waris pun terkejut, karena, penjelasan awal ukur patok dasar itu, katanya sampai makam itu memerlukan beberapa tahun yang akan datang. Jadi makanya masyarakat itu agak lengah," katanya.
Namun, kini air sudah mendekati makam, diperkirakan jarak pemakaman dan aliran air hanya 50 meter,
Menurut Pamijo, usai difungsikan, air langsung mendekati pemakaman.
"Ternyata itu enggak sampai setahun, harian pun sudah bergerak ke makam itu," ujarnya.
Ia pun kemudian berkoordinasi dengan pihak berwenang yaitu Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk menindak lanjuti.
Katanya, pihak BBWS akan melakukan sosialisasi terkait masalah ini pada Kamis (2/12/2021) besok.
Makam yang akan dipindahkan pun disebut sebagai makam tertua yang ada di desa tersebut.
Ada ribuan makam yang sudah ada sejak zaman Belanda menjajah Indonesia.
"Jadi jumlahya itu mungkin ribuan, karena itu makam tertua di Desa Ngadirojo, itu, zaman Belanda pun sudah ada," jelasnya.
Terkait biaya, Pamuji meyakini bahwa akan ada ganti rugi dari pihak BBWS.
Namun, ia masih menunggu hasil pertemuan yang akan dilakukan esok lusa.
"Aku yakin pasti ada ganti ruginya, ini swadaya, karena warga desa sendiri takut, nanti hujannya lebat pasti tergenang. Nanti sulit untuk memindahkannya," jelasnya.
Menurut dia, dari warga sendiri meminta uang ganti rugi sebesar Rp 5 juta per jenazah untuk biaya bongkar makam, ritual, dan mengganti tempat makam.
Namun hal itu masih akan dikomunikasikan dengan pihak BBWS.
Sementara makam warga yang sudah dibongkar dipindahkan ke TPU induk yang ada di sekitar desa.
Pamuji menyebut, sebagai alternatif lain, sudah ada warga yang bersedia tanahnya untuk ditukar guling atau dibeli untuk dijadikan pemakaman baru.
"Keputusan warga intinya minta ganti rugi lahan ke BBWS," ujarnya.
Simak video lengkapnya di bawah ini:
(TribunWow.com/Afzal Nur Iman)