Breaking News:

Terkini Internasional

Konflik Perihal Kapal Selam, Perancis Sebut AS-Australia Berbohong seusai Tarik Duta Besar

Pakta keamanan AS, Australia dan Inggris membuat Perancis marah karena kontrak pembelian kapal selamnya batal dan lakukan penarikan duta besar

YouTube/France 24
Menteri Urusan Eropa dan Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian. Pakta keamanan AS, Australia dan Inggris membuat Perancis marah karena kontrak pembelian kapal selamnya batal dan lakukan penarikan duta besar. 

TRIBUNWOW.COM – Menteri Urusan Eropa dan Luar Negeri Perancis mengecam apa yang disebutnya "kepura-puraan, penghinaan, dan kebohongan" atas putusnya kontrak pembelian kapal selam Perancis oleh Australia.

Jean-Yves Le Drian menuduh Australia dan Amerika Serikat (AS) berbohong atas pakta keamanan baru yang mendorong Paris menarik duta besarnya pada Jumat lalu, dilansir dari BBC pada Minggu (19/9/2021).

Dalam wawancara dengan media Perancis, Jean-Yves Le Drian juga menuduh negara-negara tersebut bermuka dua dan terjadi pelanggaran besar terhadap kepercayaan serta adanya penghinaan.

Presiden Joe Biden menunjuk Perdana Menteri Australia, Scott Morrison dalam konferensi pers virtual pengumuman pakta keamanan Aukus pada Rabu (15/9/2021).
Presiden Joe Biden menunjuk Perdana Menteri Australia, Scott Morrison dalam konferensi pers virtual pengumuman pakta keamanan AUKUS pada Rabu (15/9/2021). (YouTube/The Guardian)

Baca juga: Momen Presiden Joe Biden Lupa Nama Perdana Menteri Australia saat Umumkan Pakta Keamanan Baru

Baca juga: Mantan Menteri Kesehatan Perancis Diselidiki setelah Dianggap Abaikan Pandemi Virus Covid-19

Le Drian mengungkapkan penarikan duta besar Perancis menandakan krisis antara sekutu.

Peristiwa penarikan duta besar Perancis untuk AS adalah yang pertama kali terjadi dalam sejarah hubungan diplomatis keduanya.

Begitu pula dengan penarikan duta besar Perancis untuk Australia.

"Keputusan luar biasa ini mencerminkan keseriusan dari pengumuman yang dibuat pada 15 September oleh Australia dan Amerika Serikat," kata Le Drian pada Jumat lalu, dikutip dari CNN, Minggu (19/9/2021).

Le Drian juga menyatakan pengabaian atas kesepakatan proyek kapal selam yang sudah dimiliki Australia dan Perancis sejak 2016 lalu, tidak bisa diterima antara sekutu sekaligus mitra.

“Konsekuensinya memengaruhi konsep yang kami miliki tentang aliansi kami, kemitraan kami, dan pentingnya Indo-Pasifik bagi Eropa,” ungkapnya.

Le Drian juga menyatakan keputusan itu dibuat atas permintaan Presiden Perancis, Emmanuel Macron.

Pengumuman pakta keamanan baru oleh Presiden AS, Joe Biden bersama para pemimpin Australia dan Inggris untuk membangun setidaknya delapan kapal selam bertenaga nuklir telah membuat Perancis marah.

Baca juga: Presiden Perancis Macron Peringatkan Risiko Vaksin Covid-19 Buatan China, Soroti Efektivitas Sinovac

Baca juga: 30 Tahun Kabur dari Penjara, Narapidana di Australia Serahkan Diri karena Pandemi Covid-19

Pakta keamanan trilateral yang disebut AUKUS itu mencakup kecerdasan buatan dan teknologi lain, dikatakan sebagai salah satu kemitraan terbesar negara itu dalam beberapa dekade ini.

Perjanjian itu dikatakan sebagai upaya baru meredam pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik, terutama pembangunan militernya, tekanan terhadap Taiwan dan penempatan di Laut Cina Selatan yang diperebutkan.

Tetapi, ketiga negara terkait tidak secara langsung menyinggung China dalam pakta mereka.

Ketiga negara itu hanya berulang kali merujuk pada masalah keamanan regional yang mereka katakan telah tumbuh secara signifikan.

Sementara itu, kesepakatan antara Perancis dan Australia pada 2016 lalu yang bernilai setidaknya Rp 941 triliun terkait selusin kapal selam diesel konvensional telah dibatalkan, meskipun pembuatannya sudah berlangsung. (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita terkait Perancis lain

ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved