Breaking News:

Terkini Daerah

Aksi Pedofilia Pengajar di Pesantren Sumsel Terungkap, 12 Santri Laki-laki Jadi Korban

12 murid laki-laki setingkat SMP di pondok pesantren di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), menjadi korban pencabulan oleh pengajar.

TribunSumsel.com/Shinta
JN (22) oknum pengasuh dan pengajar di salah satu Ponpes di Ogan Ilir ditangkap anggota Subdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Sumsel karena diduga mencabuli belasan santri laki-laki, Rabu (15/9/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Sebanyak 12 murid laki-laki setingkat SMP di pondok pesantren di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), menjadi korban pencabulan oleh seorang pengajar berinisial JN (22).

Dilansir TribunWow.com, aksi bejat itu diduga sudah dilakukan JN selama lebih dari satu tahun.

Kasus ini pertama kali terungkap setelah orangtua santri melihat keanehan perilaku anaknya.

Korban kerap mengeluhkan sakit pada bagian sensitifnya.

Pelaku pedofilia berinisial JN (22) oknum pengasuh sekaligus pengajar di salah satu Pondok Pesantren Kabupaten Ogan Ilir ditangkap Subdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Sumsel, Rabu (15/9/2021).
Pelaku pedofilia berinisial JN (22) oknum pengasuh sekaligus pengajar di salah satu Pondok Pesantren Kabupaten Ogan Ilir ditangkap Subdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Sumsel, Rabu (15/9/2021). (TribunSumsel.com/Shinta Dwi Anggraini)

Baca juga: Ayah di Garut Tega Cabuli Anak Tiri saat Istri Tertidur, Koban yang Masih SD Kini Hamil 6 Bulan

Baca juga: Kakek 70 Tahun Cabuli Cucu Sahabatnya yang Masih di Bawah Umur, Aksinya Terbongkar karena Hal Ini

Saat ditanya lebih lanjut, korban mengakui sudah mengalami tindakan asusila selama belajar di pondok pesantren.

Hal itu diceritakan oleh Dirkrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Hisar Siallagan.

"JN sudah bekerja selama 2 tahun. Sedangkan perbuatan asusila mulai dilakukan sejak Juni 2020 sampai kemarin perkara ini diungkap. Jadi lebih dari 1 tahun," katanya, dikutip dari TribunSumsel.com, Rabu (15/9/2021).

"Setelah digali keterangannya, terungkap perbuatan itu dilakukan oleh pamong atau walinya di asrama."

Tak terima dengan hal tersebut, orangtua korban pun melapor ke Polda Sumsel, Senin (13/9/2021) lalu.

Setelah menerima laporan, polisi langsung bergerak dan mengumpulkan barang bukti serta keterangan sejumlah saksi.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved