Breaking News:

Virus Corona

Sejumlah Penyintas Covid-19 Dilaporkan Alami Gangguan Stres Pascatrauma seusai Isolasi Mandiri

Penyintas Covid-19 melaporkan gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) yang secara signifikan lebih tinggi.

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
sciencefocus.com
Ilustrasi Virus Corona. Infeksi Covid-19 disebut bisa menyebabkan gangguan stres pascatrauma. 

TRIBUNWOW.COM - Dalam sebuah studi dilaporkan jika para penyintas Covid-19 melaporkan gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD) yang secara signifikan lebih tinggi.

Gejala-gejala ini juga dikaitkan dengan perubahan konektivitas di otak.

Studi tersebut merupakan penelitian dari Vince Calhoun, Profesor Psikologi di Georgia State University dan direktur Center for Translational. 

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Anak di Bawah Usia 12 Tahun Belum Bisa Mendapat Vaksin Covid-19

Baca juga: Tips Isolasi Mandiri Covid-19: Selain Bisa Cegah Dehidrasi, Ini 7 Manfaat Air Kelapa bagi Kesehatan

"Ketika kami melihat ke dalam kelompok yang selamat dari Covid-19, kami juga menemukan hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan gejala stres pasca-trauma mereka dan seberapa sering pola otak mereka dalam keadaan itu," kata Calhoun, dikutip dari News Medical Net.

Meskipun Covid-19 dianggap sebagai penyakit pernapasan, tetapi kemampuannya untuk mempengaruhi sistem saraf telah diketahui banyak pihak.

Infeksi Covid-19 juga terkadang menyebabkan gejala neurologis yang parah.

Bahkan beberapa penyintas Covid-19 juga mengalami masalah kesehatan mental jangka panjang, termasuk kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma.

Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya kelainan fungsional di otak, yang mungkin merupakan proses fisiologis yang mendasari gejala kesehatan mental yang berkepanjangan pada penyintas Covid-19.

Studi ini juga mengungkapkan jika penyintas Covid-19 menunjukkan pola konektivitas otak yang tidak normal dari waktu ke waktu, yang secara signifikan terkait dengan gejala stres pasca-trauma yang lebih besar.

"Sampai saat ini, pendekatan analisis yang digunakan untuk data fMRI mengasumsikan bahwa konektivitas fungsional otak adalah statis." ujarnya.

"Tetapi kami sekarang memiliki pendekatan yang dapat menangkap konektivitas otak fungsional yang dinamis, menunjukkan cara pola otak berubah dari waktu ke waktu dengan cara yang mendasar dan berulang."

Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Covid-19 Varian Delta Disebut Lebih Menular pada Anak

Gangguan Stres Pasca-trauma (PTSD)

PTSD sendiri adalah kondisi kesehatan mental yang dipicu oleh peristiwa menakutkan baik yang dialami atau disaksikannya.

Gejala mungkin termasuk kilas balik, mimpi buruk dan kecemasan parah, serta pikiran tak terkendali tentang peristiwa tersebut.

Dilansir dari WebMD, dijelaskan jika gejala PTSD akan berlangsung hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan bisa mengganggu tugas harian

Mendapatkan pengobatan yang efektif setelah gejala PTSD berkembang sangat penting untuk mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi.

Gejala PTSD umumnya dikelompokkan menjadi empat jenis: ingatan yang mengganggu, penghindaran, perubahan negatif dalam pemikiran dan suasana hati, dan perubahan reaksi fisik dan emosional.

Gejala dapat bervariasi dari waktu ke waktu atau bervariasi dari orang ke orang.

Pasien juga mungkin bisa mengalami gejala PTSD yang kambuhan seperti ketika sedang stres secara umum, atau ketika menemukan pengingat tentang apa yang dialami.

Misalnya, mendengar suara sirine mobil dan menghidupkan kembali pengalaman di rumah sakit.

Halaman
123
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved