Terkini Nasional
Bukan Tunggu 2024, Rocky Gerung Duga Tujuan Baliho Elite Politik: Enggak Hormati Presiden Lagi
Pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan maksud tersembunyi para elite politik memasang baliho yang akhir-akhir ini banyak ditemukan di mana-mana.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Munculnya baliho-baliho bergambar elite politik belakangan ini dikaitkan dengan ambisi para tokoh yang bersangkutan untuk mendongkrak popularitas demi perhelatan pemilu 2024.
Seperti yang diketahui beberapa baliho yang banyak beredar di masyarakat di antaranya adalah Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, hingga Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Pengamat politik Rocky Gerung memiliki pandangan tersendiri soal aksi para elite politik memasang baliho.

Baca juga: Marak Baliho Puan hingga Airlangga, Pengamat Nilai Tak Peka Rakyat sedang Susah dan Buang-buang Uang
Baca juga: Sindir Baliho Puan, Eko Kuntadhi Soroti Kalimat Kepak Sayap: Langsung Ingat Chicken Wings
Analisisnya itu ia ungkapkan lewat akun YouTube Refly Harun, Sabtu (7/8/2021).
Pada awalnya pakar hukum tata negara, Refly Harun membahas soal banyaknya elite politik yang berlomba-lomba memasang baliho.
"Seolah-olah tidak lagi konsentrasi pada pekerjaannya sekarang, tapi sibuk me-makeup diri untuk 2024 dengan pasang baliho-baliho," ujar Refly.
"Padahal masa pemerintahan sekarang ini kan masih tiga tahun lagi."
"Kalau untuk bertempur nanti kan baru 2024," sambungnya.
Refly lalu menanyakan kepada Rocky mengapa banyak elite politik yang mendirikan baliho.
Rocky justru melihat para elite politik yang ramai memasang baliho, bukan bersiap untuk 2024 tapi ingin mempercepat diadakannya pemilu.
"Karena itu enggak masuk akal orang pasang baliho ke 2024 yang panjang," ujar Rocky.
"Pasti mereka pasang baliho siap-siap 2021 akhir atau 2022 awal."
"Itu yang akan terjadi," sambungnya.
Menurut Rocky, siklus pemilu kali ini tidak akan terjadi seperti pemilu-pemilu sebelumnya.
"Semua baliho itu dimaksudkan untuk mempercepat perubahan itu," kata Rocky.
"Mana Mbak Puan tahan 2024."
"Airlangga juga begitu," lanjutnya.
Menurut Rocky, adanya baliho itu tanda bahwa orang-orang di lingkar dalam presiden sudah tidak lagi menghormati sang RI 1.
"Jadi kita justru mesti anggap baliho itu adalah tanda elitenya minta pemilu dipercepat atau baliho itu tanda bahwa inner struggle itu sudah terjadi," ujar Rocky.
"Jadi dia pasang baliho, memang enggak hormati presiden lagi."
Rocky menyampaikan saat ini selain mahasiswa yang tidak hormat kepada presiden, orang dalam pemerintahan juga mulai bersikap sama.
"Juga inner circle-nya tidak lagi menghormati presiden," pungkasnya.
Baca juga: Unggah Foto Baliho Ini, Postingan Najwa Shihab Ramai Dipuji Lebih Baik dibanding Baliho Politisi
Simak videonya mulai menit ke-7.00:
Tak Peka Rakyat sedang Susah dan Buang-buang Uang
Dikutip TribunWow.com dari Tribunnews.com, pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta, Ujang Komarudin menilai para elite politik tersebut berharap agar masyarakat familiar sebelum pergelaran Pilpres 2024 tiba.
Namun Ujang menilai pemasangan baliho oleh para elite politik justru dapat menjadi bumerang karena dipasang di tengah pandemi.
"Pemasangannya tak pas waktunya, tak tepat timingnya karena masyarakat sedang susah karena Covid-19," ujar Ujang, Jumat (6/8/2021).
"Maka pemasangan baliho itu hanya akan mendapat nyinyiran publik, hanya akan mendapat olok-olok rakyat. Karena dianggap tak sensitif atas penderitaan rakyat," jelasnya.
Ujang mengatakan, lebih baik uang yang digunakan baliho dipakai untuk kebutuhan masyarakat yang kini kesulitan.
"Seharusnya sosialisasi baliho tersebut di rem dulu, di stop dulu. Rakyat sedang sulit, banyak yang nggak bisa makan dan rakyat juga tak butuh baliho."
"Artinya dana-dana seperti pasang baliho lebih baik digunakan dulu untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19."
"Bantu rakyat dulu, baru sosialisasi. Rakyat mesti diprioritaskan dibandingkan dengan pemasangan baliho," kata Ujang.
Kritikan lain datang dari Juru Bicara Partai Amanat Nasional (PAN), Rizki Alijupri.
Ia menilai pemasangan baliho para elite politik adalah hal yang mubazir.
"Lebih baik uang pasang baliho-baliho itu dipakai untuk bantu rakyat. Kalau 1 titik baliho saja biaya pasangnya 5 sampai 10 juta, itu bisa untuk makan 10 kepala keluarga selama 1 bulan," dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/8/2021).
Dikutip dari Kompas.com, Rizki meminta agar para elite politik bersimpati dengan kondisi masyarakat saat ini yang tengah dihantam pandemi Covid-19.
(TribunWow.com/Anung)
Artikel ini diolah dari Kompas.com dengan judul "Marak Baliho Elite Partai Politik, Juru Bicara PAN: Lebih Baik Uangnya untuk Bantu Rakyat" dan Tribunnews.com dengan judul Gibran Pasang Baliho Puan karena Instruksi Partai: Strategi untuk Hentikan Langkah Ganjar di 2024?