Euro 2020
Euro 2020: Sorot Laser Suporter di Laga Inggris Vs Denmark, Ingatkan Duel Malaysia Kontra Indonesia
Sorotan laser ke wajah Kasper Schmeichel mewarnai laga Inggris Vs Denmark di Stadion Wembley, Kamis (8/7/2021)
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: Elfan Fajar Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Sorotan laser ke wajah Kasper Schmeichel mewarnai laga Inggris Vs Denmark di Stadion Wembley, Kamis (8/7/2021)
Sorotan tersebut mengingatkan suporter Indonesia pada laga final leg 1 AFF Cup 2010 kontra Malaysia.
Pasalnya, dalam laga tersebut, Markus Horison juga turut alami hal serupa dari oknum suporter Malaysia saat berlaga di Stadion Bukit Jalil Malaysia, Minggu (26/12/2010).
Bahkan, kiper Timnas Indonesia tersebut sempat beberapa kali melakukan protes dan meminta laga untuk dihentikan sementara.
Ternyata, sorotan laser tersebut juga dialami pada babak semi final Euro 2020 saat Inggris Vs Denmark.
Sorotan laser tertangkap kamera saat momen eksekusi penalti yang akan dilakukan oleh Harry Kane.
Nampak jelas laser berwarna hijau mengincar mata dari Kasper Schmeichel.
Hal itu sengaja dilakukan agar kiper asal Leicester City tersebut kehilangan fokus saat berhadapan dengan Harry Kane.
Banyak desakan dari para suporter untuk menginvestigasi aksi tak terpuji tersebut.
Meski saat itu Schmeichel berhasil tepis sepakan Harry Kane, namun bola rebound kembali berhasil dilesatkan oleh kapten Inggris tersebut.
Media di Inggris banyak yang mengangkat isu tersebut dan membuat pernyataan negatif tentang perilaku tak terpuji oknum suporternya.
Editor surat kabar Kevin McGuire mengatakan bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan dari orang bodoh yang berbahaya.
"CCTV di mana-mana sehingga orang id**t yang menyorotkan pena laser ke Kasper Schmeichel selama penalti harus diperlihatkan, diidentifikasi, dituntut, dipenjara, dipermalukan, dan dilarang bermain sepak bola seumur hidup,” ujar Kevin McGuire dikutip TribunWow.com dari news.com.au, Kamis (8/7/2021).
Wartawan Gareth Davies juga menegur perilaku suporter Inggris yang dalam hal ini dia anggap kelewatan.
Menurut Davies, hal tersebut dianggap dapat memalukan negara.
“Mengejek lagu kebangsaan Denmark, menyorotkan pena laser ke Schmeichel saat penalti diambil, mengapa (sebagian) penggemar Inggris tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mempermalukan negara,” ujarnya
"Ya Tuhan yang menggunakan pena laser di mata Schmeichel dalam penalti itu benar-benar mengerikan."
Sorotan laser berwarna hijau terlihat jelas di wajah dan di dekat pipi Kasper Schmeichel.
Proses Terjadinya Penalti dan Komentar Sterling
Penalti yang diperoleh Inggris berawal dari keputusan kontroversial wasit asal Belanda, Danny Makkelie.
Wasit memberikan hadiah penalti untuk Inggris setelah mengetahui Raheem Sterling terjatuh setelah berduel dengan pemain Denmark Mathias Jensen dan Joakim Maehle di dalam kotak penalti.
Keputusan penalti untuk Inggris tersebut banyak yang turut memberikan komentarnya.
Bahkan Sterling juga turut menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi.
"Ya, saya masuk ke kotak, dia menjulurkan kaki kanannya, itu menyentuh kaki saya. Penalti yang jelas," kata pemain sayap Manchester City Raheem Sterling ketika ditanya apakah tendangan penalti itu dibenarkan.
“Jika itu terjadi di belakang gawang, itu yang terpenting,” kata Sterling.
"Kiper menyelamatkannya tetapi rebound, kami akan mengambilnya."
Komentar Pelatih Denmark Kasper Hjulmand
Pelatih Timnas Denmark, Kasper Hjulmand ungkapkan kekesalannya atas hasil yang diraih oleh The Dynamite di babak semi final Euro 2020, di Stadion Wembley, London, Kamis (8/7/2021).
Dilansir TribunWow.com dari ESPN, Hjulmand mengatakan kekalahan Denmark bermula saat wasit Danny Makkelie asal Belanda memutuskan untuk memberikan hadiah penalti untuk Inggris.
Penalti untuk Inggris terjadi di extra time babak pertama setelah Raheem Sterling dijatuhkan oleh Joakim Maehle di dalam kotak penalti.
Pelatih berusia 49 tahun tersebut menjelaskan bahwa sebelum terjadinya insiden tersebut, ada dua kejadian yang harusnya dihentikan oleh wasit namun tetap dilanjutkan.
Ia juga menambahkan bahwa keputusan penalti yang diambil Video Assistant Referee (VAR) tidak dirujuk pada keputusan wasit Danny Makkelie untuk ditinjau dari kejadian langsung yang ia lihat di lapangan pertandingan.
Komentar pedas langsung diberikan Hjulmand sesaat setelah pertandingan.
"Anda tidak bisa keluar seperti ini, hal-hal tertentu seharusnya tidak terjadi," katanya. "Aku merasakan kepahitan."
"Penalti itu menentukan permainan," kata Hjulmand. "Tanpa itu 1-1 dan penalti dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Jadi, saya kesal," tegas Hjulmand.
Sesaat setelah pertandingan, Hjulmand juga mengatakan bahwa faktor yang dilihat jangan hanya siapa yang lebih banyak menciptakan peluang.
Namun lihat juga keseimbangan permainan jauh lebih penting untuk dapat dikatakan sebagai finalis yang layak.
Wembley Tak Bersahabat dengan Donnarumma, Harry Kane Diuntungkan
Ia menegaskan kembali bahwa keputusan wasit pada laga Inggris Vs Denmark seharusnya dapat di minimalisir karena adanya VAR.
Bahkan Hjulmand juga tak ragu membandingkan capaian di laga Inggris dengan perjuangan anak asuhnya selama di Euro 2020.
Mantan pelatih FSV Mainz 05 tersebut juga membeberkan fakta yang dialami oleh anak asuhnya bahkan sejak matchday pertama di Euro 2020.
Saat itu, ia dan anak asuhnya harus menerima kenyataan pahit kehilangan jenderal di lini tengah Denmark, Christian Eriksen akibat kolaps.
Sebelum pada akhirnya di laga terakhir penyisihan grup kontra Rusia, keajaiban datang.
Anak asuhnya menampilkan penampilan yang spartan setelah berhasil membantai Rusia dengan skor 4-1.
Namun ia juga menyayangkan keputusan UEFA yang memberikan opsi pertandingan saat laga Denmark Vs Finlandia sesaat setelah kejadian yang dialami oleh Eriksen.
Hasilnya dapat ditebak, anak asuhnya harus menyerah 1-0 atas Finlandia di depan publiknya sendiri di Stadion Parken, Kopenhagen.
Selanjutnya, di laga kontra Belgia, efek kejadian Eriksen masih dapat dirasakan para pemain Denmark.
Denmark yang berhasil unggul terlebih dahulu berkat gol Poulsen harus menelan kekalahan kedua setelah kalah 1-2 atas Belgia.
Ia juga berpendapat bahwa perjuangan Timnas Denmark tak ubahnya seperti cerita fiksi.
Baca juga: Nasib Luis Enrique setelah Spanyol Gagal ke Final EURO 2020, Diberikan 1 Syarat untuk Kontrak Baru
Baca juga: Catatan Unik Euro 2020: Total Gol Ronaldo dan Patrik Schick Tak Mampu Tandingi Gol Bunuh Diri
Cerita yang dapat diceritakan mulai dari kejadian yang menumpa Eriksen, wajah segar penggawa muda seperti Mikel Damsgaard, kepemimpinan Simon Kjaer, geraman Kasper Schmeichel, penggerak Maehle.
Semua merupakan bentuk persatuan yang ada pada skuad Denmark yang mempercayai sesuatu yang sulit bukan berarti sukar untuk didapatkan.
Hjulmand juga membeberkan fakta permainan anaknya yang percaya diri tampil di Wembley meski suporter tuan rumah memadati stadion tersebut.
Kepercayaan Hjulmand kepada anak asuhnya sudah tak dapat diragukan lagi.
Meski ia harus mengganti 5 pemainnya karena masalh kebugaran, namun ia percaya anak asuhnya yang masuk sebagai pengganti berhasil menunjukkan yang terbaik.
“Tidak satu pun dari lima pergantian pemain pertama yang taktis; saya harus melakukan perubahan karena pemain berjuang atau cedera,” katanya. "Saya tidak punya pilihan," ungkap Hjulmand.
Tercatat hanya ada satu pemain yang dipaksakan bermain meski tengah menahan luka yang dirasakan.
Pemain tersebut adalah Mathias Jensen.
Tak bisa digantikannya Mathias Jensen dikarenakan Denmark telah lakukan pergantian pemain sebanyak 5 kali.
"Kami telah melalui begitu banyak dan saya bersyukur, sangat berterima kasih kepada seluruh bangsa Denmark," kata Hjulmand.
"Kami membutuhkan cinta itu, kami membutuhkan dukungan itu, kami membutuhkan empati itu. Sayangnya, kami tidak mencapai final. Tapi masa depan kami penuh dengan harapan dan keyakinan," pungkas Hjulmand. (TribunWow.com /Adi Manggala S)
Baca Berita Euro 2020 Lainnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/kiper-denmark-scheimeichel.jpg)