Teroris Serang Mabes Polri
Detik-detik Wanita Terduga Teroris Serang Mabes Polri, Sempat Ada Perbincangan Ini dengan Petugas
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan detik-detik serangan terduga teroris ke Mabes Polri.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan detik-detik serangan terduga teroris ke Mabes Polri.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers yang turut ditayangkan Kompas TV, Rabu (31/3/2021).
Ia membenarkan adanya serangan terduga teroris yang menerobos Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada pukul 16.30 WIB.

Baca juga: Sosok ZA, Wanita Terduga Teroris yang Menyerang Mabes Polri, Saksi Sebut Ada Laki-laki
Diketahui terduga teroris berjenis kelamin perempuan itu ditembak mati akibat membahayakan petugas.
"Telah kita lakukan tindakan tegas terhadap pelaku teror yang mencoba melakukan aksi di Mabes Polri," jelas Listyo Sigit Prabowo.
Kapolri lalu menjelaskan kronologi kejadian saat wanita terduga teroris itu masuk ke Mabes Polri.
"Kurang lebih jam 16.30 WIB ada seorang wanita yang berjalan masuk dari pintu belakang," papat Listyo.
"Kemudian yang bersangkutan mengarah ke pos utama yang ada di gerbang Mabes Polri," lanjutnya.
Sempat terjadi perbincangan antara wanita berinisial ZA tersebut dengan petugas yang jaga.
Ia bertanya keberadaan kantor pos, lalu petugas memberitahu.
Baca juga: Terduga Teroris Masuk Mabes Polri, Penembakan Dilakukan di Dekat Ruang Kapolri Jenderal Listyo Sigit
"Yang bersangkutan kemudian menanyakan, 'Di mana keberadaan kantor pos?'," ungkap Listyo.
"Kemudian diberikan pelayanan oleh anggota dan ditunjukkan arah kantor pos tersebut," lanjutnya.
Setelah itu terduga teroris meninggalkan pos utama.
Ia mengeluarkan senjata api dan menembakkannya ke arah petugas yang ada di pos jaga sebanyak enam kali.
Tindakannya dinilai membahayakan, sehingga polisi langsung melakukan tindakan tegas terukur terhadap pelaku.
"Kemudian wanita tersebut meninggalkan pos tersebut, kemudian yang bersangkutan kembali dan melakukan penyerangan terhadap anggota yang ada di pos jaga dengan melakukan penembakan sebanyak 6 kali," kata Listyo.
"Dua kali tembakan kepada anggota yang ada di dalam pos, dua kali yang ada di luar, dan menembak lagi kepada anggota yang ada di belakangnya," tambah dia.
Lihat videonya mulai dari awal:
Pengamat: Sudah Siap Mati
Terduga teroris ditembak mati saat mencoba menyerang Mabes Polri di Jalan Trunojoko, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021).
Dilansir TribunWow.com, Pengamat terorisme Universitas Indonesia (UI), Ridwan Habib menduga serangan ini merupakan rangkaian dari bom di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021) lalu.
Hal itu diungkapkan Ridwan dalam siaran langsung kanal YouTube Kompas TV, Rabu (31/3/2021).
Baca juga: Penampakan Wanita Terduga Teroris yang Serang Mabes Polri, Sempat Todongkan Senjata ke Arah Petugas
Baca juga: Sempat Arahkan Pistol ke Polisi, Terduga Teroris yang Ditembak Mati di Mabes Polri Ternyata Wanita
Ridwan menyebut terduga teroris yang menyerang Mabes Polri sudah siap mati.
"Ini jelas aksi bunuh diri karena otomatis seorang penyerang pasti memahami risikonya," kata Ridwan.
"Ketika dia menyerang Mabes Polri, apalagi menggunakan senjata api maka risiko dia adalah mati."
Menurut Ridwan, pelaku sudah menyiapkan diri untuk mati saat menjalankan misi.
Namun di sisi lain, Ridwan khawatir serangan seperti ini akan menjadi contoh bagi kelompok teroris lain.

Baca juga: Sempat Acungkan Pistol ke Polisi di Mabes Polri, Wanita Terduga Teroris Ditembak Mati
Baca juga: Terduga Teroris Masuk Mabes Polri, Penembakan Dilakukan di Dekat Ruang Kapolri Jenderal Listyo Sigit
"Karena itu kami meyakini secara psikologis, pelaku pasti sudah siap untuk mati," jelas Ridwan.
"Ini menggunakan senjata api walaupun belum dipastikan ini rakitan atau organik."
"Tapi modus seperti ini membahayakan kalau ditiru atau menjadi inspirasi untuk objek vital yang lain."
Karena itu, Ridwan mengingatkan semua pihak untuk lebih berhati-hati.
Ia lantas menghubungkan serangan di Mabes Polri dengan bom di Gereja Katedral Makassar.
Ridwan menduga, kedua aksi ini terkait.
"Ini menjadi kewaspadaan dan alarm merah untuk semua, termasuk Istana Presiden, harus diantisipasi," kata Ridwan.
"Karena kita meyakini bahwa model serangan seperti ini biasanya beruntun."
"Kita ingat bom gereja Surabaya 2018, mereka mengebom hari Minggu, kemudian menyerang Polrestabes Surabaya hari Senin."
"Saya kira ini mirip," tukasnya. (TribunWow.com/Brigitta/Tami)