Breaking News:

Opini

TikTok Joget-joget Bebas Berseliweran di TV, Siapa yang Salah?

Tak hanya di media sosial, konten-konten TikTok yang banyak menampilkan jogetan yang kurang pas dikonsumsi anak kini justru bebas tampil di TV.

YouTube TRIBUNWOW OFFICIAL
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY periode 2020-2023 Dewi Nurhasanah menjelaskan soal kehadiran konten TikTok di media konvensional (televisi), 30 Januari 2021. 

TRIBUNWOW.COM - Pandemi Covid-19 mengharuskan anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di rumah ketimbang masa-masa sebelum virus asal Wuhan itu mewabah.

Kini kegiatan belajar mengajar pun harus dilaksanakan secara daring antara guru dan murid yang berada di rumah mereka masing-masing. Daya serap dan pemahaman anak menjadi sebuah kekhawatiran bagi pihak sekolah dan orangtua murid. Namun seiring berjalannya waktu ternyata masalah akademik bukanlah satu-satunya kekhawatiran yang dirasakan oleh para orangtua.

Menghabiskan waktu di rumah berarti lebih banyak beraktivitas secara indoor atau dalam ruangan. Anak-anak pada umumnya mengusir kebosanan mereka dengan cara menonton televisi, bermain games hingga asyik bermain medsos di ponsel pintar mereka. Di satu sisi, para anak yang berada di rumah mempunyai manfaat baik yakni dapat meminimalisir potensi penyebaran Covid-19. Tetapi di sisi lain mereka menjadi semakin terpapar akan masuknya informasi minim filter yang dapat diakses lewat ponsel mereka.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY periode 2020-2023 Dewi Nurhasanah menjelaskan soal kehadiran konten TikTok di media konvensional (televisi), 30 Januari 2021.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY periode 2020-2023 Dewi Nurhasanah menjelaskan soal kehadiran konten TikTok di media konvensional (televisi), 30 Januari 2021. (YouTube TRIBUNWOW OFFICIAL)

Baca juga: Joget di Zebra Cross demi Konten Tiktok, 5 Remaja di Lumajang Harus Berurusan dengan Polisi

Bahaya tersebut bisa berasal dari TikTok, sebuah aplikasi buatan Tiongkok yang kini sudah pasti dikenali oleh semua kalangan dan umur, mulai dari pedagang, pengemudi ojek online, hingga pejabat pemerintahan se-level gubernur dan menteri.

Aplikasi yang dikenal menampilkan rekaman-rekaman video pendek diiringi musik tersebut memiliki konten yang begitu beragam, mulai dari konten ecek-ecek seperti candaan dan lucu-lucuan, curhatan pribadi yang diumbar hingga akhirnya jadi bahan gosip warganet, sampai konten-konten serius dari pemerintah yang pada saat ini sebagian besar berisi sosialisasi program dan prokes Covid-19.

Semua konten itu dapat diakses tanpa filter oleh para pengguna smart phone, termasuk para anak-anak. Hal ini kemudian menjadi berbahaya ketika anak-anak di bawah umur mengakses konten yang tidak seharusnya menjadi bahan konsumsi mereka.

Sebagian besar konten TikTok yang beredar hingga viral diisi oleh konten-konten yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak, seperti konten percintaan orang dewasa, intrik rumah tangga, hingga jogetan syur dimana para kaum hawa secara sengaja menunjukkan lekuk indah tubuh mereka.

Pada kasus ini, pihak TikTok tidak bisa disalahkan karena mereka telah menyertakan terms and agreement kepada para penggunanya sebelum menggunakan aplikasi TikTok. Para orangtua seharusnya tidak membiarkan anak-anak mereka menggunakan smart phone tanpa pengawasan.

Namun hal ini menjadi masalah ketika konten TikTok bermigrasi ke televisi. Konten yang beragam dan diminati oleh semua kalangan tentunya menjadi bahan yang menggiurkan bagi para lembaga penyiar untuk menayangkan konten TikTok di media televisi.

Tetapi lagi-lagi konten TikTok yang ditampilkan di televisi sebenarnya tidak pantas menjadi tontonan anak-anak. Rata-rata konten TikTok yang ditampilkan di televisi adalah hal-hal yang tengah viral, seperti jogetan atau tarian yang rasanya tidak pantas jika disajikan kepada anak-anak.

Bahkan tidak jarang pihak televisi mengundang orang-orang yang menjadi pemeran di dalam TikTok tersebut atau para content creator yang didominasi kaum wanita. Ketika diundang tampil ke televisi mereka juga memeragakan secara langsung jogetan yang membuat mereka tenar di TikTok.  

Satu hal besar yang membedakan TikTok di TV dan mengakses TikTok di media baru (internet) adalah keberadaan lembaga pengawas yakni Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lantas mengapa tayangan TikTok yang sebenarnya tidak cocok untuk dikonsumsi anak-anak bisa lolos tayang muncul di televisi?

Penasaran mengapa konten tersebut bisa lolos tayang, saya pernah menanyakannya kepada Ketua KPID DIY Siti Nurhasanah dalam suatu wawancara. Ia menjawab, pihak televisi mengetahui betul apa saja hal yang diperbolehkan ditampilkan di televisi, mereka juga paham betul celah-celah yang ada di dalam aturan, sehingga tayangan yang sebenarnya tidak pas ditonton anak-anak, akhirnya bisa tampil di dalam televisi.

Lalu siapakah yang harus disalahkan, apakah para orangtua atau pihak televisi. Saya menyimpulkan keduanya sama salahnya dan sama-sama bertanggung jawab atas tontonan yang dikonsumsi oleh anak-anak.

Di satu sisi para orangtua seharusnya senantiasa memberikan pengawasan dan pengertian kepada anak-anak mereka soal konten-konten yang layak dikonsumsi, baik itu di televisi ataupun media baru.

Sementara itu, pihak televisi juga seharusnya lebih seimbang menampilkan konten-konten edukasi yang mendidik dibanding konten ber-rating tinggi yang memang lebih menghasilkan.

Baca juga: 3 Orang Jadi Tersangka Buntut Kerumunan Jumpa Fan Artis TikTok Viens Boys di Madiun

Simak videonya:

(TribunWow.com/Anung)

Berita lain terkait TikTok

Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved