Breaking News:

Terkini Internasional

Tak Mau Tembak Demonstran, Ini Kisah Polisi Myanmar yang Pilih Mengungsi ke India: Tak Berbuat Jahat

Para polisi Myanmar mengungkapkah momen mereka membangkang dari atasan mereka, dan mengungsi ke India. Ini kisahnya.

TWITTER @CardinalMaungBo
Kolase foto suster Ann Nu Thawng di Myanmar yang memohon agar polisi berhenti menangkapi demonstran. 

TRIBUNWOW.COM - Para polisi Myanmar mengungkapkah momen mereka membangkang dari atasan mereka, dan mengungsi ke India.

Kepada Sky News, penegak hukum yang mencari suaka itu mengatakan mereka diperintahkan menembak dan menyiksa demonstran.

"Saya tak bisa menembak bangsa saya sendiri, atau menyiksa orang yang jelas tak berbuat kejahatan," kata salah satunya.

Para pengunjuk rasa memegang perisai buatan sendiri saat mereka berlari selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada Tabu (3/3/2021).
Para pengunjuk rasa memegang perisai buatan sendiri saat mereka berlari selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada Tabu (3/3/2021). (AFP PHOTO/STR)

Baca juga: Pasukan Keamanan Myanmar Bunuh 12 Orang Tak Bersenjata dalam Aksi Protes, Termasuk Anak 13 Tahun

Polisi yang berusia 26 tahun mengatakan, pengunjuk rasa itu tidak bersalah.

Sebab mereka hanya menyuarakan aspirasi secara damai.

Memutuskan membangkang dari perintah junta militer, sejumlah polisi itu memutuskan mengungsi ke India.

Salah satu penegak hukum yang bersembunyi menerangkan, dia kini mengkhawatirkan keluarga yang ditinggalkannya.

Baca juga: Aksi Biarawati Menangis dan Berlutut di Depan Militer Myanmar, Siap Mati demi Lindungi Demonstran

Dia mengaku mempunyai istri dan putra yang masih berusia dua tahun.

"Saya khawatir terhadap mereka," kata dia.

Apalagi, junta militer sudah mengancam bakal menahan setiap anggota keluarga dari polisi yang mengungsi.

Anggota lain, yang kabur bersama keluarganya menerangkan, mereka tidak ingin hidup dalam kekuasaan junta.

"Kami tidak bisa hidup damai bersama mereka. Saya siap mengorbankan nyawa bagi demokrasi jika dibutuhkan," tegasnya.

Dilansir Sabtu (13/3/2021), keterangan mereka mengungkapkan detil seperti apa perintah yang diberikan kepada pihak berwajib.

Baca juga: Viral di Twitter, Ini Sosok Mahasiswi yang Ditembak di Kepala oleh Militer Myanmar, Dijuluki Angel

Sebelumnya, PBB sudah mengecam dan menuding Tatmadaw, nama kantor junta militer Myanmar, menggunakan kekuatan mematikan ke demonstran.

Total, sudah ada 75 orang tewas dalam aksi protes menentang kudeta yang dilakukan militer pada 1 Februari lalu.

Para polisi yang membangkang itu berujar, saat ini yang harus dilakukan dunia adalah bertindak lebih dari sekadar sanksi ekonomi dan diplomasi.

"Pasukan perdamaian PBB harus dikerahkan untuk melawan perbuatan tidak manusiawi yang terjadi di sana," jelasnya.

Mereka menegaskan ingin mendapatkan senjata dan sumber daya cukup.

Apalagi, banyak rekan mereka yang mulai menentang junta.

Kini, kekhawatiran mereka bertambah setelah pemerintah India mengirim pesan ke pejabat perbatasan.

Dalam pesannya, "Negeri Bollywood" diminta mengidentifikasi migran ilegal dan memulangkan mereka.

Dinas penegakan hukum hingga intelijen dikerahkan agar proses deportasi berjalan secepat mungkin.

"Kami tentu akan dibunuh jika sampai mereka (India) memulangkan kami," jelas salah satu polisi. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Polisi Myanmar yang Mengungsi ke India: Saya Tak Bisa Menembak Bangsa Saya Sendiri"

Sumber: Kompas.com
Tags:
MyanmarKudeta MiliterPolisiDemonstranAung San Suu Kyi
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved