Isu Kudeta Partai Demokrat
Mahfud MD Buka-bukaan Alasan Moeldoko Tak Kabari Jokowi soal KLB: Hebat Juga Gerakan Diam-diamnya
Mahfud MD mengutip jawaban Moeldoko saat ia tanyai mengapa tak mengabari Presiden Jokowi soal rencana datangi KLB di Deliserdang.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM - Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko diketahui pergi mendatangi kongres luar biasa (KLB) di Deliserdang tanpa sepengetahuan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.
Mahfud juga bercerita, dirinya sempat bertanya langsung kepada Moeldoko mengapa tak memberitahu Jokowi terkait acara KLB Deliserdang.

Baca juga: Sebut Jokowi Kaget tapi Happy Saja, Mahfud MD Ungkap Sikap sang Presiden soal Isu Demokrat-Moeldoko
Pada acara Mata Najwa, Rabu (10/3/2021) malam, Mahfud mengutip perkataan Moeldoko mengenai alasan tak kabari Jokowi soal KLB.
Mahfud mulanya menegaskan bahwa Presiden Jokowi pada awalnya tidak mengetahui jika Moeldoko akan menghadiri KLB Partai Demokrat di Deliserdang.
"Pak Jokowi kalau ditanya mengetahui, sekarang sudah mengetahui," kata dia.
Mahfud lalu menceritakan percakapannya dengan Jokowi kala itu.
Ia mulanya menanyakan kepada Jokowi soal Moeldoko yang tiba-tiba hadir di KLB Deliserdang.
"Waduh saya enggak tahu betul itu. Hari Kamis pagi saya sama Pak Moeldoko dan Pak Pratikno itu masih meresmikan sesuatu di Banten," ucap Moeldoko menirukan jawaban Jokowi saat berbincang bersama.
"Dan pada waktu itu kita ngobrol biasa, Pak Moeldoko enggak cerita apa-apa."
"Enggak cerita kalau besoknya mau ada KLB," papar Mahfud menceritakan percakapannya dengan Jokowi kala itu.
Mahfud mengatakan, dirinya juga sempat bertanya langsung kepada Moeldoko soal KLB.
"Pak Moeldoko, bapak enggak cerita ke bapak presiden?" tanya Mahfud kepada Moeldoko saat itu.
"Itu kan urusan saya dan saya tidak ditanya," jawab Moeldoko singkat.
Mahfud mengakui banyak yang terkejut atas aksi Moeldoko yang tiba-tiba hadir di KLB hingga kini menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat versi KLB Deliserdang.
"Dan memang semuanya kan kaget waktu itu," kata dia.
"Baru sorenya itu baru ribut. Orang sudah sampai di Medan semua."
"Saya bilang hebat juga nih gerakan diam-diamnya. Tiba-tiba meledak di Medan."
"Saya tahunya juga sorenya karena dapat surat dari AHY," pungkas Mahfud.
Baca juga: Darmizal Menangis Sesenggukan Menyesal Dukung SBY saat Bahas KLB, Demokrat: Jangan Buat Drama
Simak videonya mulai menit ke-3.50:
Khawatirkan Nama Jokowi Dibawa-bawa
Semenara itu, pengamat komunikasi politik Ade Armando menilai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko sebaiknya mundur dan fokus di Partai Demokrat.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube Cokro TV, Senin (8/3/2021).
Diketahui Moeldoko baru saja terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi kongres luar biasa (KLB) yang diadakan di Deliserdang, Sumatera Utara, akhir pekan lalu.

Baca juga: AHY Datang Minta Saran, Jimly Asshiddiqie Beri Sederet Wejangan soal Demokrat, Ini Katanya
Menurut Ade, pemilihan Moeldoko menjadi penting mengingat posisinya yang dekat dengan Istana.
"Sebenarnya kisruh perebutan kekuasaan dalam parpol memang kisah biasa. Tapi dalam pertarungan ini menjadi luar biasa karena ada nama Pak Moeldoko, Ketua KSP, yang terpilih menggantikan AHY (Agus Harimurti Yudhoyono)," papar Ade Armando.
Ia menyinggung nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga diseret dalam upaya kudeta Demokrat.
Tidak hanya itu, ada beberapa tuduhan yang menyebut Jokowi adalah dalang di balik perpecahan Demokrat.
"Tak terhindarkan orang pun menyebut-nyebut nama Presiden Jokowi," kata Ade.
"Salah satu tuduhannya Jokowi adalah mastermind penggulingan kekuasaan. Buat saya tuduhan ini tak masuk akal, tapi bisa dipahami juga kalau isu ini akan terus bergulir," jelasnya.
Ade menyinggung sebelumnya kubu pendukung AHY telah mengirim surat kepada Jokowi untuk bertanya tentang keterlibatan Moeldoko dalam upaya kudeta.
Surat itu tidak dibalas Jokowi.
Mengingat dampaknya kepada kepala negara, Ade menyarankan Moeldoko menyerahkan jabatannya.
"Karena itu dalam pandangan saya, sebaiknya Moeldoko mundur saja dari posisi Ketua KSP," saran Ade.
"Sementara Moeldoko masih di lingkar dalam Istana, presiden pasti akan terus dibawa-bawa," lanjut pengamat politik ini.
Selain itu, Ade menilai Moeldoko tidak akan merasa banyak kehilangan jika mengundurkan diri dari KSP.
"Lagipula bagi Moeldoko sendiri tidak penting juga untuk terus bertahan di posisi Ketua KSP," ungkit Ade.
"Jadi mestinya no big deal, dia tidak akan kehilangan banyak," lanjutnya.
"Logis saja kalau dia lebih baik berkonsentrasi di Partai Demokrat karena dia harus memimpin upaya konsolidasi internal yang butuh perhatian, energi, dan waktu," tambah Ade Armando. (TribunWow.com/Anung/Brigitta)