Breaking News:

Perpres Investasi Miras

Jokowi Batalkan Investasi Miras, Rocky Gerung Justru Sayangkan: Buzzer Belum Kerja, Sudah Dicabut

Pengamat politik Rocky Gerung menanggapi pembatalan perizinan investasi minuman keras (miras).

Kolase Youtube Najwa Shihab/Sekretariat Presiden
Kolase foto Pengamat Politik Rocky Gerung dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

TRIBUNWOW.COM - Pengamat politik Rocky Gerung menanggapi pembatalan perizinan investasi minuman keras (miras).

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube Rocky Gerung, diunggah Rabu (3/3/2021).

Diketahui sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal pada poin industri miras.

Isi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang menyebut industri miras masuk sebagai daftar positif investasi (DPI) mulai tahun 2021.
Isi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang menyebut industri miras masuk sebagai daftar positif investasi (DPI) mulai tahun 2021. (Capture YouTube Amien Rais Official)

Baca juga: Beberapa Daerah Tetap Minta Investasi Miras Digolkan, Ada Kemungkinan Jokowi Buat Aturan Baru?

Jurnalis senior Hersubeno Arief menyinggung perpres tersebut merupakan bagian dan omnibus law Undang-undang Cipta Kerja, yang diketahui menuai penolakan besar-besaran dari masyarakat.

Rocky Gerung lalu menanggapi sikap Jokowi yang segera mencabut lampiran perpres tentang investasi miras setelah mendapat kritik keras.

"Seolah-olah presiden melakukan sesuatu yang gagah berani, 'Dengan ini saya cabut'," komentar Rocky Gerung.

Ia menyoroti tindakan presiden yang mencabut perpres yang ditekennya sendiri.

Rocky Gerung menilai hal itu tidak wajar.

"Ini sebetulnya kekacauan. Yang dimaksudkan dengan mencabut itu kalau sesuatu ditanam oleh orang lain baru dicabut," kata Rocky.

"Itu kalau dia tanam sendiri dicabut, konyol namanya 'kan," cibirnya.

Baca juga: Polemik Investasi Miras, MUI Bakal Minta Dicabut? Begini Jawaban Cholil Nafis

Selain itu, Rocky menuntut pertimbangan Jokowi untuk menyetujui lampiran perpres yang menyatakan industri miras masuk dalam daftar positif investasi (DPI).

Menurut dia, presiden belum sempat memberikan penjelasan kepada publik lalu buru-buru mencabut perpresnya setelah dikritik.

"Mestinya publik ingin dengar. Okelah MUI bilang begini, Muhammadiyah bilang begini. Orang mau dengar apa pembelaan presiden supaya ada debat tentang isu itu," ungkap akademisi ini.

"Kalau tiba-tiba presiden bilang, 'Oke, saya dengan gagah perkasa saya mencabut,' lalu apa artinya? Orang bertanya, 'Kalau gitu Anda enggak paham apa yang Anda buat?'," kata dia.

Rocky bahkan membandingkan Jokowi dengan mahasiswa yang sedang mempertahankan skripsinya di hadapan penguji.

Ia menilai seharusnya Jokowi dapat mempertahankan terlebih dulu penjelasannya di hadapan publik.

"'Kan mesti mempertahankan, kayak skripsi. Diganggu sedikit oleh penguji, 'Iya, saya tulis ulang'. Harus dia pertahankan skripsi itu," komentar Rocky.

Selanjutnya, ia menyindir keberadaan buzzer yang biasanya membela pemerintahan saat terjadi debat.

"Buzzer belum sempat bekerja, presiden sudah cabut. 'Kan biasanya buzzer disebar dulu untuk membela kebijakan presiden," sindir Rocky.

"Kalau buzzer-nya keok, baru presiden ambil alih. Ini sayang, jadi fungsi buzzer apa kalau begitu?" ungkitnya sambil terkekeh.

Halaman
123
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved