Vaksin Covid
Seseorang yang Divaksin Sinovac Masih Bisa Kena Covid-19? Begini Kata Kemenkes
Penerima suntikan vaksin Sinovac masih bisa tertular Covid-19, namun kemungkinannya semakin kecil dan tidak akan merasakan gejala yang parah.
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Pemerintah menyampaikan bahwa suntikan vaksin Sinovac bukanlah perlindungan utama terhadap Covid-19.
Pemerintah berulang kali menyampaikan bahwa protokol kesehatan harus terus diterapkan mesti sudah mendapat suntikan vaksin.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan, suntikan vaksin Sinovac tidak akan membuat penerima vaksin menjadi kebal Covid-19.

Baca juga: Penjelasan soal Penerima Vaksin Covid-19 Tetap Masih Bisa Menularkan Virus Corona
Baca juga: Siapa Saja Kelompok Masyarakat yang Tidak Bisa Diberi Vaksin Covid-19 Sinovac?
Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari YouTube Apa Kabar Indonesia tvOne, Minggu (17/1/2021).
Siti menegaskan, tidak ada vaksin yang memiliki efikasi 100 persen atau membuat pasien yang disuntik menjadi kebal dari Covid-19.
"Sampai saat ini tidak ada vaksin yang 100 persen efikasinya, artinya membuat orang menjadi tidak berisiko untuk sakit Covid-19," ujar dia.
Siti memaparkan, para penerima suntikan vaksin Sinovac nantinya akan memiliki risiko tertular Covid-19 hanya 35 persen.
"Kemungkinan kita untuk sakit Covid-19 hanya 35 persen," ujar dia.
Jumlah tersebut turun sebanyak 65 persen sebelum disuntik vaksin.
Ia juga mengingatkan bahwa protokol kesehatan masih harus diterapkan dalam situasi pandemi saat ini.
Karena konsentrasi penyebaran virus di masyarakat masih tergolong tinggi.
"Situasi di dalam masyarakat, penularannya masih sangat tinggi," ungkap Siti.
"Walau sudah divaksinasi, kita harus menerapkan protokol kesehatan."
Selanjutnya, Siti menerangkan soal antibodi yang tidak bisa secara instan terbentuk seusai menerima suntikan vaksin.
"Tidak bisa satu kali suntik pada dosis pertama maupun pada dosis kedua, itu sudah langsung membentuk antibodi yang optimal," kata Siti.
"Sehingga dalam masa pembentukan antibodi tersebut, kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan," sambungnya.
IDI: Tidak Bisa Melindungi 100 Persen
Sepaham dengan Kemenkes, sebelumnya diberitakan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menegaskan bahwa orang yang sudah divaksin masih mungkin terpapar Covid-19.
Hal itu dinyatakan oleh Juru bicara Vaksin IDI Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, dikutip dari YouTube BNPB Indonesia, Jumat (15/1/2021).
Awalnya, dr. Iris menjelaskan bahwa target dari vaksinasi saat ini adalah herd immunity atau kekebalan imunitas.
Untuk mencapai target tersebut diperlukan vaksinasi kepada 70 persen total penduduk Indonesia atau kurang lebih harus mencakup 160 juta penduduk.
Berdasarkan kalkulasi dr. Iris, proses vaksinasi di Indonesia untuk mencapai 70 persen tersebut, perlu waktu dua tahun lebih.
"Untuk mencapai itu, Indonesia butuh waktu yang bertahap karena jumlah vaksinnya yang terbatas, dan juga negara kita terdiri dari kepulauan," ujar dia.
"Karena itu tetap harus jalankan protokol kesehatan selama pandemi berlangsung walaupun kita sudah lengkap divaksinasi."
Dokter Iris mengatakan, orang yang sudah divaksin masih mungkin terpapar Covid-19.
"Vaksin tidak bisa melindungi 100 persen," kata dia.
Ia menjelaskan, setiap orang yang sudah divaksin membentuk antibodi dalam kadar yang berbeda-beda.
Namun orang yang sudah divaksin, dipastikan tidak akan mengalami gejala berat jika terpapar Covid-19.
"Seandainya kalaupun dia kena sakit Covid padahal sudah divaksinasi, itu mungkin saja," ujar dia.
"Hanya saja bilamana dia sakit, tidak seberat dengan orang yang (tidak) divaksinasi," sambungnya.
"Protokol kesehatan tetap harus dijalankan sampai pandemi berakhir," tandasnya.
Baca juga: Muncul Wacana Sertifikat Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Perjalanan, Benarkah? Ini Kata Kemenkes
Simak videonya mulai menit ke-8.30:
(TribunWow.com/Anung)