Breaking News:

Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

CVR Black Box Sriwijaya Air Belum Juga Ditemukan hingga Hari ke-6, Basarnas Ungkap Kendalanya

Sejauh ini cockpit voice recorder (CVR) atau rekaman percakapan antara pilot dengan kopilot Sriwijaya Air SJ 182 belum ditemukan hingga hari keenam.

KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Prajurit TNI AL memindahkan kantong berisi temuan puing ke KRI Tenggiri-865 saat pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (12/1/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Sejauh ini cockpit voice recorder (CVR) Sriwijaya Air SJ 182 belum juga ditemukan hingga hari keenam pascajatuhnya pesawat tersebut pada Sabtu (9/1/2021).

Badan SAR Nasional (Basarnas) masih terus berupaya mencari bagian-bagian dari pesawat Sriwijaya Air SJ-182, termasuk CVR yang merupakan bagian dari black box.

Kepastian tersebut disampaikan oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya (Purn) Bagus Puruhito dalam jumpa pers Kamis (14/1/2021).

Flight Data Recorder (FDR) pesawat Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu ditunjukkan di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (12/1/2021). FDR Sriwijaya Air SJ 182 yang ditemukan oleh tim penyelam TNI di perairan Kepulauan Seribu selanjutnya akan dibawa KNKT untuk dilakukan pemeriksaan.
Flight Data Recorder (FDR) pesawat Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu ditunjukkan di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (12/1/2021). FDR Sriwijaya Air SJ 182 yang ditemukan oleh tim penyelam TNI di perairan Kepulauan Seribu selanjutnya akan dibawa KNKT untuk dilakukan pemeriksaan. (Tribunnews.com/Irwan Rismawan)

Baca juga: Suami Korban Sriwijaya Air Ungkap Video Call Terakhir dengan sang Istri: Saya Suruh Banyak Selawat

Baca juga: KNKT Duga Mesin Sriwijaya Air Masih Hidup sebelum Jatuh, Budhi Muliawan: Berarti Ada Penyebab Lain

Dikutip TribunWow.com dari Kompas.com, Jumat (15/1/2021), Bagus mengatakan baru menemukan bagian luar dari CVR-nya.

"Soal CVR saya sudah komunikasi dengan ketua KNKT maupun panglima armada yang di lokasi, informasi yang kami dapatkan baru casingnya, bungkus atau body protector dari CVR yang ketemu," kata Bagus.

Menurutnya dapat disimpulkan bahwa beacon atau alat untuk mendeteksi keberadaan CVR sudah terlepas.

Oleh karenanya, Bagus menyebut kondisi itu diakui menyulitkan petugas dalam melacak keberadaan CVR di bawah laut.

Kendala lainnya menurutnya adalah warna air laut yang cenderung keruh.

"Permasalahan yang ada seperti kita ketahui bersama, beacon yang bisa membawa kita ke benda itu sudah lepas dari alat itu, sehingga kita gunakan cara yang relatif lebih lama dan air di bawah permukaan cukup keruh," tutur Bagus.

Baca juga: Kisah Relawan Sriwijaya Air SJ 182, Pernah Temukan Uang Rp 30 Miliar: Rescue Uang dan Manusia

Meski begitu, Bagus menyatakan kesiapannya untuk terus mencari keberadaan CVR yang dinilai bisa membuat terang penyebab jatuhnya pesawat yang diterbangkan oleh Captain Afwan tersebut.

Terlepas dari itu, dirinya mengaku tetap tidak melupakan terhadap pencarian korban dan puing-puing pesawat.

"Sekarang ini masyarakat menunggu keluarga, makanya hari ini kami fokuskan bukan hanya CVR, tapi juga korban dan puing," pungkasnya.

Black Box Sriwijaya Air Terpecah Belah saat Ditemukan

Mantan investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ruth Hanna Simatupang, menganalisis penyebab pecahnya black box (kotak hitam) yang ditemukan di antara puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Apa Kabar Indonesia di TvOne, Selasa (12/1/2021).

Diketahui kotak hitam berisi cockpit voice recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR) yang bermanfaat untuk investigasi penyebab kecelakaan.

Namun tim penyelam baru menemukan bagian FDR, sedangkan CVR masih dalam proses pencarian.

Menanggapi fakta tersebut, Ruth mencoba menganalisis penyebab kotak hitam itu tercerai-berai saat jatuh ke laut.

"Kalau melihat pecahan seperti itu dan dia bisa sampai terpisah dari kotak yang harusnya bersama, samping-sampingan," kata Ruth Hanna Simatupang.

"Saya pikir ini berarti ini benturannya sangat keras sekali," komentarnya.

Baca juga: Update Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air, Berikut Daftar Nama Jenazah Korban yang Teridentifikasi

Padahal bahan kotak hitam dipersiapkan untuk menghadapi berbagai macam kondisi, seperti kebakaran dan terbenam di dalam air.

Ruth menyinggung fakta bahwa mesin pesawat masih menyala saat jatuh ke perairan Kepulauan Seribu.

Diketahui pesawat itu jatuh dari ketinggian 10.000 kaki setelah 4 menit mengudara dari Bandara Soekarno-Hatta.

Ruth menilai pesawat Boeing 737-500 tersebut jatuh dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya menghantam permukaan laut.

"Tadi sudah dirilis oleh KNKT juga bahwa mesin masih hidup ketika menghantam laut," ungkit Ruth.

"Berarti posisi jatuhnya cepat sekali karena berhenti di 250 dari ketinggian 10.000 dengan cepat," jelasnya.

"Kemudian dia baru menghantam laut," lanjut mantan investigator KNKT ini.

Proses hantaman yang sangat cepat ini diduga menjadi penyebab kotak hitam SJ 182 terpecah-belah saat ditemukan.

"Proses itu, hantaman yang dari atas itu, yang membuat dia terlepas. 'Kan dia biasanya ada di ekor pesawat, jadi dia terlepas," kata Ruth.

"Mungkin black box-nya sudah keluar dari pesawat, ternyata belum. Begitu menghantam, baru dia terlepas. Kemungkinan begitu," tambah dia. (TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)

Artikel ini diolah dari Kompas.com dengan judul "Basarnas Ungkap Kendala Tim SAR Cari CVR Sriwijaya Air" dan "Basarnas: Fokus Evakuasi Sriwijaya Air Bukan Hanya CVR, tapi Juga Korban"

Tags:
Sriwijaya AirSriwijaya Air SJ 182Pesawat Sriwijaya Air JatuhBlack BoxBasarnas
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved