Pesawat Sriwijaya Air Jatuh
Suasana Bawah Laut Pencarian Korban Sriwijaya Air: Ada Badan Pesawat, Pakaian Bermerk, hingga Uang
Pencarian korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 masih dilakukan di perairan Kepulauan Seribu, Laut Jawa.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Pencarian korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 masih dilakukan di perairan Kepulauan Seribu, Laut Jawa.
Dilansir TribunWow.com, hal itu tampak dalam tayangan Breaking News di Kompas TV, Selasa (12/1/2021).
Diketahui tim DVI RS Polri telah menerima 56 kantong jenazah korban dalam pesawat rute Jakarta-Pontianak tersebut.

Baca juga: Gagal Naik SJ 182, 2 Calon Penumpang Pilih Kapal Laut: Sempat Cekcok dengan Kru Sriwijaya
Tim gabungan penyelam masih mencari lebih lanjut di titik yang diduga menjadi tempat jatuhnya SJ 182 di kedalaman 17 meter.
Saat pencarian berlangsung, terlihat cuaca cerah dan jarak pandang cukup jauh.
Tim evakuasi masih berfokus utama kepada pencarian korban.
Terlihat tim penyelam menemukan beberapa benda yang diduga menjadi milik penumpang maupun kru SJ 182.
Benda-benda tersebut dimasukkan ke dalam kantong yang dibawa petugas.
Tim penyelam juga menemukan serpihan-serpihan pesawat yang diduga bagian dari pesawat Sriwijaya Air.
Beberapa di antaranya berupa besi yang melengkung dengan cat berwarna putih.
Terdapat potongan-potongan serpihan pesawat yang lebih besar.
Potongan yang tidak dapat dibawa tim penyelam rencananya akan dievakuasi menggunakan kapal yang memiliki crane.
Selain itu terdapat beberapa potong pakaian yang diduga milik korban kecelakaan pesawat.

Potongan kain itu sedikit terkubur pasir yang ada di dasar laut.
Tim penyelam berputar-putar di titik tersebut untuk menemukan sisa kecelakaan pesawat Sriwijaya Air.
Termasuk di antara pakaian yang ditemukan tim penyelam, ada sepotong kain berwarna hitam dengan merk Gucci.
Tim mengambil beberapa potong kain yang mulai terbenam pasir tersebut.
Beberapa lembar uang yang diduga milik korban turut ditemukan dalam pencarian itu.
Lembaran uang itu juga dimasukkan ke kantong yang dibawa tim penyelam.
Dikutip dari Kompas.com, tim SAR penyelam profesional Brimob dan Polair menerjunkan anggotanya untuk melakukan evakuasi.
Hal itu disampaikan Katim DVI Korbrimob Polri Iptu Wahyu.
Ia menyebut ada sejumlah potongan bagian tubuh yang ditemukan.
"Temuan dari penyelam sampai hari keempat ini sudah maksimal, berupa tiga potongan tangan, satu jaringan kulit, dua rambut beserta kulit kepala, serta barang korban," kata Iptu Wahyu.
Selain itu tim SAR juga menemukan uang tunai dengan rincian tiga lembar uang pecahan Rp100 ribu dan satu lembar uang pecahan Rp50 ribu.
Lihat videonya mulai dari awal:
Keterangan Eks Pilot SJ 182
Sekjen Perhimpunan Profesi Pilot Indonesia (PPPI) Captain Koko Indra Perdana menganalisis kemungkinan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Apa Kabar Indonesia di TvOne, Senin (11/1/2021).
Diketahui pesawat jenis Boeing 737-500 Sriwijaya Air jatuh setelah mengudara 4 menit dari Bandara Soekarno-Hatta, Senin (9/1/2021) siang.
Baca juga: Kakek Kehilangan 5 Kerabat yang Naik Sriwijaya Air, dari Adik hingga Cucu: Terakhir WA di Grup
Pesawat yang mengangkut 62 orang tersebut jatuh di perairan Kepulauan Seribu.
Sebagai pilot yang pernah menerbangkan pesawat yang sama, Koko menyebut pesawat tersebut masih dalam fase kritis lepas landas (take off) saat jatuh.
"Kalau misalnya kita take off dengan normal, semua akan berjalan normal," jelas Koko Indra Perdana.
Ia lalu menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan seorang pilot saat terjadi disfungsi pada fase lepas landas.

Menurut Koko, pilot harus fokus kepada memastikan pesawat tersebut akan terbang semestinya dengan lancar.
"Bila terjadi sesuatu dengan pesawat tersebut, maka yang dilakukan seorang pilot adalah fly the aircraft. Dia akan terbangkan dulu," kata Koko.
"Setelah fly the aircraft sampai bisa menguasai terjadi sesuatu, baru solve the problem (memecahkan masalah)," terang mantan pilot Sriwijaya Air ini.
Kemudian pilot harus melaporkan kepada air traffic control (ATC) terdekat terkait kendala yang dialami.
Laporan itu menggunakan panggilan khusus yang menyatakan ada situasi darurat.
Baca juga: Kesaksian Ayah Co-Pilot Fadly Satrianto, Ibu Korban SJ 182 Tanya untuk Terakhir Kalinya: Ke Mana?
"Salah satu pilotnya memberitahukan kepada ATC atau menara pengawas bahwa kita mengalami suatu masalah," papar Koko.
"Yaitu dengan mayday call atau pan call," lanjut dia.
Pilot dan co-pilot kemudian memecahkan masalah berdasarkan buku panduan dan mengambil keputusan terbaik.
"Setelah itu kita solve the problem. Ada panduan, yaitu buku handbook, kita baca itu," ungkap Koko.
"Baru kita mengambil suatu keputusan," tambahnya.
Dalam tayangan yang sama, Koko menanggapi peringatan yang disampaikan Administrasi Penerbangan Amerika Serikat (Federal Aviation Administration atau FAA) pada 2002 lalu.
Menurut Koko, peringatan tersebut baru perlu dikhawatirkan jika pesawat yang dimaksud sudah lama tidak diterbangkan.
"Sebenarnya sepengetahuan saya bahwa pesawat tersebut, kalau ada (peringatan) dari FAA jikalau pesawat tersebut berhenti atau di ground selama beberapa waktu," kata Koko.
"Saya rasa sendiri perusahaan tersebut pasti akan melakukan langkah-langkah yang tepat untuk itu," tambahnya.
Koko meyakini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan menyelidiki penyebab kecelakaan tragis SJ 182 itu.
"Itu bisa terlihat dari maintenance lock-nya, itu yang akan dipelajari juga oleh KNKT," komentar Koko. (TribunWow.com/Brigitta)