Pesawat Sriwijaya Air Jatuh
Soroti 4 Menit Masa Kritis Sriwijaya Air pasca Take Off, Captain Koko: Saya Pernah Terbangkan
Sekjen Perhimpunan Profesi Pilot Indonesia (PPPI) Captain Koko Indra Perdana menanggapi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Sekjen Perhimpunan Profesi Pilot Indonesia (PPPI) Captain Koko Indra Perdana menanggapi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Apa Kabar Indonesia di TvOne, Senin (11/1/2021).
Diketahui pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air tersebut jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021) siang.

Baca juga: Kakek Kehilangan 5 Kerabat yang Naik Sriwijaya Air, dari Adik hingga Cucu: Terakhir WA di Grup
Pesawat tersebut hanya sempat mengudara 4 menit setelah lepas landas (take off).
Menanggapi peristiwa tersebut, Koko Indra menjelaskan proses lepas landas sebuah pesawat.
"Jadi kalau misalnya kita mau take off itu ATC Clearence mengerti kita yang namanya standard instrument departure (SID)," jelas Koko Indra Perdana.
Ia menjelaskan awak penerbangan harus mematuhi aturan ketinggian dan kecepatan sesuai yang ditentukan Air Traffic Control (ATC).
"Jadi pesawat akan follow SID, di mana di situ adalah setiap poin ada yang namanya altitude constraints (ketinggian) yang mereka akan mematuhi itu," kata Koko.
Koko menyinggung pesawat Sriwijaya Air hilang kontak dan jatuh hanya 4 menit setelah lepas landas.
Ia juga menyoroti ketinggian pesawat saat jatuh belum mencapai 10.000 kaki.
Baca juga: Warga Dengar Suara Keras Layaknya Bom saat Pesawat Sriwijaya Air Jatuh: Tiba-tiba Ada Suara Duar
Menurut Koko, beberapa menit setelah pesawat lepas landas adalah momen-momen kritis sebelum mencapai ketinggian tertentu.
"Mereka setelah take off sekitar 4 menit baru bermasalah. Di mana take off 4 menit ataupun fase di bawah (ketinggian) 10.000 adalah fase kritis," ungkap Koko.
Koko menjelaskan saat ini belum dapat dipastikan penyebab jatuhnya pesawat, baik itu terkait masalah mesin maupun cuaca buruk.
Ia menyebut hal itu baru dapat diketahui setelah dilakukan penyelidikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
"Kita tidak bisa memastikan kenapa pesawat tersebut, apakah terjadi sesuatu masalah dengan engine-nya atau cuaca, segala macam," singgung Koko.
"Itu bakal ketahuan hasil dari KNKT, di mana mereka akan membaca SVR dulu berdasarkan data record-nya," jelasnya.
Koko mengungkit dirinya pernah menerbangkan pesawat berjenis sama milik Sriwijaya Air.
Ia mengaku saat itu tidak ada masalah.
"Saya kebetulan dulu pernah terbang di Sriwijaya. Saya juga pernah menerbangkan 737-500, pesawat tersebut," ungkap Koko.
"Pesawatnya enak," tambah dia.
Lihat videonya mulai menit ke-1.45:
Proses Pencarian Black Box
Panglima Komando Armada 1 Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid memberi informasi terbaru terkait pencarian black box pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Kompas TV, Senin (11/1/2021).
Selain beberapa jenazah korban, tim gabungan sudah menemukan sejumlah puing-puing pesawat yang jatuh di area perairan Kepulauan Seribu tersebut.
Baca juga: Kesaksian Tiga Nelayan soal Detik-detik Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air, Dengar Suara Dentuman Keras
Abdul menyebutkan tim penyelam sudah dikirim ke dua titik yang diduga merupakan lokasi jatuhnya pesawat.
Ia juga menyinggung kemungkinan penemuan black box di dua lokasi ini.
"Dari dua spot yang diduga (merupakan tempat) black box, dari hasil pemeriksaan itu banyak mengalami rintangan puing-puing," ungkap Abdul Rasyid.

Ia menjelaskan langkah awal yang dilakukan tim evakuasi adalah mengangkut puing-puing pesawat.
Setelah itu baru dapat dilakukan black box.
Diketahui penemuan black box sangat krusial untuk menyelidiki penyebab kecelakaan pesawat karena merekam data penerbangan.
"Kita berencana satu tim membersihkan puing-puing itu," kata Abdul.
"Selebihnya baru akan mencari yang diduga black box," lanjutnya.
Baca juga: Beredar Foto Bayi Diselamatkan Tim SAR Disebut Korban Sriwijaya Air SJ 182, Faktanya Hoaks
Abdul mengakui keberadaan puing-puing tersebut dapat membahayakan penyelam.
Ia menekankan perlu ada kehati-hatian agar dalam proses evakuasi tidak ada korban lebih jauh.
"Puing-puing ini di bawah sangat sangat tajam, sehingga ini membahayakan penyelam," terang Abdul.
"Kita menduga kemungkinan ada spot (black box) itu di bawah puing-puing itu," jelasnya.
Untuk membantu proses evakuasi, satu buah kapal yang memiliki crane dikerahkan untuk membantu mengangkat puing-puing yang berat.
Abdul berharap penambahan armada ini dapat mempermudah pencarian.
"Kita pertambahkan salah satunya itu KRI Mentawai yang memiliki crane, karena mengenai hasil evaluasi yang kita laksanakan tanggal 10 kemarin, itu ada bagian-bagian pesawat yang berat yang menyulitkan untuk diangkat," kata Abdul.
"Mudah-mudahan kita tidak menemui itu lagi karena KRI yang memiliki itu sudah dihadirkan di lapangan," lanjutnya.
Abdul menambahkan, tidak ada kesulitan berarti dalam proses evakuasi.
"Sebenarnya kendala yang berarti tidak ada, kita hanya perlu kehati-hatian," tegasnya. (TribunWow.com/Brigitta)