Breaking News:

Pilkada Serentak 2020

Tawarkan Cara Atasi Narkoba, Gibran Rakabuming: Bandar dan Perdagangannya di Solo Harus Disikat

Gibran Rakabuming Raka mengatakan dirinya dengan Teguh Prakosa bertekad akan membasmi peredaran narkoba andai mendapatkan amanah memimpin Solo.

DOK. TIM KOMUNIKASI DAN MEDSOS G
Pasangan bakal calon wali kota dan wakil wali kota Solo, Gibran Rakabuming Raka (kiri) dan Teguh Prakosa (kanan), berpose bersama Ketua DPC PDI-P Solo FX Hadi Rudyatmo, di Kantor DPC PDI-P Solo, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2020). Gibran mengatakan dirinya dengan Teguh Prakosa bertekad akan membasmi peredaran narkoba andai mendapatkan amanah memimpin Solo. 

TRIBUNWOW.COM - Calon Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan dirinya dengan Teguh Prakosa bertekad akan membasmi peredaran narkoba andai mendapatkan amanah memimpin Kota Bengawan.

Menurut Gibran, langkah tersebut dilakukan untuk menyelamatkan para generasi bangsa, khususnya anak-anak di Kota Solo akan bahaya dari Narkoba.

Hal itu diungkapkannya dalam acara debat paslon Pilkada Solo 2020 di The Sunan Hotel Solo, Jumat (6/11/2020) yang ditayangkan langsung dalam kanal YouTube metrotvnews.

Pasangan calon (paslon) di Pilkada Solo 2020, Gibran Rakabuming Raka dengan Teguh Prakosa pada debat perdana jelang Pilkada Solo 2020, Jumat (6/11/2020).
Pasangan calon (paslon) di Pilkada Solo 2020, Gibran Rakabuming Raka dengan Teguh Prakosa pada debat perdana jelang Pilkada Solo 2020, Jumat (6/11/2020). (Youtube/metrotvnews)

Baca juga: Beda Gibran Vs Bagyo di Debat Pilkada Solo, Pengamat Sebut Ada yang Emosional dan yang Curhat

Baca juga: Debat Pilkada Solo, Gibran Keheranan Dengar Bajo Mau Bangun Rumah di Bantaran Sungai

Dalam kesempatan itu, putra sulung dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyadari bahwa angka penyalahgunaan narkoba di Kota Solo cukup mengkhawatirkan, yakni menyentuh 1,66 persen.

Termasuk di antaranya terjadi pada anak-anak atau pelajar.

Oleh karena itu, nantinya ketika menjadi Wali Kota Solo, Gibran menyatakan siap untuk menjadi dan memberikan contoh yang baik, khususnya bagi para generasi muda.

"Angka penyalahgunaan narkoba di Kota Solo cukup tinggi ada di angka 1,66 persen," ujar Gibran.

"Ke depannya, jika saya diberi amanah, saya harus memposisikan diri sebagai role model," imbuhnya.

Strategi yang ditawarkan Gibran adalah pertama menyasar lingkungan pemkot.

Dan kedua adalah lingkungan sekolah karena memang memprioritaskan kepada para pelajar.

"Kita mulai dulu dari lingkungan pemkot, tidak boleh ada ASN yang masuk ke lingkaran narkoba ini," terang Gibran.

"Kita akan lebih merutinkan program-program seperti tes urine, di sekolah dengan kerjas ama dinas-dinas terkait kita juga harus secara konsisten memberi edukasi ke anak-anak sekolah tentang bahaya narkoba ini," sambungnya.

Baca juga: Debat Perdana Pilkada Solo, Gibran Tawarkan Big Data untuk Atasi Masalah: Kita Bisa Tahu Semuanya

Tidak hanya itu tentunya juga melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam upacaya pemberantasan perdangan narkoba di Solo.

Termasuk menyikat para bandar-bandar barang haram tersebut.

"Lalu kita juga akan bekerja dengan BNN, ini bandar-bandar narkoba, perdangangan gelap narkoba di Solo harus disikat," ungkapnya.

Lebih lanjut, selain langkah represif, Gibran juga akan menggalakkan langkah preventif, yakni dengan cara menyediakan wadah untuk menampung bakat-bakat kreatifitas anak-anak muda.

"Agar anak-anak Solo mempunyai tempat untuk bisa mencurahkan kreativitasnya, saya akan membuat program kreativitas dan membuat public space agar anak-anak Solo bisa membentuk ekosistem yang produktif yang dikomandoi oleh anak-anak muda," kata Gibran.

"Saya yakin dengan space-space yang produktif seperti ini, anak muda akan terhindar dari narkoba," pungkasnya.

Simak videonya mulai menit ke- 4.10:

Beda Gaya Gibran Vs Bagyo di Debat Pilkada Solo

Dua pasangan calon (paslon) di Pilkada Solo 2020, yakni Gibran Rakabuming Raka dengan Teguh Prakosa dan Bagyo Wahyono dengan FX Supardjo mengikuti debat perdana jelang Pilkada Solo 2020.

Debat tersebut dilakukan di Hotel The Sunan, Solo, Jumat (6/11/2020).

Dilansir TribunWow.com, keduanya memulai debat dengan pemaparan visi dan misi untuk Kota Solo.

Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dan Bagyo Wahyonoi-FX Supardjo saat debat Pilkada Solo 2020 di The Sunan Hotel Solo, Jumat (6/11/2020).
Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa dan Bagyo Wahyonoi-FX Supardjo saat debat Pilkada Solo 2020 di The Sunan Hotel Solo, Jumat (6/11/2020). (KompasTV)

Baca juga: Tak Bisa Jawab Keunggulan Dirinya atas Gibran, Bagyo: Saya Tidak Punya Kapasitas untuk Menilai

Sebagai gambaran Gibran-Teguh memiliki tujuan untuk mewujudkan Kota Solo sebagai kota budaya yang modern, gesit, tangguh, kreatif dan sejahtera.

Sedangkan dari Bagyo-Wahyono meningkatkan papan, sandang, pangan (tempat, pakaian, dan makanan) di Kota Solo.

Terlepas dari visi dan misi kedua calon, Pengamat Ketatanegaraan Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto memiliki pandangan terkait perbedaan gaya dan sikap dari khususnya Gibran dengan Bagyo.

Dikutip dari TribunSolo.com, Sabtu (7/11/2020), Agus menilai ada perbedaan yang cukup mendasar.

Menurutnya, Gibran, putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu dinilai terlihat begitu emosional setiap kali menyampaikan gagasannya.

Sehingga menurutnya justru menganggu poin yang disampaikan.

"Cara memaparkan gagasanya tidak runut, kemudian tidak detail. Terburu-buru, kurang tenang. Ide-ide besar tidak bisa ditangkap secara utuh," kata Agus kepada TribunSolo.com, Sabtu (7/11/2020).

Berbeda halnya dengan Gibran, Bagyo dinilai layaknya orang ketika sedang curhat dengan temannya.

Selain itu, menurut Agus juga belum ada konsep yang nyata atas gagasan yang disampaikan oleh Bagyo.

"Seperti curhat saja, belum global. Pemimpin bicara mengenai konsep-konsep besar atau perubahan besar," tutur Agus.

Baca juga: Ngaku Nothing to Lose Lawan Bagyo di Pilkada Solo 2020, Gibran: Kalah Ya Kembali Lagi Jadi Pengusaha

Sementara itu secara keseluruhan, keduanya dinilai masih kurang dalam komunikasi publiknya.

Menurutnya kondisi tersebut tidak bisa dipungkiri lantaran keduanya belum mempunyai pengalaman dengan dunia barunya saat ini.

"Masih coba-coba, masih meraba-raba, mereka masih new comer. Beda kalau dia pernah jadi pelaku, pernah ikut organisasi partai, atau aktivis," jelasnya.

"Tidak punya pengalaman empirik soal politik, sosial, dan organisasi sehingga tidak terbiasa memaparkan gagasan besar dalam komunikasi publik," pungkasnya. (TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)

Sebagian artikel ini diolah dari TribunSolo.com dengan judul 'Debat Pilkada Solo 2020, Pengamat Kritisi Gibran yang Terlalu Emosional, Bagyo Seperti Orang Curhat'

Tags:
Pilkada Serentak 2020Gibran Rakabuming RakanarkobaBagyo WahyonoPilkada Solo
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved