Pilpres Amerika Serikat 2020
Analisis Dosen HI UNS Mengapa Trump Justru Ungguli Biden di Pilpres 2020: Melawan Api dengan Api
Melihat cara Joe Biden menanggapi serangan Trump, Dosen HI UNS menilai Trump justru lebih unggul dibandingkan lawannya tersebut.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Pada Selasa (3/11/2020), warga Amerika Serikat (AS) akan melakukan pemilihan langsung antara Joe Biden atau Donald Trump untuk menjadi Presiden AS 2020.
Beberapa hari sebelum pemilu, keduanya telah terlibat debat panas mulai dari saling menyerang satu sama lain, hingga mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.
Melihat perdebatan antara Trump dan Biden, Dosen Hubungan Internasional (HI) FISIP UNS Septyanto Galan Prakoso, S.I.P., M.Sc. melihat justru Trump berada di posisi yang lebih unggul dibandingkan Biden.

Baca juga: Alasan Sejumlah Warga Asia Berharap Donald Trump Kalahkan Joe Biden di Pilpres AS 2020
Dikutip dari YouTube TRIBUNWOW OFFICIAL, Senin (2/11/2020), analisa tersebut dilandaskan dari debat kedua calon presiden AS 2020 tersebut.
Galan melihat, strategi yang digunakan oleh Biden untuk melawan Trump dalam debat dirasa tidak cocok.
"Biden memakai cara untuk melawan Trump tidak dengan semestinya," kata dia.
Ia menyinggung soal bagaimana Biden justru membalas sifat keras Trump dengan balasan yang sama keras.
"Dia tidak menunjukkan siapa yang lebih dewasa," kata Galan.
"Karena dia melawan api dengan api."
Galan mengatakan, publik AS sudah mengerti bahwa Trump memang memiliki sifat yang vokal.
Namun di sisi lain, sifat vokal Biden yang mencoba menanggapi cecaran Trump justru dapat menjadi bumerang bagi Biden.
"Tapi saya takutnya, publik Amerika tidak melihat yang mereka inginkan," kata Galan.
"Mereka mungkin ingin presiden yang lebih cool, lebih calm."
Ia kemudian mengungkit soal mantan presiden dari partai Demokrat sebelumnya, yakni Barrack Obama.
Galan menjelaskan bagaimana Obama mampu mempertahankan sikap kalem, dan tenang ketika maju menjadi presiden AS.
Berdasarkan analisis Galan, Obama yang memiliki sifat tenang dapat meraih simpati dari masyarakat negeri Paman Sam tersebut.
Galan lalu kembali menyinggung soal ucapan 'Insyaallah' yang sempat dilontarkan oleh Biden.
Ia melihat Biden menggunakan tersebut untuk menarik simpati, namun juga digunakan sebagai sindiran terhadap Trump.
"Itu mungkin (ingin) mengambil simpati dari golongan warga muslim," kata Galan.
"Tapi di sisi lain itu juga nyindir."
"Jadi kesannya sama-sama enggak dewasa," sambung dosen yang kini tengah menempuh studi doktoral di Taiwan itu.
Melihat fakta-fakta tersebut, Galan menilai Trump justru lebih unggul dibandingkan Biden.
"Trump tetap konsisten," ungkapnya.
Baca juga: Pilpres Amerika 2020, Ini Perbedaan Kebijakaan Luar Negeri Donald Trump dan Joe Biden
Simak video selengkapnya mulai menit ke-15.00:
Debat Pertama Saling Serang
Debat perdana Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 antara Donald Trump dan Joe Biden berlangsung pada Selasa malam (29/9/2020).
Debat yang digelar selama 1,5 jam ini berlangsung kacau dan penuh emosi.
Dikutip TribunWow.com dari Kompas.com pada Rabu (30/9/2020), Donald Trump berulang kali menginterupsi Joe Biden.
Bahkan, Trump juga membully Mantan Wakil Barack Obama itu saat mengkritik sang petahana.
Misalnya ketika Biden mengkritik bahwa kebijakan Trump yang lambat mengenai Covid-19 bisa membuat lebih banyak warga meninggal dunia.
Tak terima, Trump langsung menginterupsi Biden dan menyebut intelektualitas lawannya rendah.
Hal itu diungkapkan Trump terkait Biden mendapat nilai paling buruk di kelasnya saat universitas.
“Jangan Anda memakai kata cerdas dengan saya,” ujarnya.
Berkali-kali pernyataan Biden diinterupsi oleh Trump.
Mantan Wakil Presiden ini hanya memiliki waktu yang sedikit untuk memaparkan janji kampanyenya.
“Di bawah Trump, Amerika semakin lemah, semakin sakit, semakin miskin, semakin terpecah, dan semakin penuh (dengan) kekerasan,” ujar Biden.
• Donald Trump dan Joe Biden Saling Kecam dalam Debat Capres Pertama Pemilu Amerika Serikat
Meski demikian, Biden terlihat masih mengendalikan emosinya.
Ia sempat mengungkapkan sejumlah kekesalannya karena terus disela Trump.
“Bisa diam tidak, Bung?" lanjutnya.
Dalam kesempatan itu Biden juga beberapa kali sempat membalas Trump.
Ia menyebut ayah dari Ivanka Trump tersebut sebagai presiden terburuk sepanjang sejarah.
Trump disebutnya sebagai pembohong dan penipu.
“Dia panik atau dia hanya melihat pasar saham, salah satunya, karena coba tebak, banyak orang mati dan lebih banyak lagi yang akan mati kecuali dia menjadi jauh lebih pintar, jauh lebih cepat,” ujarnya. (TribunWow.com/Anung/Mariah Gipty)