Breaking News:

Terkini Daerah

Fakta Ormas Diduga Cetak Uang Kertas, Pimpinan Ngaku Profesor hingga Banyak Pengikut

Organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang menamakan diri Kandang Wesi Tunggal Rahayang jadi sorotan.

Tayang:
KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANG
Dokumen permohonan pengajuan terdaftar yang disampaikan paguyuban Kandang Wesi Tunggul Rahayu ke kantor Kesbangpolinmas Kabupaten Garut 

TRIBUNWOW.COM - Organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang menamakan diri Kandang Wesi Tunggal Rahayang jadi sorotan.

Ormas yang berpusat di Kabupaten Garut, Jawa Barat diduga mengubah lambang negara Burung Garuda sebagai logo paguyuban.

Tak hanya itu, ormas tersebut juga mencetak uang sendiri yang digunakan untuk transaksi sesana anggotanya.

Tak Malu Lagi Mesra-mesraan dengan Lesti Kejora, Rizky Billar: Dedek Keibuan Banget Sih

Terbongkarnya ormas tersebut setelah salah satu perwakilan organisasi itu datang ke Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Garut untuk mendaftarkan lembaganya.

Bermula ingin daftar ke Kesbangpolinmas Garut

Keberadaan ormas tersebut pertama kali diketahui, saat mereka ingin mendaftarkan diti ke kantor Kesbangpolinmas Kabupaten Garut.

Kepala Kesbangpolinmas Garut, Wahyudidjaya mengatakan, saat pengecekan berkas, mereka menggunakan lambang burung garuda yang telah diubah.

"Yang kita soal mengenai gambar garuda, karena ini sebagai lambang negara dan sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2009 tentang lambang negara," kata Wahyu seperti dikutip dari Kompas.com.

Selain itu, persyaratan mereka pun dinilai tidak lengkap.

"Jangankan akta hukum dari KemenkumHAM atau mungkin surat keterangan terdaftar dari Kemendagri, akta notaris saja tidak punya," jelasnya.

Video Kecelakaan di Tol Solo-Semarang, Mobil Terbakar, Balita 4 Tahun Selamat, Ini Kronologinya

Ubah lambang negara dan buat uang sendiri

Masih dikutip dari laman yang sama, pada berkas mereka terlihat lambang Burung Garuda dibuat menghadap ke depan, padahal seharusnya menghadap ke kanan.

Selain itu, di bagian kepala Burung Garuda juga ditambahi dengan mahkota.

Pada tulisan semboyan Bhineka Tunggal Ika juga diganti dengan 'Soenata Logawa'.

Kepala Bakesbangpol Garut menunjukkan dokumen pengajuan izin Paguyuban Tunggal Rahayu yang berlogo burung Garuda, Jumat (4/9). Paguyuban Tunggal Rahayu disebut mirip dengan Sunda Empire dan telah merambah hingga Majalengka. (Tribun Jabar/Firman Wijaksana)
Kepala Bakesbangpol Garut menunjukkan dokumen pengajuan izin Paguyuban Tunggal Rahayu yang berlogo burung Garuda, Jumat (4/9). Paguyuban Tunggal Rahayu disebut mirip dengan Sunda Empire dan telah merambah hingga Majalengka. (Tribun Jabar/Firman Wijaksana) (tribun jakarta)

Tak hanya itu, mereka ternyata juga mengedarkan uang sendiri yang digunakan untuk transaksi antaranggota.

Uang itu terdiri dari pecahan 20.000, 10.000, 5.000 hingga 1.000.

"Pakai foto ketua Paguyuban Tunggal Rahayu, tapi kalau lihat desain, ini gambar Soekarno sebetulnya, tapi mukanya diedit jadi foto yang bersangkutan," kata Wahyu.

Saat Jokowi Minta Maaf ke Wapres Maruf Amin saat Acara Rapat: Hampir Kelupaan

Pimpinannya ngaku profesor padahal lulusan SMP

Wahyu mengatakan, pimpinan Paguyuban Tunggal Rahayu itu juga memakai gelar palsu.

Yakni profesor, doktor, dan sejumlah gelar lainnya.

Namun, dari hasil penelusuran yang dilakukannya, ternyata pimpinan paguyuban tersebut hanya lulusan sekolah menengah pertama (SMP).

"Ini sudah pelecehan terhadap dunia akademisi, dia mengklaim beberapa gelar."

"Mulai profesor, doktor, sampai insinyur dan beberapa gelar lainnya," ujar Wahyu sebagaimana dilansir TribunJabar.id.

Sudah banyak pengikut hingga rekrut ustaz

Jumlah pengikut paguyuban ini masih diinventarisasi, namun berdasarkan sebarannya dari dokumen yang ada di Bakesbangpol Garut ada di empat kecamatan.

Paling dominan para pengikutnya tersebar di wilayah selatan Garut.

Namun, ada juga pengikutnya yang berada di Kabupaten Bandung, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, dan Majalengka.

Di Majalengka, jumlah pengikutnya paling banyak, bahkan lokasinya berada di kampung halaman Bupati Majalengka.

"Orang yang dulu datang ke sini untuk mengurus perizinan tidak datang lagi saat kami akan konfrontir."

"Kami malah kedatangan dari Kesbang Majalengka yang menyebut di sana sudah banyak pengikutnya," jelasnya.

Tak hanya itu, sejumlah ustaz diklaim masuk sebagai pengurus bidang keagamaan.

Mirip dengan Sunda Empire

Selintas, pergerakan paguyuban tersebut hampir mirip dengan Sunda Empire yang sempat ramai jadi perbincangan banyak orang.

Pasalnya, paguyuban ini juga menjanjikan sesuatu kepada anggotanya, sama seperti Sunda Empire yang menjanjikan pencairan uang dari Bank Swiss kepada anggotanya.

"Selintas ini platformnya hampir sama dengan Sunda Empire."

"Menjanjikan sesuatu kepada anggota, termasuk anggota yang punya utang akan dilunasi oleh ketuanya," jelas Wahyu dikutip dari Kompas.com.

Tangani secara hukum

Kesbangpol sebenarnya ingin mengklarifikasi kepada organisasi tersebut terkait penggunaan lambang garuda.

Namun, orang yang mengajukan berkas tersebut tak lagi mendatangi kantor Kesbangpol.

Pihaknya juga telah melakukan rapat khusus membahas hal tersebut.

"Hasil rapat sepakat bahwa hukum menjadi prioritas untuk menangani hal ini."

"Saat ini berproses secara bertahap apakah ini ditemukan unsur pidananya atau tidak," terang Wahyu.

(Tribunnews.com/Nanda Lusiana, TribunJabar.id/Firman Wijaksana, Kompas.com/Ari Maulana Karang)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews dengan judul "Paguyuban di Garut Cetak Uang Kertas dan Ubah Lambang Negara Disebut Mirip Sunda Empire."

Sumber: Tribunnews.com
Tags:
Uang kertasTasikmalayaGarut
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved