Pilkada Serentak 2020
Partai 'Istana' Bondong-bondong Dukung Gibran di Pilkada Solo, Refly Harun: PKS Tidak Bisa Apa-apa
Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memberikan komentarnya terkait dinamika politik di Kota Solo menjelang Pilkada serentak 2020.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
TRIBUNWOW.COM - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memberikan komentarnya terkait dinamika politik di Kota Solo menjelang Pilkada serentak 2020.
Dilansir TribunWow.com, Refly Harun menilai kondisi politik di Kota Solo sudah mulai mengerucut.
Dikatakannya bahwa semua partai koalisi di istana atau di pemerintahan sudah menyatakan diri mendukung pasangan Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa.

• FX Hadi Rudyatmo Optimis Kemenangan Gibran 80 Persen dan akan Ukir Sejarah di Pilkada Solo 2020
• Dilematis dengan Pilkada Solo 2020, Refly Harun: Jangan Sampai di Solo Ada Calon Boneka
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh adanya sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan ayah dari Gibran itu sendiri.
Refly Harun mengatakan partai-partai tersebut dinilai menjadi mempunyai rasa tidak enak dengan Jokowi jika tidak mendukung Gibran di Pilkada Solo 2020.
Terbaru yang menyatakan dukungan kepada Gibran dan berkoalisi dengan PDIP sebagai partai pengusung adalah Partai Gerindra.
Padahal jika melihat ke belakang, Gerindra sendiri sebelumnya menjadi lawan abadi Jokowi atau PDIP di dua perhelatan pemilihan presiden (Pilpres).
Namun lantaran saat ini ada dua kader Gerindra yang duduk di kursi kabinet Jokowi, yakni Prabowo Subianto dan Edhi Prabowo, maka menjadi berputar arah.
"Permasalahan utamanya karena dia anak Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jadi partai-partai lain perkewoh untuk tidak mendukung Gibran Rakabuming," ujar Refly Harun.
"Akhirnya ya semua partai istana, termasuk Gerindra ya berbondong-bondong mendukung Gibran Rakabuming," jelasnya.
• Ormas Ansor Tegaskan Tak Terlibat dalam Penyerangan Acara di Solo yang Dianggap Syiah: Kami Mengecam
Bahkan dikatakannya tidak hanya partai koalisi pemerintah, partai di luar istana juga sudah ada yang menyatakan mendukung Gibran, yakni PAN.
Dengan begitu hanya ada PKS dan Demokrat yang sejauh ini masih berada di luar koalisi PDIP di Pilkada Solo 2020.
Namun yang menjadi masalah buat PKS dan Demokrat jika ingin melawan koalisi PDIP dengan menghadirkan calon adalah tidak memenuhi syarat presidential theshold, yakni 9 kursi di DPRD Kota Solo.
"Tiga partai di luar istana, PKS, PAN, dan Demokrat. PAN akhirnya goyang juga, mendukung juga," terang Refly Harun.
"Tinggal menyisakan PKS dan Demokrat yang kursinya tidak cukup," jelasnya.
Kabar terbaru, ada pihak yang mencoba mendekati PSI untuk diajak berkoalisi mencarikan penantang Gibran dan Teguh, bahkan sampai rela menawari uang sebesar Rp 1 miliar.
Namun rupanya tawaran tersebut ditolak oleh PSI dan memilih mendukung Gibran.
"Makanya kemudian ada dalam tanda kutip orang entah siapa dari partai yang tidak memiliki kursi itu mendekati PSI agar kemudian bisa menciptakan atau bisa mengajukan calon yang baru," ungkapnya.
"Sebenarnya elit daerah lokal itu juga ada yang sudah melamar mendekati PKS, tapi PKS tidak bisa apa-apa juga," pungkasnya.
• Tolak Tawaran Rp 1 M Gabung Koalisi Penantang, PSI Singgung Visi Misi Gibran: Sejarah Sudah Mencatat
Simak videonya mulai menit ke- 16.34
Merasa Dilematis, Refly Harun: Jangan Sampai di Solo Ada Calon Boneka
Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memberikan pandangannya terkait dinamika politik di Kota Solo jelang Pilkada Serentak 2020.
Dilansir TribunWow.com dalam tayangan Youtube Refly Harun, Senin (10/8/2020), dirinya mengaku merasa dilematis dengan Pilkada Solo 2020.
Seperti yang diketahui sejauh ini di Pilkada Solo 2020 baru ada pasangan Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa yang sudah dipastikan maju.

Selain itu di satu sisi bakal pasangan calon (bapaslon) Bagyo Wahyono dan FX Supardjo (Bajo) masih berjuang dari jalur independen atau non partai.
Sedangkan dari partai atau koalisi partai lain yakni PKS yang menyatakan tidak akan mendukung Gibran juga kesulitan untuk mengusung calon di Pilkada Solo 2020, tidak lain karena belum memenuhi syarat.
Karena memang harus memiliki syarat minimal 9 kursi di DPRD Kota Solo.
Dengan begitu maka ada kemungkinan hanya akan ada satu pasangan calon dan harus melawan kotak kosong di Pilkada Solo 2020.
• Muncul Gerakan Kotak Kosong Lawan Gibran, Refly Harun: Capek-capek Buat Pilkada Langsung, Aneh
Oleh karenanya, Refly Harun menegaskan tidak ingin jika nantinya justru muncul calon boneka.
Dikatakannya, calon boneka ini dimunculkan dengan tujuan untuk menjaga peluang Gibran menang di Pilkada Solo 2020.
Dirinya berpandangan bahwa pasangan boneka itu sengaja diciptakan supaya nantinya masyarakat tidak berpikir dua kali untuk tidak memilih Gibran.
Karena pilihannya jika tidak memilih Gibran, maka yang akan memenangkan Pilkada Solo 2020 justru calon boneka yang notebene adalah pasangan yang lemah.
"Kalau kita bicara kualitas berpemilu, saya berpikir agak dilematis, jangan sampai di Solo ini ada calon boneka," ujar Refly Harun.
"Jadi calon boneka itu adalah calon yang yang diciptakan agar tidak melawan kotak kosong," jelasnya.
"Kenapa begitu, karena kalau calon boneka biasanya kan calonnya lemah, maka orang akan dilematis memilih calon tersebut," jelasnya.
"Karena kalau calon tersebut menang, ya dia jadi wali kota."
• PSI Ditawari Rp 1 Miliar untuk Lawan Gibran di Pilkada Solo, PAN: Itu Orang-orang Sudah Frustasi
Lebih lanjut, menurut Refly Harun lebih baik melawan kotak kosong jika memang nanti kondisinya hanya ada calon tunggal.
Dengan begitu, maka kemenangan Gibran akan benar-benar ditentukan oleh kualitasnya, bukan karena memang terpaksa.
"Kalau memang tidak ada calon yang berkualitas ya memang lebih baik melawan kotak kosong," kata Refly Harun.
"Karena kotak kosong akan menilai kualitas calon tunggal tersebut apakah ia accepted atau tidak," jelasnya menutup.
(TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)