Kabinet Jokowi
Coba Nilai Kemarahan Jokowi Nyata atau Hanya Drama, Sudjiwo Tejo: Tidak Bisa, walau Saya Guru Akting
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat memarahi jajaran kabinetnya dalam sebuah rapat di Istana negara Jakarta, Kamis (18/6/2020).
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat memarahi jajaran kabinetnya dalam sebuah rapat di Istana negara Jakarta, Kamis (18/6/2020).
Kemarahan presiden tersebut menuai sejumlah respon dari berbagai pihak berkaitan dengan isu perombakan kabinet.
Sejumlah orang menganggap kemarahan Jokowi tersebut perlu untuk meningkatkan kinerja menterinya dalam menangani pandemi Virus Corona.
Namun beberapa orang menyangsikan bahwa kemarahan Jokowi tersebut merupakan sesuatu yang nyata dan tidak dibuat-buat.

• Gara-gara Ungkapan Ini, Jokowi Dinilai Tak Drama oleh Fahri Hamzah: Sepandai-pandainya Pak Presiden
• Jokowi Marah Sambil Bawa Teks, Effendi Gazali di ILC: Kemarahan yang Dipersiapkan Luar Biasa
Dilansir akun YouTube Indonesia Lawyers Club (ILC), Kamis (1/6/2020), pengamat politik dan seniman ternama Sudjiwo Tedjo angkat bicara terkait hal tersebut.
Meski telah lama berkecimpung di dunia akting, Sudjiwo Tedjo mengaku tidak bisa membaca ekspresi Jokowi.
Ia mengatakan tidak mampu membedakan apakah presiden saat itu hanya akting atau benar-benar marah.
"Saya tidak bisa menilai Pak Jokowi ini akting atau nggak walaupun saya guru akting dan pekerjaan saya akting," ujar Sudjiwo Tedjo.
Namun, Sudjiwo Tedjo membeberkan cara untuk melihat apakah Jokowi pada tayangan tersebut benar-benar marah atau tidak.
Ia menjabarkan bahwa jika kinerja kementerian dinilai makin baik, maka Jokowi saat itu bisa jadi benar-benar marah.
Dan kalaupun kinerja kabinet yang dibawahi Jokowi tersebut tidak membaik, maka akan dilakukan perombakan atau reshuffle.
Sebaliknya, bila kinerja kementerian tidak semakin membaik dan tetap tak ada reshuffle, maka bisa dipastikan kemarahan Jokowi dalam video sebelumnya hanyalah sebuah akting.
"Serius atau nggaknya Pak Jokowi marah ini adalah dilihat dari apakah kinerja kementerian makin baik," ujar Sudjiwo Tedjo.
"Kalau nggak makin baik apakah ada reshuffle."
"Kalau itu ada, berati kemarahan tanggal 18 Juni itu kemarahan yang serius," tandasnya.
Jokowi diketahui meluapkan kemarahannya pada para menteri saat berbicara dalam sidang kabinet paripurna.
Dalam kesempatan itu, Jokowi menyoroti sejumlah isu seperti perbaikan anggaran Covid-19 dan pemulihan ekonomi.
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke-06:31:
Kemungkinan Dibalik Isu Pergantian Kabinet
Pengamat politik dan Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya mengungkapkan adanya sejumlah kemungkinan terkait isu penggantian kabinet oleh Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi).
Ia mengatakan bahwa perombakan kabinet tersebut bisa jadi telah direncanakan sebelumnya.
Yunarto juga menyebutkan kemungkinan bahwa kemarahan Jokowi pada para menterinya tersebut sebagai sarana untuk menciptakan pra-kondisi sebelum perombakan dilakukan.
Dilansir KompasTV, Senin (29/6/2020), Yunarto menilai adanya sejumlah kemungkinan terkait isu reshuffle kabinet yang sedang marak dibicarakan.
Ia menyebutkan sudah adanya rencana terkait dengan penggantian tersebut sebelumnya.
Namun pemerintah disebut mencoba melihat reaksi bila reshuffle tersebut dilakukan nantinya.
"Ada kemungkinan juga sudah ada rencana terkait dengan reshuffle yang paling banyak dibahas," ujar Yuniarto.
"Tetapi kemudian coba diupayakan testing the water," imbuhnya.
• Soal Jokowi Marah-marah, Dahlan Iskan Ceritakan Pernah Ditegur SBY: Tetapi Tidak Disiarkan ke Publik
Ia kemudian mengungkapkan adanya sejumlah orang yang memandang isu perombakan kabinet tersebut dari dua sisi.
Satu sisi menyebutkan bahwa pemerintah harusnya dapat menyatukan para menterinya agar dapat bekerja sama dalam kondisi krisis.
Sementara itu, berlawanan dengan anggapan tersebut, sejumlah orang malah menilai bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan reshuffle.
"Karena dalam kondisi krisis Covid seperti sekarang ada dua kacamata, orang melihat harusnya konsolidasi terjadi, bukan malah perombakan kabinet," tutur Yunarto.
"Tapi ada juga yang mengatakan ini momen yang paling tepat untuk melakukan perombakan kabinet secara berani."
Ia menjelaskan bahwa ungkapan kedua dilakukan berkaitan dengan upaya untuk mencoba melihat opini masyarakat terkait hal tersebut.
"Jadi spekulasi kedua terkait dengan testing the water," terangnya.
Namun Yunarto kembali menyebutkan adanya kemungkinan bahwa pemerintah sebenarnya telah memiliki keputusan atas perombakan menteri tersebut.
Ia mengungkapkan adanya potensi bahwa kemarahan Jokowi yang terekam dalam video, merupakan upaya untuk memberi sinyal akan adanya reshuffle tersebut.
"Tapi bisa juga yang paling keras jangan-jangan keputusan sudah diambil kalau kita bicara mengenai reshuffle," ujar Yunarto.
"Tetapi kemudian merasa dibutuhkan sebuah pra-kondisi yang bisa menjelaskan termasuk di antaranya bagaimana video yang ada kemarin sehingga kemudian reshuffle betul-betul terjadi, tidak terjadi kekagetan," jelasnya.
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke-00:13:
(TribunWow.com)