Breaking News:

Terkini Internasional

Amerika Serikat Sita Impor Rambut Manusia dari China, Diduga Berasal dari Pekerja Paksa Etnis Uighur

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyita pengiriman produk rambut manusia dari China.

AFP
Para wanita yang termasuk dalam populasi masyarakat muslim Uighur di wilayah Xinjiang, China disebutkan telah disteril secara paksa atau dipasangi alat kontrasepsi tanpa sadar untuk mengendalikan populasi kaum mereka. 

TRIBUNWOW.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyita pengiriman produk rambut manusia dari China.

Dikatakan produk impor tersebut dibuat oleh pekerja paksa anak-anak atau tahanan.

Diketahui, produk-produk tersebut berasal dari wilayah Xinjiang di ujung barat China yang merupakan tempat satu juta orang Muslim Uighur ditahan.

Seorang wanita Uighur dengan anak-anak di wilayah Xinjiang, China.
Seorang wanita Uighur dengan anak-anak di wilayah Xinjiang, China. (AFP)

PBB Didesak Selidiki Upaya Pemusnahan Warga Muslim Uighur di China, Diduga Ada Pemaksaan Sterilisasi

Dilansir bbc.com, Kamis (2/6/2020), produk-produk tersebut ditahan oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS di Pelabuhan New York dan New Jersey.

Produk-produk tersebut merupakan bagian dari pengiriman produk rambut seberat 13 ton dengan nilai lebih dari 800.000 dolar atau sekitar 11,5 miliar rupiah.

"Produksi barang-barang ini merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius," kata pejabat bea cukai AS Brenda Smith.

Menurut badan tersebut,barang-barang itu berasal dari sebuah perusahaan di Xinjiang, mengindikasikan potensi pelanggaran hak asasi manusia atas pekerja anak dan hukuman penjara.

Bulan lalu, agensi pemerintah AS mengeluarkan perintah penahanan untuk semua produk dari Perusahaan Produk Rambut Meixin di Kabupaten Lop, Xinjiang.

Adapun undang-undang AS sudah lama melarang impor produk apa pun yang dibuat oleh narapidana buruh dari luar negeri.

"Perintah penahanan dimaksudkan untuk mengirim pesan yang jelas dan langsung, bahwa praktik ilegal dan tidak manusiawi tidak akan ditoleransi dalam rantai pasokan AS," kata Smith.

Sementara itu, Kedutaan AS di China mengatakan bahwa seluruh hak butuh dan warga terlepas dari etnisnya dilindungi oleh hukum.

"Hak-hak buruh yang sah dan kepentingan warga negara Tiongkok dari semua kelompok etnis, termasuk yang di Xinjiang, dilindungi oleh hukum," bunyi pernyataan tersebut.

Menyangkal hal itu, China mengatakan kamp penahanan adalah untuk melawan ekstremisme, tetapi AS, dan yang lainnya, percaya lebih dari satu juta orang, hampir semua Muslim, telah ditahan tanpa pengadilan.

Tahun lalu, sebuah dokumen yang bocor menunjukkan 15.000 orang dari Xinjiang selatan dikirim ke kamp-kamp hanya dalam satu minggu.

Halaman
123
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved