Tekini Internasional
Pemberontak Houthi di Yaman Mengaku Menembakkan Rudal ke Riyadh, Pakar Sebut Ancaman Besar bagi Arab
Pihak pemberontak Houthi di Yaman mengakui telah menembakkan rudal dan drone ke arah Riyadh, Arab Saudi.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Pihak pemberontak Houthi di Yaman mengakui telah menembakkan rudal dan drone ke arah kota Riyadh, Arab Saudi.
Hal ini dikonfirmasi oleh juru bicara militer Houthi yang mengungkapkan berita tersebut dalam sebuah tayangan di televisi.
Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah berhasil menembakkan misil tersebut ke arah markas militer Arab serta pangkalan udaranya.
Sebelumnya, koalisi yang dipimpin Arab Saudi mengatakan bahwa pihaknya telah menembak misil dan pesawat tak berawak yang diduga dikirim oleh pemberontak Houthi.
Pasalnya, senjata militer tersebut diperkirakan telah ditembakkan dari arah ibukota Yaman, Sanaa, wilayah yang menjadi daerah kekuasaan Houthi.

• AS Konfirmasi Ada Dugaan Serangan Misil Target Kota Riyadh di Arab Saudi, Hantam Sebuah Gedung
Dilansir aljazeera.com, Rabu (24/6/2020), pemberontak Houthi di Yaman mengatakan mereka telah melakukan operasi militer terbesar melawan Arab Saudi.
Pengumuman tersebut diungkapkan pada hari Selasa, setelah koalisi militer pimpinan Saudi yang memerangi pemberontak di Yaman mengatakan pihaknya telah mencegat dan menghancurkan rudal dan drone yang ditembakkan dari ibukota Yaman, Sanaa.
"Sejumlah besar rudal balistik bersayap dan drone menargetkan ibukota musuh Arab Saudi, menghantam markas dan pusat militer termasuk kementerian pertahanan dan intelijen dan Pangkalan Udara (Raja) Salman," kata juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea dalam pidato yang disiarkan televisi .
Houthi mengatakan mereka juga menargetkan situs militer di kota-kota lain termasuk Jazan dan Najran di selatan, yang dekat dengan perbatasan dengan Yaman.
Namun sejauh ini, belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban dari pihak Arab Saudi.
Sebelumnya, juru bicara koalisi yang dipimpin Saudi, Turki al Malki, mengatakan bahwa pihaknya berhasil menggagalkan serangan ke Riyadh.
"Pasukan koalisi gabungan berhasil mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi dari Sanaa menuju Riyadh dengan sengaja dalam sebuah operasi perang, " tutur Turki al-Malki.
• Ledakan Keras Terdengar di Riyadh Arab Saudi, Berasal dari Serangan Misil Kelompok Hutsi di Yemen
Menanggapi hal itu, Mamoun Abu Nowar, seorang pensiunan jenderal angkatan udara Yordania, mengatakan bahwa perkembangan terakhir adalah alasan yang cukup untuk membuat Arab Saudi merasa tidak aman terkait kecakapan militernya.
"Mencapai Riyadh dengan ketepatan itu dan menargetkan kementerian pertahanan dan beberapa pangkalan militer lainnya merupakan peningkatan besar karena kaum Houthi sekarang menang di Jawf dan beberapa bagian di Yaman," ungkap Mamoun Abu Nowar.
"Ini membuat Saudi tidak aman dan tidak stabil untuk investasi apa pun di masa depan dan itu merupakan ancaman besar bagi sistem pertahanan udara Saudi yang saya rasa agak lemah untuk mencegat rudal seperti itu."
"Mereka membutuhkan sistem THAD (Terminal High Altitude Area Defense) yang mencegat rudal di luar atmosfer," imbuhnya.
Serangan itu terjadi setelah Arab Saudi mengumumkan pada hari Senin bahwa separatis selatan Yaman telah sepakat untuk gencatan senjata setelah berbulan-bulan pertikaian.
Perjanjian tersebut bertujuan untuk menutup keretakan antara dua bekas sekutu dalam perang melawan Houthi.
Diketahui Yaman telah dilanda dalam konflik sejak 2014, ketika Houthi menguasai Sanaa, dan terus merebut sebagian besar wilayah di utara.
Pertempuran meningkat pada Maret 2015 ketika koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk memulihkan pemerintahan Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi.
• Attack Rate Kota Surabaya Melonjak, Total Kasus Covid-19 di Jawa Timur Capai 10.092 Orang
Arab Saudi menjadi sasaran melalui puluhan serangan menggunakan rudal balistik atau pesawat tak berawak tahun lalu.
Serangan tersebut sempat menghancurkan fasilitas raksasa minyak Aramco yang menghentikan setengah dari produksi minyak mentah kerajaan.
Perang yang telah berlangsung lama telah menewaskan puluhan ribu orang, yang kebanyakan warga sipil.
Perang ini juga memaksa jutaan orang keluar dari rumah mereka dalam apa yang oleh PBB disebut sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. (TribunWow.com)