Virus Corona
Sebut Surabaya Bisa Jadi seperti Wuhan, Ketua Rumpun Gugus Tugas: Ini Tak Main-main, Harus Disiplin
Kota Surabaya disebut bisa menjadi episentrum penyebaran Virus Corona seperti Kota Wuhan, China, bila warga masih abai terhadap protokol kesehatan.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Kota Surabaya disebut bisa menjadi episentrum penyebaran Virus Corona seperti Kota Wuhan, China, bila warga masih abai terhadap protokol kesehatan.
Hal ini terutama karena sebagian besar penambahan kasus positif Virus Corona di Jawa Timur berasal dari Surabaya dan sekitarnya.
Dikhawatirkan bila masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan secara disiplin, maka tingkat penyebaran virus di Surabaya akan semakin parah seperti yang terjadi di Wuhan pada permulaan pandemi.
• Jokowi Instruksikan Penanggulangan Covid-19 Difokuskan ke Jawa Timur: Betul-betul Saya Minta
Diketahui Kota Wuhan disinyalir menjadi lokasi awal penyebaran Covid-19.
Kota tersebut menjadi wilayah paling terdampak di China sebelum akhirnya virus tersebut menyebar ke seluruh dunia.
Dilansir Kompas.com, Kamis (28/5/2020), Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi menuturkan bahwa Surabaya Raya menjadi penyumbang terbesar kasus positif di Jawa Timur.
Ia menyebutkan bahwa apabila warga tidak tertib melaksanakan protokol kesehatan, maka kondisi di Surabaya bisa menjadi seperti Kota Wuhan.
"65 persen Covid ada di Surabaya Raya. Ini tidak main-main, Surabaya bisa jadi Wuhan kalau warganya tidak disiplin," kata Joni.
Untuk itu ia mengimbau masyarakat agar selalu menerapkan disiplin dengan menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
Joni juga menyinggung diperlukannya disiplin untuk selalu hidup sehat agar dapat menjaga imunitas tubuh.
"Jadi kita mutlak untuk disiplin, disiplin memakai masker, disiplin physical distancing, disiplin cuci tangan, disiplin hidup sehat," lanjutnya.
• Ungkap Alasan Jawa Timur Memiliki Banyak Kasus Baru, Doni Monardo: Potensi Klaster Sangat Tinggi
Joni yang menjabat sebagai Direktur Utama RSU dr Soetomo Surabaya tersebut mengaku sedih melihat kondisi pasar-pasar di Surabaya.
Pasalnya, pengunjung dan penjual di pasar tersebut masih ramai, namun mereka tidak memberlakukan aturan jaga jarak sehingga dapat meningkatkan potensi penularan Covid-19.
"Terus terang saya menangis melihat pasar-pasar di Surabaya. Saya bandingkan dengan keadaan di rumah sakit," kata Joni.
Menurutnya, transmission rate penyebaran Virus Corona di Surabaya mencapai angka 1,6.
Hal itu berarti dari 10 orang yang dinyatakan positif, akan menularkan virus kepada 16 orang dalam waktu satu minggu.
Oleh karenanya, Joni mengimbau agar masyarakat bersedia patuh pada aturan yang ditetapkan pemerintah terutama selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditetapkan mulai 26 Mei hingga 8 Juni 2020.
Sebagai informasi, Surabaya, Gresik dan Sidoarjo yang tergabung dalam Surabaya Raya telah menerapkan PSBB untuk ketiga kalinya.
Penetapan tersebut berdasarkan pada keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188.258/KPTS/013/202.
Perpanjangan PSBB yang dilakukan oleh pemerintah provinsi tersebut disebabkan karena masih banyaknya kasus baru yang muncul di Surabaya Raya.
Seperti data yang dicantumkan dalam situs lawancovid-19.surabaya.go.id, yang diakses pada Kamis (28/5/2020), pukul 11.00 WIB, Kota Surabaya memiliki 2.216 kasus positif.
Dengan rincian jumlah kasus positif tertinggi berasal dari Surabaya Timur dengan jumlah 758 kasus.
Sementara dari Surabaya Selatan ada 460 kasus, Surabaya Utara sejumlah 421 kasus, Surabaya Pusat 322 kasus, dan Surabaya Barat sebanyak 255 kasus positif.
Untuk jumlah pasien dalam perawatan sebanyak 1.734 pasien, dengan PDP sebanyak 1.681 dan ODP sebanyak 497 orang.
Sementara itu, Gresik masih memiliki 565 kasus dan Sidoarjo mencatat ada 153 kasus positif di daerahanya.
Dengan begitu, Surabaya Raya menyumbang sebanyak 2.934 kasus positif dari total kasus di Jawa Timur sebanyak 4.142 kasus.
Jokowi Minta Jawa Timur Diperhatikan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta segenap jajarannya untuk memberikan perhatian pada provinsi Jawa Timur yang masih memiliki tingkat penularan Virus Corona yang tinggi.
Hal tersebut disampaikannya dalam rapat terbatas mengenai percepatan penanganan Covid-19 di Istana Merdeka, Jakarta.
Dilansir akun Sekretariat Presiden, Rabu (27/5/2020), dalam rapat tersebut, Jokowi menginstruksikan sejumlah tindakan untuk ditindak lanjuti oleh jajaranya.
"Saya ingin menekankan beberapa hal untuk menjadi perhatian baik para menteri maupun ketua gugus tugas," kata Jokowi.
Awalnya, Jokowi menyinggung mengenai arus baik yang harus diantisipasi karena dapat menimbulkan potensi penyebaran virus gelombang kedua.
Jokowi lalu menekankan pada jajarannya untuk memberi perhatian penuh pada provinsi yang masih tinggi tingkat penularan virusnya.
"Kemudian yang kedua saya ingin gugus tugas dan kementerian juga fokus kepada provinsi yang memiliki kasus barunya cukup tinggi," terang Jokowi.
"Di Jawa terutama agar dibantu diberikan dukungan penuh untuk provinsi Jawa Timur, terutama yang berkaitan dengan kesiapan rumah sakit rujukan dan rumah sakit daruratnya."
Kepada Menteri Kesehatan dan Ketua Gugus Tugas, Jokowi menekankan untuk memfokuskan penanganan di Jawa Timur yang masih memiliki banyak kasus baru.
"Ini Pak Menteri Kesehatan dan Ketua Gugus Tugas betul-betul saya minta Jawa Timur menjadi perhatian," tegasnya.
Selain langkah-langkah penanggulangan penularan Virus Corona, Jokowi juga meminta untuk mempercepat uji virus pada terduga penderita.
Selain itu juga melakukan penelusuran kontak secara seksama bagi warga yang dinyatakan positif Virus Corona.
"Kemudian juga yang berkaitan dengan percepatan pengujian sampel, pelacakan untuk yang terpapar di Jawa Timur betul-betul dilakukan langkah-langkah pengendalian," imbuh Jokowi.
Lihat tayangan selengkapnya dari menit pertama:
(TribunWow.com)