Virus Corona
Fahri Hamzah: Presiden yang akan Datang Adalah Pemikul Beban Utang Paling Berat yang Pernah Ada
Wakil Ketua DPR RI Bidang Korkesra, Fahri Hamzah menyebutkan bahwa presiden yang akan datang menjadi presiden pemikul utang terberat.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Wakil Ketua DPR RI Bidang Korkesra, Fahri Hamzah menyebutkan bahwa presiden yang akan datang menjadi presiden pemikul utang terberat.
Penanggulangan pandemi Virus Corona di Indonesia telah menelan pembiayaan yang tidak sedikit.
Pemerintah terus mengucurkan dana untuk memberi bantuan di bidang kesehatan maupun untuk jaring pengaman sosial.
• Sebut Corona Jadi Alat Deteksi Kekuasaan, BEM UIN Jakarta: Apakah Pemerintah Serius Urusi Rakyat?
Karena dana yang dimiliki terbatas, Fahri menyebutkan bahwa Indonesia saat ini telah meminjam dana dari pihak luar.
Dilansir YouTube Fahri Hamzah Official, Kamis (30/4/2020), Fahri menyebutkan bahwa saat ini, Indonesia memiliki utang dengan jumlah yang sangat besar.
Bahkan besaran utang tersebut dikatakan belum pernah ada dalam catatan sejarah Indonesia selama ini.
"Kita punya uang ini juga terbatas, ini kita udah ngutang ni," tutur Fahri.
"Utang kita ini utang yang tidak pernah ada dalam sejarah," imbuhnya.
Fahri kemudian menyatakan bahwa siapapun presiden yang akan menjabat setelah era kepempinan Presiden Joko Widodo, akan menjadi presiden yang memikul utang paling berat yang pernah ada.
"Siapapun yang akan jadi presiden yang akan datang itu adalah presiden pemikul beban utang yang paling berat yang pernah ada," tegasnya.
• Blak-blakan Beri Wejangan untuk Stafsus Milenial Presiden, Fahri Hamzah: Korupsi Itu Lifestyle
Ia kemudian menyoroti perihal penggunaan uang negara tersebut.
Fahri mengimbau agar uang yang dimiliki dari hasil utang tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan yang tepat sasaran.
"Ini kita udah berutang, tapi mbok ya uangnya jangan dialirkan ke tempat yang enggak-enggak dong," kata Fahri.
Ia meminta pemerintah untuk mengalirkan dana tersebut secara tersistem ke desa-desa.
Sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara langsung.
Fahri meminta pemerintah agar tidak mengalirkan dana tersebut untuk kebutuhan yang dinilai kurang mendesak.
Contohnya pembiayaan training online seperti yang terdapat dalam manfaat Kartu Prakerja, di mana penerima kartu akan mendapat manfaat sebesar Rp 3.550.000.
Sebanyak Rp 2.550.000 akan diberikan secara tunai, sementara sisanya akan dibayarkan pada badan-badan pelatihan online.
"Jangan dikasihkan ke training dunia maya, nggak ada gunanya itu duit. Duit hangus," ujar Fahri.
"Udah gitu perusahaannya dimiliki asing nanti, dicaplok sama asing, ini kita ini udah kurus, udah sakit disedot kita ini dibawa uangnya ke luar negeri," pungkasnya.
Lhat tayangan selengkapnya dari menit ke-1:00:51:
Klarifikasi Utang Negara
Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo, menyatakan bahwa peminjaman dana yang dilakukan pemerintah merupakan hasil keputusan bersama.
Dilansir acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (21/4/2020), Yustinus memberikan klarifikasi bahwa utang yang dilakukan pemerintah telah disesuaikan dengan APBN.
"Ini karena kebutuhan kongkrit APBN yang tertuang dalam Undang-undang APBN yang diputuskan bersama DPR," jelasnya.
Meski berutang, namun Yustinus menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap berkembang.
• Buat Refly Harun Tertawa, Fahri Hamzah Sebut Jokowi Tak Paham Pemberantasan Korupsi: Mohon Maaf Ini
"Saya kira ini perlu diklarifikasi, mesti nominal utang terus bertambah tetapi rasio utang PDB (Produk Domestik Bruto) konsisten di bawah 30 persen."
"Kita berpikir statis seolah-olah kue ekonomi itu tidak pernah bertambah, tidak pernah membesar," ucap dia.
Selain itu, Yustinus meminta agar masalah utang dilihat dari sisi yang sempit.
"Sehingga ketika nominal utang dilihat dalam kacamata sempit seolah-olah utang kita menumpuk," lanjutnya.
Lalu, ia membandingkan utang yang dilakukan Indonesia dengan negara lain di mana terhitung masih aman.
Selain itu nilai utang multilateral disebut Yustinus makin kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya sejak 2000.
"Kalau dibandingkan dengan negara lain, rasio kita di 158 besar dunia jadi sangat jauh dari membahayakan, sangat jauh dari dibilang sembrono atau ugal-ugalan."
"Terlebih lagi porsi pinjaman multilateral itu semakin kecil sekarang tinggal delapan persen dari sekitar 39 persen tahun 2000 porsi," jelas dia.
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke-9:00:
(TribunWow.com/ Via/ Gypti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/fahri-hamzah-dalam-kanal-youtube-pribadinya-fahri-hamzah-official-kamis-3042020.jpg)