Virus Corona
Tuduh WHO Bias Terhadap China, Donald Trump Hentikan Pendanaan di Tengah Pandemi Virus Corona
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menangguhkan pendanaannya untuk badan organisasi kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO).
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
TRIBUNWOW.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menangguhkan pendanaannya untuk badan organisasi kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO), Selasa (14/3/2020).
Hal ini dilakukan karena Trump merasa bahwa WHO telah salah menangani dan menutup-nutupi bahaya Covid-19.
Padahal WHO telah mengumumkan virus tersebut berbahaya bagi masyarakat sejak akhir bulan Januari.
Trump menyatakan bahwa pendanaan tersebut akan ditangguhkan selama 60 hingga 90 hari, sambil menunggu peninjauan lebih lanjut dari WHO mengenai Virus Corona dan negara China.
• Hentikan Pendanaan AS untuk WHO, Trump Nilai Keseriusan Wabah Virus Corona Telah Ditutup-tutupi
Diketahui, Amerika memang telah menjadi salah satu pemberi dana terbesar pada WHO.
Tercatat bahwa tahun lalu, Amerika menyumbang hingga 400 juta dolar AS atau setara Rp 6,2 triliun untuk badan kesehatan dunia tersebut.
Dilansir tvOneNews, Rabu (15/4/2020), menurut Trump, WHO memberikan informasi yang keliru karena menyebutkan tidak perlu menutup perjalanan internasional.
Hal ini menyebabkan sejumlah negara terlambat memberlakukan larangan perjalanan lintas negara.
Trump menyebutkan bila WHO bisa menilai secara obyektif dan mengumumkan bahwa China menutup-nutupi soal wabah Covid-19 yang terjadi di negaranya, maka pandemi ini bisa lebih cepat diatasi.
Ia menyatakan bahwa seharusnya wabah ini bisa segera diatasi langsung dari sumbernya sehingga kematian tidak terjadi terlalu banyak.
Oleh sebab itu, Trump menuduh badan kesehatan tersebut memiliki bias terhadap negara China.
"Mereka terlihat sangat China sentris, mereka selalu berpihak ke China, padahal kita mendanainya," ujar Trump.
• Donald Trump Realisasikan Ancamannya, Resmi Tangguhkan Dana WHO di Tengah Pandemi Virus Corona
Sementara itu, dilansir theguardian.com, Selasa (14/4/2020), Trump menyatakan bahwa ia khawatir kedermawanan Amerika tidak dimanfaatkan secara semestinya.
"Dengan merebaknya pandemi Covid-19, kami memiliki keprihatinan mendalam apakah kemurahan Amerika telah dimanfaatkan sebaik mungkin," ungkap Trump dari kediamannya di White House.
Trump menuduh pendanaan dari Amerika tidak difungsikan dengan baik karena menurutnya, WHO telah gagal dalam menangani virus tersebut, sehingga bisa merebak ke berbagai negara.
"Kenyataannya adalah WHO gagal mendapatkan, memeriksa dan membagikan informasi secara tepat waktu dan transparan," kata Trump.
"Jika kita tidak bisa mempercayai mereka, jika ini yang akan kita terima dari WHO, negara kita akan dipaksa untuk menemukan cara lain untuk bekerja dengan negara-negara lain guna mencapai tujuan kesehatan masyarakat," sambungnya.
Trump merasa bahwa WHO telah gagal dalam menjalani tugas dasarnya, dan harus bertanggung jawab akan hal itu.
Pada hari Selasa, Trump mengeluh bahwa WHO membela tindakan pemerintah China, bahkan WHO memuji transparansi negara tersebut yang oleh Trump dianggap tidak benar.
Padahal pada Jumat (24/1/2020), Trump menyatakan dalam akun twitternya bahwa pihaknya berterima kasih pada pemerintah China atas upayanya menangani Virus Corona.
“China telah bekerja sangat keras untuk mengendalikan Virus Corona. Amerika Serikat sangat menghargai upaya dan transparansi mereka. Itu semua akan bekerja dengan baik. Khususnya, atas nama Rakyat Amerika, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Xi!" tulis Trump.
Sementara itu, pada Jumat (7/2/2020), saat WHO mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat, Trump ditanya mengenai adanya kemungkinan penyembunyian data oleh pemerintah China terkait Virus Corona yang terjadi di negaranya.
Namun Trump menyanggah dan menyatakan bahwa pemerintah China telah bekerja dengan baik.
"Tidak, China bekerja sangat keras. Dan saya pikir mereka melakukan pekerjaan yang sangat profesional. Mereka berkoordinasi dengan badan kesehatan dunia (WHO)," ujar Trump.
Bahkan pada Kamis (27/2/2020), meskipun ada banyak peringatan dari badan-badan intelijen dan penasihatnya sendiri, Trump masih meremehkan bahaya Virus Corona.
"Itu (Virus Corona) akan menghilang. Suatu hari, seperti keajaiban, itu akan hilang," katanya.
Pada akhir bulan, AS hanya melakukan sekitar 4.000 tes untuk virus corona sementara negara-negara lain telah menguji puluhan ribu orang.
Update Penyebaran Virus Corona Global
Pada Rabu (15/4/2020) pukul 15.00 WIB, sesuai dengan data worldometer.info, jumlah kasus Virus Corona di seluruh dunia bertambah menjadi 2.004.383.
Sebelumnya pada Selasa (14/4/2020), jumlah kasus Corona di seluruh dunia berada di angka 1.997.860 kasus.
Sedangkan angka kematian akibat Virus Corona pada hari ini, sudah mencapai jumlah 126.811 pasien yang dinyatakan meninggal dunia.
Lalu, pasien Corona yang dinyatakan sembuh sudah mencapai 485.303 orang di seluruh dunia.
Amerika Serikat masih menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi di seluruh dunia.
Terhitung hingga hari ini, Amerika Serikat menambah jumlah kasusnya sebanyak 360 kasus, sehingga total kasus di negara tersebut menjadi 614.214 kasus.
Kemudian untuk angka kematian di Amerika Serikat bertambah jadi 17 orang, sehingga total pasien yang meninggal dunia menjadi 26.064 orang.
Berikut 5 Negara Teratas dalam Kasus Virus Corona yang dirangkum dari situs Worldometers.info:
Global
Total Kasus: 2,004,383
Kasus Baru: 6,523
Total Kematian: 126,811
Kematian Baru: 211
Total Sembuh: 485,303
Total Kasus: 614,246
Total Kematian: 26,064
Total Sembuh: 38,820
Total Kasus: 174,060
Total Kematian: 18,255
Total Sembuh: 67,504
Total Kasus: 162,488
Total Kematian: 21,067
Total Sembuh: 37,130
Total Kasus: 143,303
Total Kematian: 15,729
Total Sembuh: 28,805
Total Kasus: 132,210
Total Kematian: 3,495
Total Sembuh: 72,600
Lihat tayangan selengkapnya dari menit pertama:
(TribunWow.com/Via)