Breaking News:

Virus Corona

Peneliti Harvard Peringati Indonesia soal Tak Terdeksinya Virus Corona, Kemenkes: Harusnya Bersyukur

Kemenkes dr Siswanto angkat bicara soal peneliti Universitas Harvard yang menyebut adanya kemungkinan tak terdeteksinya Virus Corona di Indonesia.

Penulis: Mariah Gipty
Editor: Atri Wahyu Mukti
AFP/DALE DE LA REY
Orang-orang yang memakai masker wajah menyeberang jalan di Hong Kong pada 9 Februari 2020, sebagai langkah pencegahan setelah wabah koronavirus yang dimulai di kota Wuhan di Cina. Virus yang sebelumnya tidak dikenal telah menyebabkan alarm karena kemiripannya dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang menewaskan ratusan di seluruh daratan Cina dan Hong Kong pada 2002-2003. 

TRIBUNWOW.COM - Kepala Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Siswanto angkat bicara soal peneliti Universitas Harvard yang menyebut adanya kemungkinan tak terdeteksinya Virus Corona di Indonesia.

Siswanto mengatakan, apa yang dikatakan oleh peneliti Harvard belum tentu benar.

Dilansir TribunWow.com dari Kompas.com pada Senin (10/2/2020), Siswanto menyebut penelitian itu hanya bersifat matematik.

Heboh Virus Corona, Ruben Onsu Peringatkan Betrand Peto untuk Lakukan Ini saat Kunjungi Thailand

"Penelitian Harvard itu model matematik untuk memprediksi dinamika penyebaran novel corona virus berdasarkan seberapa besar orang lalu lalang," ujar Siswanto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Ia mengatakan, Indonesia selama ini telah menemukan serta menguji laboratorium di Litbang Kemenkes terhadap 59 kasus dari 62 kasus.

Sedangkan, sisanya saat ini masih dilakukan pengujian.

Namun, Siswanto menegaskan sama sekali tidak ada pasien yang positif terserang Virus Corona.

Sedangkan, jika dihitung dengan model matematika Indonesia seharusnya diperkirakan telah menemukan 6-7 kasus positif Virus Corona.

Menurut Siswanto, seharusnya ini menjadikan semua warga Indonesia bersyukur.

Ia yakin bahwa penelitiannya sudah akurat.

"Kalau diprediksi harusnya ada 6 kasus, ternyata sampai hari ini tidak ada, ya harusnya justru kita bersyukur. Kita sudah teliti dengan benar. Itu (penelitian ahli Harvard) hanya prediksi saja," ungkapnya.

Update Korban Tewas Virus Corona 910 Orang dan 40 Ribu Terjangkit, Ini 27 Negara yang Mengonfirmasi

Sebelumnya diberitakan oleh Voa News pada Jumat (7/2/2020), jumlah korban Virus Corona di Indonesia dan Thailand yang berada jauh dari perkiraan menimbulkan kekhawatiran.

Pasalnya, Thailand dan Indonesia merupakan negara yang tidak jauh dari Wuhan China, tempat virus pertama kali ditemukan.

Apalagi, Virus Corona hingga kini sudah menewaskan lebih dari 900 orang dan telah mengjangkit hingga sekitar 39 ribu jiwa.

Ahli Epidemiologi dari Universitas Harvard, Marc Lipsitch mengatakan bahwa tidak ada kasus Virus Corona di Indonesia sangat jauh dari perkiraan.

Demikian pula Thailand yang hanya melaporkan 25 kasus.

"Indonesia telah melaporkan nol kasus, dan Anda akan mengira sudah melihat beberapa kasus," ujar Marc Lipsitch di Harvard T.H. Chan School of Public Health.

"Thailand telah melaporkan 25 kasus, tetapi Anda akan mengira akan lebih banyak," tambahnya.

Pihak Keluarga WNI Positif Virus Corona Belum Diberitahu, Mengapa? Ini Kata Dubes RI di Singapura

Marc memprediksi bahwa alat pendeteksi Virus Corona di Indonesia dan Thailand tidak bekerja dengan baik.

Menurutnya, hal itu nantinya bisa membahayakan negara-negara lain di perbatasan.

"Kasus-kasus yang tidak terdeteksi di negara mana pun berpotensi menyebarkan epidemi di negara-negara itu," ujar Marc memperingati.

Katakutan Hongkong soal Virus Corona

Warga Hong Kong kini tengah dilanda ketakutan dan kepanikan atas penyebaran wabah Virus Corona.

Virus yang bermula di Wuhan tersebut saat ini telah menimbulkan satu korban jiwa di Hong Kong dan 25 orang positif terjangkit Virus Corona.

Dikutip TribunWow.com dari video unggahan kanal YouTube South China Morning Post, Rabu (5/2/2020), demi melindungi diri mereka dari wabah Virus Corona.

Tangkapan layar kanal youtube South China Morning Post, Rabu (5/2/2020)
Tangkapan layar kanal youtube South China Morning Post, Rabu (5/2/2020) (YouTube South China Morning Post)

Ribuan warga Hong Kong rela antre berjam-jam demi membeli masker.

Pada video tersebut nampak seseorang mendirikan tenda dan tidur karena lamanya antrean pembelian masker.

Lalu nampak seorang wanita membawa peralatan masak portable di tengah antrian masker yang begitu panjang dan lama.

Potret antrian masker di Kowloon Bay, Hong Kong, Rabu (5/2/2020)
Potret antrian masker di Kowloon Bay, Hong Kong, Rabu (5/2/2020) (YouTube South China Morning Post)

 

 1.000 Pasien Corona di Wuhan Harus Berbagi Satu Toilet Saja, Lihat Potretnya

Orang pertama dalam antrean tersebut telah menanti selama lebih dari 18 jam demi membeli sebuah masker.

Manajer toko, Jerry Law mengatakan tiap orang hanya diperbolehkan untuk membeli dua box masker.

Tiap box masker dihargai sebesar HK 80 dollar atau setara dengan Rp 136 ribu.

Jerry mengatkan pihaknya menjual masker dengan harga yang sangat rendah.

Ia menegaskan tidak akan mengambil keuntungan dari penjualan masker tersebut.

"Kita tidak akan mengambil keuntungan dari masker-masker tersebut," kata Jerry.

Meskipun masker tersebut tetap akan dibeli dengan harga mahal, Jerry enggan memanfaatkan kondisi panik untuk meraup keuntungan.

Eric Ng, seorang pembeli masker mengatakan dirinya tidak yakin masker yang ia beli dapat melindunginya dari Virus Corona.

"Tidak tertulis di bungkusnya (material anti bakteri)," kata Eric.

Ia mengatakan meskipun tidak yakin masker tersebut dapat melindunginya, ia akan tetap menggunakannya.

Pihak perusahaan pembuat masker mengakui mereka tidak memiliki sertifikasi formal untuk menentukan apakah produk mereka sesuai dengan standar kesehatan yang ada.

Namun gerombolan orang tetap mengantre demi masker tersebut.

Sharon Kwok yang juga mengantre demi masker, menilai pemerintah Hong Kong tidak mampu menangani wabah Virus Corona dengan baik dan membahayakan kesehatan para warga Hong Kong.

 Dokter yang Pertama Sebarkan Info Virus Corona Meninggal, Sempat Dapat Teguran dari Polisi

 

Potret antrian masker di Hong Kong dari video kanal YouTube South China Morning Post, Rabu (5/2/2020)
Potret antrian masker di Hong Kong dari video kanal YouTube South China Morning Post, Rabu (5/2/2020) (YouTube South China Morning Post)

Ia menceritakan bagaimana dirinya harus tidur di jalan demi mengantre membeli masker.

"Kita harus tidur di jalan demi membeli masker, dan harganya telah dinaikkan begitu tinggi," katanya.

Berdasarkan pengakuan Sharon, harga satu dus masker di Hong Kong bisa mencapai angka Rp 1,2 juta.

Warga Hong Kong kini semakin kesulitan untuk memperoleh masker karena stoknya yang kian menipis. (TribunWow.com/Mariah Gipty/Anung Malik)

Tags:
Virus CoronaHarvardKemenkesWuhanChina
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved