Kabinet Jokowi

Empat Kali Tolak Tawaran Posisi Menteri, Adian Napitupulu Pilih Jadi Anggota DPR: Lebih Fleksibel

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Adian Napitupulu menyebut menjadi anggota DPR lebih leluasa dibandingkan menjadi menteri.

Empat Kali Tolak Tawaran Posisi Menteri, Adian Napitupulu Pilih Jadi Anggota DPR: Lebih Fleksibel
Live Mata Najwa Trans7
Adian Napitupulu di Mata Najwa 

TRIBUNWOW.COM - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Adian Napitupulu menyebut menjadi anggota DPR lebih leluasa dibandingkan menjadi menteri.

Adian Napitupulu mengaku empat kali menolak tawaran menduduki posisi menteri dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, bekerja saat bekerja di DPR ia bisa membahas banyak hal, tak terpaku pada bidang yang ditugaskan.

Hal itu disampaikan Adian Napitupulu saat menjadi bintang tamu di acara 'Mata Najwa', Rabu (22/10/2019).

Adian Napitupulu dalam acara Mata Najwa, Rabu (23/10/2019)
Adian Napitupulu dalam acara Mata Najwa, Rabu (23/10/2019) (Tangkapan Layar YouTube Najwa Shihab)

Tolak Tawaran Jadi Menteri Jokowi, Tri Rismaharini Akui Merasa Rugi

Sebut Alasan 4 Kali Tolak Jadi Menteri, Adian Napitupulu: Sampai Minta Ampun 1000 Kali pada Jokowi

Adian mengaku dirinya tak memiliki talenta untuk menjadi seorang menteri.

"Kenapa menolak? Ya merasa bukan talenta saya, pertama itu," ucap Adian.

Adian mengaku lebih leluasa bekerja di DPR.

"Terus yang kedua, saya merasa lebih bisa bekerja leluasa di DPR," ucapnya.

Ia lantas menyinggung posisi Menteri Tenaga Kerja (Menaker).

"Misalnya gini, kalau misalnya di Kemenaker, lalu saya bicara apa? Buruh, jam kerja, cuti, apa yang terkait dengan buruh, tidak bisa bicara tentang tanah rakyat," kata Adian.

Adian juga menyinggung tentang tugas Menteri Agraria dan Tata Ruang.

"Kalau saya di agraria saya bicara tentang tanah tapi tidak bisa tentang hal lain, tentang buruh dan sebagainya," ucap Adian.

Menurutnya, saat bekerja di DPR ia dapat bebricara tentang segala hal.

"Di mana saya bisa bicara tentang semuanya? Ya di DPR, " tutur Adian.

Saat menolak tawaran menjadi menteri, Adian mengaku sadar betul apa posisi yang ia tolak.

"Artinya bahwa itu menjadi pilihan sadar saya, tidak ada intervensi apapun," kata Adian.

Menurutnya, Jokowi sempat menatapnya dengan tajam saat ia menolak posisi menteri tersebut.

"Walaupun mungkin saat itu saya melihat ekspresi wajahnya Jokowi natapnya tajam, enggak tahu untuk menegaskan ini orang serius nolak apa enggak, ya saya fine-fine aja."

"Dan terbantukan karena memang saat itu ada Mas Pratikno yang mencairkan suasana lah, seperti itu."

Terkait pernyataan tersebut, Najwa Shihab selaku pembawa acara lantas menanyakan berapa kali Adian menolak tawaran menteri.

"Anda ditawari empat kali, empat kali Anda menolak?," tanya Najwa Shihab.

Menjawab pertanyaan tersebut, Adian mengaku bahkan dirinya sampai meminta ampun pada Jokowi.

"Sampai begini-begini lah pokoknya," kata Adian.

"(Saya bilang) 'Ampun Pak Presiden saya minta ampun 1000 kali."

Adian mengatakan dirinya sadar atas kemampuan yang dimiliki.

"Saya bilang saya sadar diri saya tahu kemampuan saya, saya tahu diri saya seperti apa dan sebagainya," tutur Adian.

Lebih lanjut Adian lantas memberikan komentarnya setelah ditanya Najwa Shihab terkait pernyataan Erick Thohir, Menteri BUMN yang baru.

Kala itu, Erick Thohir menyebut Jokowi seharusnya mengutamakan pihak yang 'berkeringat' untuk dimasukkan dalam kabinet.

"Itu kata kunci yang sekarang masuk dalam kabinet Jokowi. Yang jelas saya mau mengutip Ketua Timses Jokowi, Erick Thohir yang mengatakan harus yang berkeringat yang menjadi menteri Jokowi," ucap Najwa Shihab.

"Komposisi kabinet ini mencerminkan keringat orang-orang yang bekerja kemarin tidak?," tanya Najwa Shihab.

Menurut Adian, Erick Thohir seharusnya menjelaskan makna 'keringat' yang dimaksud. 

"Nah ini juga nih, ini juga persoalan, keringetannya di mana?, tanya Adian.

"Karena di ruang AC juga bisa keringetan, yang di lapangan juga keringetan."

Menurutnya, Ercik Thohir seharusnya memberikan penegasan terkait 'keringat' yang dimaksud.

"Artinya bahwa keringat itu harus kita bedah lebih jauh lagi, keringatnya di mana? Kapan? Dan sebagainya dan berapa banyak?," tanya Adian.

"Apakah cuma 10 bulan saat pilpres berjalan atau dari 2012 dari Jokowi pindah ke Solo, 2014, 2016 atau cuma 10 bulan?," imbuh Adian mempertanyakan.

Ia lantas menyebut Erick Thohir harusnya menegaskan makna 'keringat' yang dimaksud.

"Ukuran keringat ini seharusnya Erick Thohir menjelaskan secara spesifik ukuran keringatnya seperti apa yang dia maksudkan," ucap Adian.

Ia lantas menyebut Parti Gerindra yang kini masuk dalam koalisi setelah sebelumnya berada di kubu oposisi.

"Gerindra juga berkeringat waktu lawan kita (Jokowi) kan?," ucap Adian.

"Artinya kalau tidak dijelaskan yang dimaksud keringat itu apa, mereka waktu bertarung sama kita berkeringat juga.

Gerindra Gabung Pemerintah, Edhy Prabowo Mengaku Belum Dengar Langsung Ada Pendukung Kecewa

Hormati Pilihan Gerindra Gabung dengan Pemerintah, PKS: Jangan Biarkan Aku Seorang Diri

Terkait penilaian terhadap Kabinet Indonesia Maju, Adian memberi nilai 90.

Ia memaklumi adanya kekurangan pada sejumlah hal dalam kabinet.

"Komposisi kabinet sebagai bentukan manusia pasti tidak sempurna, mungkin 90," ucapnya.

Adian menyebut tak seharusnya penilaian tersebut diberikan sebelum para menteri pilihan Jokowi bekerja.

"Ada beberapa yang mungkin kurang, tapi terlalu cepat kita menyimpulkan sekarang," kata Adian.

"Siapa sih kita yang kemudian belum melakukan apa-apa sudah kita nilai?," tanya Adian.

Menurutnya dalam mengambil suatu keputusan, Jokowi tak mungkin memuaskan semua pihak.

"Mungkin ada beberapa hal yang kurang berkenan, memangnya kita mampu menyenangkan semua orang pada saat bersamaan?," imbuh Adian.

Ia lantas menyinggung nama Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid.

"Misalkan Usman Hamid kita angkat jadi menteri, pasti ada saja yang tidak suka, pasti ada saja yang menolak dan sebagainya," tutur Adian.

Susunan kabinet Jokowi itu dinilainya sangat tepat untuk situasi negara kini.

"Artinya kita sadar bahwa kabinet ini produk manusia yang pasti jauh dari kesempurnaan, tapi untuk situasi saat ini mungkin itu yang terbaik," ujar Adian.

"Situasi lain mungkin ini tidak ideal, mungkin ini tidak tepat, tapi situasi sekarang mungkin ini yang paling tepat, per hari ini, per situasi sekarang." 

Simak video selengkapnya berikut ini menit 6.53:

(TribunWow.com)

Ikuti kami di
Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved