Kabinet Jokowi
Arief Poyuono Ogah Prabowo Disebut Pembantu Jokowi, Debat dengan Adian Napitupulu hingga Studio Riuh
Perdebatan terjadi antara politisi PDIP, Adian Napitupulu dengan Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono.
Penulis: Mariah Gipty
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Perdebatan terjadi antara politisi PDIP, Adian Napitupulu dengan Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono.
Hal itu terjadi saat acara Mata Najwa yang ditayangkan Trans7 pada Rabu (24/10/2019).
Adian Napitupulu kekeh menjelaskan bahwa Prabowo Subianto yang kini merupakan Menteri Pertahanan merupakan pembantu Presiden Jokowi.
• Dukung Jokowi, Farhat Abbas Ucapkan Selamat pada Prabowo Subianto yang Terpilih Jadi Menhan: Menawan
Sedangkan, Arief Poyuono ogah menyebut Prabowo Subianto sebagai pembantu Jokowi.
Mulanya, Adian meminta agar masyarakat jangan khawatir dengan banyaknya partai yang masuk ke dalam koalisi pemerintahan.
Menurutnya, sedikit atau banyaknya partai oposisi, kritik pada pemerintah masih tetap akan terus berlanjut.
Apalagi dengan berkembangnya teknologi, terutama media sosial.
"Jangan kemudian khawatir bahwa ketika kemudian oposisinya kecil, sedikit, lalu pengawasannya jadi hilang sama sekali."
"Kemajuan teknologi sekarang itu berkah bagi ilmu demokrasi, semua orang bisa mengontrol siapapun," jelas Adian dikutip TribunWow.com dari channel YouTube Najwa Shihab.
Namun, ia menolak adanya pandangan bahwa nantinya Partai Gerindra akan kritis pada pemerintah seperti biasanya.
"Lebih menariknya apa yang ditanyakan Mbak Nana tadi mungkin enggak Partai Gerindra tetap kritis sementara Ketua Umumnya pembantu Presiden?,"
"Nggak mungkin, nggak mungkin. Kenapa? Pembantu," tegas Adian.
• Media Asing Soroti Prabowo yang Jabat Menteri Jokowi, Sebut Indonesia Marah hingga Musuh Jadi Sekutu
"Ya tetap kritis dong," bantah Arif Poyuono yang duduk di sampingnya.
Menurut Adian, kekritisan Partai Gerindra akan hilang lantaran Prabowo Subianto kini menjadi menteri.
Sedangkan, menteri bertugas membantu presiden.
Namun, Arif menolak penggunaan istilah pembantu hingga terjadilah perdebatan antar keduanya.
Bahkan, mereka terlihat saling tunjuk mempertahankan argumen masing-masing.
"Ya tetap pembantu juga," kata Adian
"Bukan pembantu, pengabdi pada negara," balas Arif.
"Pengabdi ya pembantu," kata Adian
"Ya abdi ya mbantu," imbuhnya.
Arief memilih menggunakan kata mengabdi lantaran Prabowo Subianto bekerja bagi negara.
Lantaran presiden sendiri merupakan suatu simbol negara.
"Mengabdi pada negara, presiden simbol?," kata Arif
"Mengabdi pada negara melalui Jokowi kan begitu" balas Adian.
• Buru-buru Ingin Tengok Kantor Kementerian, Prabowo Subianto Mengaku akan Pelajari Situasi
"Loh negara sama dengan presiden," kata Arif lagi.
"Lewat Jokowi," balas Adian.
"Bukan mandat person to person, tetapi mengabdi pada negara," jelas Arif.
Saat kedua politisi itu berdebat, para penonton maupun bintang tamu acara Mata Najwa sampai tertawa melihat perdebatan yang justru dianggap lucu.
Tak ingin terus berdebat, lantas Adian merasa Partai Gerindra tak akan kritis lantaran yang menjadi menteri adalah ketua umumnya sendiri.
"Tetapi itu saya pikir agak sulit ya, karena Ketua Umum akan berbeda kalau Ketua Umumnya tidak jadi menteri, jadi lain, tetep kontrol dalam kekritisan partai walau di bagian dari kabinet, bagian dari koalisi," ungkap Adian
"Nah begitu ketua umumnya jadi menteri, hilang, ndak akan jadi kritis," sambungnya.
"Bisa," bantah Arif.
"Endak bisa," kata Adian lagi.
"Bisa," bantah Arif lagi.
Lihat videonya mulai menit ke-6:30:
Adian Napitupulu Tolak Jadi Menteri Jokowi
Politisi PDIP Adian Napitupulu mengungkapkan alasan mengapa dirinya menolak tawaran menjadi menteri.
Dilansir oleh TribunWow.com, hal tersebut ia sampaikan dalam acara Mata Najwa, Rabu (23/10/2019).
Awalnya, presenter Najwa Shihab lebih dulu meminta Ketua DPP PKS Aboe Bakar Al Habsyi memberikan penilaian terkait komposisi menteri Jokowi.

• Buru-buru Ingin Tengok Kantor Kementerian, Prabowo Subianto Mengaku akan Pelajari Situasi
• Menteri Edhy Prabowo ke Pegawai KKP: Saya Diterima atau Ditolak? Saya Datang Kok Diam, Kenapa Ini?
"Oposisi kasih nilai berapa komposisi menteri hari ini yang dilantik," tanya Najwa Shihab.
"Kalau oposisi enggak boleh kasih nilai baik selalu," ujar Aboe bakar.
"Jadi paling tidak saat ini kita kasih 50 persen lah ya, kalau nilainya 10 terbaik, ya 5,5 lah," imbuhnya.
Najwa Shihab lantas menyebut itu angka yang sangat kecil.
"Tidak lulus itu kalau 5,5, " celetuk Najwa Shihab yang diiyakan oleh Aboe Bakar.
"Masih masuk, masih lah sedikit," jawab Aboe Bakar.
Najwa Shihab kemudian menanyakan siapa tokoh menteri menurut Aboe Bakar yang memiliki track record bagus dan paling menarik.
Aboe Bakar kemudian menyebut tokoh yang paling menarik adalah para profesional.
Seperti Mantan Kepala RSPAD Gatot Soebroto dokter Terawan.
"Seperti Terawan itu kan memang seorang dokter yang profesional, Pak Basuki oke, memang bidangnya, Erick oke lah ya, ketua tim sukses, dia mengerti tentang ekonomi" ucap Aboe Bakar.
"Cuma yang paling menarik Nadiem ini, Nadiem ini ceritanya apa, ujung-ujungnya ke pendidikan."
"Tapi mungkin ada pembicaraan 'spesial' dengan Pak Jokowi kali ya," sambungnya.
Najwa Shihab kemudian menanyakan soal politisi yang menjadi menteri.
Aboe Bakar mengatakan, dari partai ada yang bagus.
• Ditanya soal Prabowo, Mahfud MD Cerita Pernah Pimpin Jenderal saat Jadi Menhan: Saya Deg-degan
"Tapi ternyata apabila kita ini setelah pemilu bersatu juga, rasanya kita bagi-bagi duit saja kemarin," ungkapnya.
"Bagi-bagi ada berapa triliun, di bagi buat ini, ini, enggak usah repot-repot pemilu, mati banyak sampai berapa itu 600, 700."
Najwa Shihab kemudian menanyakan kepada Adian Napitupulu yang pernah menolak tawaran jadi menteri.
"Adian Anda kan ditawari menteri tapi menolak, kenapa? Jarang orang yang menolak ditawari menteri," tanya Najwa Shihab.
Menjawab hal itu, Adian Napitupulu langsung membeberkan alasannya.
"Kenapa menolak? Ya saya merasa bukan talenta saya saja, pertama itu," jawab Adian Napitupulu.
"Kedua saya merasa lebih bisa bekerja leluasa di DPR."
"Kalau misalnya gini, kalau misalnya di kemenaker gitu ya, lalu saya bicara apa? Buruh, jam kerja, cuti, apa yang berkaitan dengan buruh."
"Tapi kan kan enggak bisa bicara tentang ranah rakyat, kalau saya di agraria saya bicara tentang tanah, atau segala macam."
"Tapi tidak bisa bicara hal lain tentang buruh dan sebagainya, di mana saya bisa bicara semuanya? Ya di DPR," ungkap Adian Napitupulu.
Ia mengakui bahwa menolak jadi menteri dan tetap menjadi DPR adalah pilihan sadarnya.
"Tidak ada paksaan, tidak ada intervensi apapun," beber Adian Napitupulu. (TribunWow.com)