Idul Adha
Niat Puasa Dzulhijjah Hari ke-5 Selasa 6 Agustus 2019, Pahala Terlepas dari Munafik dan Siksa Kubur
Puasa sunnah di bulan Dzulhijjah bisa dilakukan sejak memasuki bulan Dzulhijjah seperti puasa Dzulhijjah, Arafah dan puasa Tarwiyah.
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Berikut niat puasa di bulan Dzulhijah yang dimulai sejak 2 Agustus 2019.
Hari ke-5 di Bulan Dzulhijjah atau Selasa (6/8/2019), barang siapa yang mengerjakan puasa sunah akan dilepaskan dari sifat munafik dan siksa kubur.
Adapun keutamaan puasa Dzulhijjah setiap harinya berbeda-beda.
• Idul Adha 2019, Simak Tips Memilih Hewan Kurban yang Baik Berikut Ini
Tanggal 1 Dzulhijjah (2 Agustus 2019)
Allah mengampuni Nabi Adam AS di Arafah, maka yang berpuasa di hari itu akan diampuni dosa-dosanya.
Tanggal 2 Dzulhijjah (3 Agustus 2019)
Allah mengabulkan doa Nabi Yunus AS dan mengeluarkannya dari perut ikan nun, maka orang yang berpuasa di hari itu sama seperti beribadah dan berpuasa satu tahun tanpa maksiat.
Tanggal 3 Dzulhijjah (4 Agustus 2019)
Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya AS, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dikabulkan doanya.
Tanggal 4 Dzulhijjah (5 Agustus 2019)
Nabi Isa AS dilahirkan, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dihilangkan kesusahan dan dikumpulkan bersama orang mulia di hari kiamat.
Tanggal 5 Dzulhijjah (6 Agustus 2019)
Nabi Musa AS dilahirkan dan dimuliakan munajatnya, maka orang yang berpuasa di hari itu akan terlepas dari sifat munafik dan siksa kubur.
Tanggal 6 Dzulhijjah (7 Agustus 2019)
Allah membukakan pintu kebaikan semua nabi, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dipandang Allah dengan penuh rahmat dan kasih sayang.
Tanggal 7 Dzulhijjah (8 Agustus 2019)
Pintu neraka jahanam dikunci dan tidak akan dibuka sebelum berakhir pada 10 Dzulhijjah, maka orang yang berpuasa di hari itu akan dihindarkan dari 30 pintu kemelaratan dan kesukaran dan dibukakan 30 pintu kemudahan untuknya.
Adapun niat puasa Dzulhijjah adalah sebagai berikut:
"Nawaitu shauma syahri dhilhijjati sunnatan lillahi ta’ala."
Artinya, "Saya niat puasa sunah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala."
Puasa Tarwiyah dilakukan pada 8 Dzulhijjah dan Puasa Arafah dilakukan pada 9 Dzulhijjah (9-10 Agustus 2019).
Adapun niat puasa Tarwiyah adalah sebagai berikut:
نويتُ صومَ تَرْوِيَة سُنّةً لله تعالى
(Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala)
Artinya, "Saya niat puasa sunah Tarwiyah karena Allah Ta'ala."
Berikut ini niat puasa Arafah:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
(Nawaitu shouma ‘arofata sunnatan lillaahi ta’aalaa)
Artinya: "Saya Niat Puasa Sunah Arafah karena Allah Ta’ala".
Larangan Puasa di Bulan Dzulhijjah
Seperti bulan-bulan hijriyah lainnya, di bulan Dzulhijjah ada beberapa amalan puasa sunah yang dianjurkan dilaksanakan umat muslim.
Namun selain puasa sunah, ada juga puasa yang justru diharamkan di bulan Dzulhijjah.
Mengutip dari artikel Tribun Jogja, (tayang 10 agustus 2018) ternyata ulama sepakat berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw, 3 hari setelah merayakan Idul Adha umat muslim tidak boleh berpuasa.
Puasa sunah di bulan Dzulhijjah bisa dilakukan sejak memasuki bulan Dzulhijjah seperti puasa Dzulhijjah, Arafah dan puasa Tarwiyah dari tanggal 1 sampai 9.
Setelah Idul Adha dirayakan pada tanggal 10 Zulhijah, maka tiga hari setelahnya, yakni 11, 12 dan 13 adalah hari tasyrik.
Dikutip dari Tribun Jogja, pada hari tasyrik umat Islam dilarang untuk berpuasa, karena itu merupakan hari makan dan minum.
Dalam hadits disebutkan,
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim no. 1141).
Lalu bagaimana dengan orang yang terbiasa melaksanakan puasa sunah Senin Kamis, ayyamul bidh (puasa putih), serta puasa sunah lainnya?
Untuk diketahui, puasa putih dilaksanakan setiap bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 Hijriyah.
Padahal, tanggal 13 Dzulhijjah masih terhitung sebagai hari tasyrik.
Bolehkah berpuasa pada hari itu?
Menurut Syaikh Abdul Karim Khudair seperti TribunJogja.com kutip dari Rumaysho.com, puasa pada hari tasyrik tetap tak diperbolehkan, meskipun sudah terbiasa melaksanakan puasa sunah.
Menurut ulama tersebut, ada sejumlah golongan yang diperbolehkan berpuasa di hari tasyrik.
“Puasa pada hari tasyrik diharamkan kecuali bagi jamaah haji yang tidak mendapati hadyu (hewan kurban yang disembelih di tanah haram), maka ia boleh berpuasa tiga hari pada masa haji. Jika mampu, jamaah haji tersebut berpuasa sebelum hari Idul Adha. Jika tidak bisa saat itu, maka tidak mengapa berpuasa pada hari tasyriq," jelas Syaikh Abdul.
Hadits riwayat HR Bukhari nomor 1998 dijelaskan:
• Jelang Idul Adha 2019, Begini Cara Membuat Sate Kambing yang Empuk
لَمْ يُرَخَّصْ فِى أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ ، إِلاَّ لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْىَ
“Tidak diberi keringanan di hari tasyriq untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan hadyu.”
Bila tidak bisa puasa putih pada saat ayyamul bidh, yakni salah satunya tanggal 13 Zulhijah, maka boleh puasa sunah pada tiga hari lain di bulan Zulhijah, yang waktunya tidak dilarang.
Sementara itu disebutkan jika di 10 hari di awal bulan Dzulhijjah, yakni mulai 2 Agustus 2019 hingga 10 Agustus 20189nanti, dikenal sebagai hari-hari emas.
Ada beberapa amalan sunah yang bisa dilakukan di bulan Dzulhijjah.
Salah satunya adalah dengan menunaikan puasa sunah.
Banyak sekali keutamaan serta pahala selama 10 hari awal di bulan Dzulhijjah.
"Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah."
"Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan salat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan salat pada malam lailatul qadar." (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi).
(Banjarmasinpost/Noor Masrida)
WOW TODAY:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/ilustrasi-puasa-2019.jpg)